
“Ma, Aku memang sudah berniat untuk menaruh pengawal di depan ruangan Anggun. Mereka sedang dalam perjalanan kemari,” jawab Mas Sadam sembari mengandeng tanganku. Aku merasa jika lelaki ini ingin mengatakan kalau semua akan baik-baik saja dan mulai sekarang Aku tidak sendirian.
“Terima kasih, Mas Sadam sudah mau repot melakukan hal itu. “ Aku melihatnya dengan mengulas senyuman manis.
“Anggun adalah adikku juga jadi kamu tidak perlu sungkan lagi padaku karena Aku adalah suami kamu,” sahutnya sembari membalas senyumanku.
Mereka semua pasti sudah bisa menebak jika ini semua adalah ulah Mbak Tasya. Kali ini Mama Elsa tidak membawa Liora ke rumah sakit sebab gadis kecil itu sedang ikut ke kantor bersama Papa Damar. Aku melihat perlahan tapi pasti Anggun mulai membaik kondisinya bahkan kini sudah lewat satu minggu semenjak kejadian waktu itu-waktu Mbak Tasya mengganggunya. Anggun sudah pulih kembali meskipun belum seperti semula, Aku dan juga Mas Sadam belum pulang ke rumah semenjak seminggu yang lalu. Mama Elsa membawa baju ganti kusetiap beberapa hari sekali sebab ia tidak bisa pergi ke rumah sakit karena harus menjaga Liora juga di rumah. Setiap kali pulang bekerja.Mas Sadam akan selalu menuju rumah.sakit dan menemani aku menjaga Anggun, semakin lama aku mulai merasakan perhatian Mas Sadam begitu besar pada Aku dan juga Anggun. Dan selama satu Minggu ini Mbak Tasya juga menghilang entah kemana.
Saat pertama kali Anggun mengetahui Mas Sadam menjaganya dan berada di dekatku gadis kecil itu menatapnya dengan tidak suka, entah apa yang telah dikatakan oleh Mbak Tasya pada Anggun sampai gadis kecil itu memberikan tatapan tergganggu dan juga tidak nyaman ketika melihat Aku bersama Mas Sadam namun, lambat laun perasaan tidak nyaman itu mulai terkikis ketika Anggun melihat sikap Mas Sadam yang sangat perhatian dan juga perduli pada kami berdua. Ya, Mas Sadam menunjukkan secara langsung jika apa yang dikatakan oleh Tasya adalah salah sehingga Anggun bisa menghilangkan kebencian itu hanya dalam waktu satu minggu saja.
Ceklek!
Aku mengalihkan pandangan dari Anggun setelah mendengarkan suara kenop pintu yang di putar dari luar, ya, itu adalah Mas Sadam siapa lagi. Dia baru saja pulang bekerja dan aku melihat dengan sangat jelas wajahnya yang nampak kuyu kelelahan pasti begitu banyak pekerjaan di kantor yang sudah menguras tenaganya sampai membuat wajah tampan itu terlihat letih dan juga tidak bertenaga.
__ADS_1
“Anggun, selamat sore.” Lelaki itu menyapa Adikku sembari melangkah kearah kami berdua. Dia terlihat lelah tapi masih berusaha tersenyum agar tidak membuat Aku dan juga Anggun cemas.
“Selamat sore Mas Sadam,” sahut Anggun dengan senyuman ramah.
Aku beranjak berdiri dari posisi duduk lalu menghampirinya. “Mas, apakah banyak pekerjaan hari ini?” lelaki itu menjawab dengan anggukkan kepala. “Kalau Mas Sadam merasa lelah sebaiknya pulang saja ke rumah biar Aku yang menjaga Anggun sendirian malam ini.”
“Mana mungkin aku berada di rumah sedangkan kamu di sini, Sayang.” Mas Sadam menatap Anggun dengan tersenyum lagi mencoba menyingkirkan kecemasan yang sempat tersirat di wajah Anggun.
“Mas Sadam dan juga Mbak Sifa pulang saja. Kalian berdua sudah satu minggu berada di rumah sakit dan waktu satu minggu itu sudah cukup membuat Anggun sembuh, jadi kalian pulang saja, Ya.” Aku melihat Anggun menatap kami berdua secara bergantian wajahnya terlihat memohon, sekali secara tidak langsung meminta Aku untuk menuruti keinginannya.
