Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kita Mau Kemana


__ADS_3

Aku dan juga Mas Sadam sudah duduk di meja yang berada di sudut restoran ini. Aku menatap kearah kaca transparan yang menyuguhkan


permandangan alam di luar sana, ada air mancur setinggi 10 meter dan dibawahnya terdapat kolam air yang menampung kucuran air mancur tersebut, ada taman bunga juga terlihat nampak indah sekali. Ini untuk kali pertama aku makan di restoran


mewah, aku merasa kurang nyaman mungkin karena sudah terbiasa makan di pinggir jalan. Aku mengalihkan pandangan ke sekitar restoran ini, dari tempat duduk kami,


semua hal yang berada di ruangan ini tersapu jelas oleh manik mataku. Seorang lelaki yang masih belia berjalan kearah kami sembari membawa buku daftar menu


makanan di restoran ini, lelaki itu memberikan satu daftar menu untukku dan aku menerimanya dengan senyuman tipis pun pelayan restoran itu membalasnya dengan


tak kalah ramah.


“Ahem,” pandanganku langsung tertarik kearah Mas Sadam yang


barusan berdahem, lelaki itu menatap sang pelayan restoran tajam. Apakah


mungkin Mas Sadam merasa cemburu melihat lelaki itu tersenyum padaku? Ach, ini konyol sekali mana mungkin suamiku merasa cemburu padaku sedangkan dia tidak pernah memiliki perasan padaku. Aku mencebikkan bibir seraya menepis pikiran bodoh itu dari benak ini.


“Sayang, kamu mau memesan makanan apa?” ya, itulah panggilan


Mas Sadam padaku sekarang ‘sayang’ lelaki itu sudah mengatakannya kedua kali yang pertama di dalam mobil tadi.


“Sebentar, Mas Sadam. Saya akan membuka daftar menu terlebih


dahulu,” sahutku sembari melihat makanan apa saja yang ada di dalam restoran ini. Kedua mataku langsung membola penuh ketika mengetahui harga makanan yang sangat mahal sekali, aku mengucek kedua mataku mungkin saja salah melihat nominalnya tapi angka-angka ini tidak berubah juga.


“Sayang, bagaimana jika aku pesankan untuk kamu makan siang,”

__ADS_1


aku mengangkat pandangan menatap Mas Sadam sembari menganggukkan kepala pelan.


Sepertinya lelaki itu tahu jika aku sekarang sedang shock melihat harganya. Pelayan lelaki itu segera beranjak pergi saat sudah mengetahui apa menu yang kami pesan. Mas Sadam menatap kearah jari tanganku, entah apa yang sekarang sedang lelaki itu pikirkan. Aku langsung menarik tanganku dari atas meja kemudian menaruhnya di bawah meja agar tidak dilihat olehnya dan diam-diam aku mengamati kuku jariku apakah kotor sampai Mas Sadam memperhatikan jariku seperti ini? Tapi kuku tanganku bersih karena setelah memasak dan juga membereskan rumah aku langsung membersihkan kuku ini sebab aku


tipe wanita yang menyukai kebersihan.


“Sayang, bolehkan aku bertanya sesuatu?” aku langsung mengangkat padangan melihat Mas Sadam.


“Ya, bilang saja,” sahutku cepat.


“Apa saja yang aku katakan ketika sedang mabuk?” tanya lelaki itu padaku dengan tatapan penasaran.


“Haruskah aku berbicara jujur?” aku melihat lelaki itu mengganggukkan kepalanya. “Mas Sadam mengatakan jika sebenarnya mengetahui kalau Mbak Tasya,” ucapanku langsung terhenti ketika melihat seorang lelaki


yang tidak asing baru saja masuk melalui pintu utama restoran ini, ya itu adalah Putra-lelaki yang aku yakini memiliki hubungan dengan Mbak Tasya, tapi lelaki itu kini sedang bersama wanita lain dan jika di lihat keduanya seperti memiliki hubungan yang cukup serius, bahkan sesekali sang wanita mencubit pipi, Putra-orang yang aku curiga memiliki hubungan dengan Mbak Tasya sedangkan sang lelaki sendiri semakin mengeratkan pelukan tangannya di salah satu pinggang wanita tersebut sembari terus melangkah.