“Bukankah di depan ruangan ini Mas Sadam telah menyewa pengawal untuk menjaga Anggun, jadi kenapa masih merasa cemas, Anggun juga sudah di jaga oleh para Dokter, mereka terus saja memantau kondisi Anggun setiap waktu, jadi tidak perlu merasa cemas yang berlebihan. Jika Anggun sudah sembuh maka, Anggun akan ikut pulang bersama kalian berdua sebab Mbak Sifa memiliki janji pada Anggun jika akan mengajak Anggun ke rumah yang mirip dengan negeri Dongeng.” Anggun menatapku seakan dari sorot mata itu dia ingin sekali jika aku mendukung keinginannya lalu sesaat kemudian Anggun menatap wajah lelah Mas Sadam.
Anggun benar-benar peka sekali dia selalu mengamati sekitar dengan intens. “Baiklah, Mbak Sifa dan juga Mas Sadam akan pulang ke rumah, tapi Anggun harus janji jika tidak akan pernah membiarkan siapapun mengacaukan segalanya lagi. Mbak Sifa tidak akan tahan jika melihat kondisi Anggun seperti tempo hari lagi,” ucapku sembari memberikan tatapan penuh perintah.
__ADS_1
“Ok, Anggun tidak akan pernah melanggarnya dan Anggun juga tidak akan pernah mendengarkan ucapan wanita itu.” Aku melihat Anggun langsung terdiam sesaat, sepertinya Dia baru sadar jika sudah keceplosan berbicara.
“Anggun anak pintar dan juga Anak baik, Anggun pasti sudah tahu jika Mbak Sifa tidak akan pernah melakukan kesalahan yang fatal tanpa ada sebabnya dan sebab itu bukan tentang kamu tapi tentang wanita itu yang mencoba mengacaukan segalanya, Anggun belum saatnya untuk mengetahui semuanya, tapi Mbak Sifa janji jika suatu saat Anggun bertanya mengenai apapun pasti akan Mbak Sifa jawab.”
“Iya, Anggun mengerti. Sekarang Mas Sadam dan juga Mbak Sifa langsung pulang saja,” ujarnya dengan memberikan tatapan serius.
Aku dan juga Mas Sadam bergantian mengecup puncak kepala Anggun. Setelah berpamitan Aku dan juga Mas Sadam keluar dari ruangan ini, Dia tidak lupa mengandeng tanganku dan sebelum pergi Mas Sadam mengatakan pada tiga pengawal bertubuh kekar yang sudah satu minggu ini berjaga di depan ruangan Anggun kalau tidak ada yang boleh masuk kedalam ruangan ini kecuali Aku, Mas Sadam dan juga kedua orangtuanya, bahkan Mas Sadam juga menegaskan jika para perawat yang akan memeriksa Anggun haruslah orang yang sama dan bukan orang yang berbeda, sebab Mas Sadam menyuruh Dokter Heru dan juga beberapa perawat lain yang memantau kondisi Anggun setiap waktu tidak boleh ada perawat berwajah asing yang masuk kedalam ruangan Anggun berada. Mas Sadam sangat peka sekali dan dia juga tipe orang yang teliti mangkanya aku kagum dan jatuh cinta padanya, Dia selalu menyayangi anak kecil termasuk Anggun-sungguh hal ini belum pernah aku bayangan sebelumnya.
Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil ini sampai juga di depan rumah keluarga Erlanga. Aku mengerutkan kening melihat jika tidak ada Liora di rumah ini sebab jika anak kecil itu memang ada di rumah ini, Dia akan berlari menuju mobil kami berdua lalu menghamburkan pelukan padaku seperti biasanya.
“Mas, Apakah Liora berada di rumah Mama Elsa?” tanyaku pada Mas Sadam ketika lelaki itu sudah melepas sabuk pengamannya.
“Ya, Liora memang berada di rumah Mama Elsa.”
__ADS_1
Lelaki itu membantu aku membuka sabuk pengaman, kedua wajah kami saling berdekatan dan hal itu membuat aku kurang nyaman. Terdengar bunyi ‘klik’ tanda jika sabuk pengaman itu sudah berhasil di lepaskan. Mas Sadam membantu aku melepas sabuk pengaman itu tanpa melepaskan pandangannya dariku, kedua manik mata kami saling terkunci seakan tidak ada objek yang menarik lainnya untuk dilihat kecuali wajah masing-masing. Aku merasakan hembusan nafas Mas Sadam membelai hangat wajahku entah mengapa aku spontan langsung menutup mata ketika Dia mulai mengikis jarak diantara kami.