Aku mengalihkan perhatian ketika pelayan restoran menaruh pesanan kami di atas meja. Aku melihat Mas Sadam yang kini mengalihkan


pandangannya dari Putra dan melihatku dengan tatapan tidak terbaca. Aku menundukkan kepala takut, akankah lelaki itu kembali marah padaku ataukah dia masih mengira jika Putra mengenali aku? Entahlah tapi aku tidak ingin mencoba mencari tahu dari manik matanya yang gelap menyembunyikan semua pemikirannya sendiri.


“Sayang, ayo kita makan,” aku mendengarkan nada suara lembut


keluar dari bibir mas Sadam. Aku memberanikan diri mantapnya. Kenapa Mas Sadam bisa setenang ini melihat kehadiran putra bukankah dia sudah tahu jika Mbak Tasya berselingkuh dan seharusnya ia juga tahu siapa selingkuhan istrinya. Aku


mengelengkan kepala pelan mencoba menepis pemikiran itu karena ini bukan menjadi urusanku, lebih baik berpura-pura tidak tahu saja dari pada harus terlibat masalah.


“Baik,” aku langsung melahap makananku tapi sesekali aku melihat kearah meja putra yang kini sedang bercanda dengan seorang wanita

__ADS_1


bahkan keduanya juga saling bergantian menyuapi, usia wanita itu sepertinya sama denganku jika dilihat dari air mukanya. Dan dia juga lebih cantik dibandingkan Mbak Tasya tentunya.


“Sayang, apakah kamu mengenalnya?” aku tersentak kaget.


“Uhuk … uhuk … uhuk!” aku langsung memukul pelan dadaku untuk menghilangkan tersedak ini, aku terbatuk-batuk dan Mas Sadam segera menyodorkan air mineral padaku. Kini aku mulai merasakan dadaku tidak sesak seperti tadi.


“Maafkan aku, jika mengagetkan kamu, Sayang.” Aku melihat air muka menyesal saat ini sedang menyelimuti seluruh wajah Mas Sadam


“Aku yang salah, Mas karena makan dengan cepat,” dusta ku sembari mengalihkan pandangan kearah lain.


“Apa kamu mengenalnya?” tanya Mas Sadam padaku untuk kali kedua.


“Saya tidak mengenal lelaki itu, tapi lelaki itu yang selalu mengganggu saya dan mengatakan mengenal saya.”


“Aku percaya padamu,” aku meneguk saliva melihat Mas Sadam bicara dengan tersenyum. Seulas senyuman manis yang langsung menenangkan hatiku.


Aku dan juga Mas Sadam berjalan keluar dari restoran ini sesudah makan siang. Aku melangkah melewati meja dimana Putra dan juga


kekasihnya berada, Mas Sadam mengandeng tanganku dan aku melangkah dibelakangnya. Putra sedang meminum jus jeruk dengan kekasihnya manik mata kami saling bertatapan dan disaat itu juga Putra langsung tersedia minumannya sampai cairan berwarna kuning di gelas itu tumpah mengenai bajunya.


"Sayang, apa kamu tidak pa-pa," aku mendengar kekasihnya bertanya sembari mengambil beberapa helai tissue kemudian membantu Putra membersihkan tubuhnya dari jus jeruk.


Aku merasakan genggaman tangan Mas Sadam mulai terlepas dari tanganku lalu lelaki itu memindahkannya ke pundak menarik ku lebih dekat dengannya seakan takut aku jauh darinya. Aku menatap Mas Sadam yang kini sedang melihat kurus ke depan manik mata ini melihat bakal janggut yang semakin mempertegas pahatan wajahnya ingin sekali aku menyentuh rahang kokoh itu tapi tidak berani.


Mas Sadam dan juga aku sudah masuk kedalam mobil, aku memasang sabuk pengaman lalu melihat ponselku, ya beginilah ponselku selalu saja sepi tanpa ada notifikasi hahaha mungkin karena aku tidak punya banyak teman. Siapa juga yang mau berteman dengan pelayan seperti aku, senyuman getir mulai nampak di bibirku ketika kembali mengingat jika semua teman sekolahku menjauh saat mereka tahu aku bekerja sebagai pelayan. Miris sekali.


Aku mengedarkan pandangan melihat jalanan dan seketika alis ku berkerut dalam ketika menyadari jika ini bukanlah arah menuju ke rumah. Aku menengglengkan kepala melihat Mas Sadam yang masih fokus mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Mas kita mau kemana? Ini bukan arah menuju rumah?"


__ADS_2