
Aku dan juga Mas Sadam melangkah menuju ke dapur sedangkan Liora lebih memilih kembali bermain bersama boneka beruang yang tempo hari dibelikan oleh Mas Sadam. Andaikan tidak ada Mas Sadam di sampingku mungkin sekarang aku sudah berlari karena penasaran dengan keadaan Mbak Tasya saat
dikerjain oleh Mama Elsa. Aku kembali teringat akan sikap Mas Sadam yang selalu marah pada Mama Elsa akhirnya aku memberanikan diri untuk memberikan saran padanya agar Mas Sadam tidak memarahi Mama Elsa sebab wanita itu adalah orang yang telah melahirkan dan juga membesarkannya selama ini bahkan aku juga berkata jika hanya Mama Elsa saja wanita yang akan mencintai Mas Sadam dalam keadaan apapun. Mas Sadam hanya diam tidak menjawab bahkan lelaki itu juga tidak menatapku sama sekali tapi tidak masalah yang penting aku sudah mencoba mengingatkannya.
Aku dan juga Mas Sadam sudah melewati pintu dapur. Aku dan juga Mas Sadam sengaja tidak menimbulkan suara supaya tahu kondisi yang sebenarnya di dalam dapur rumah ini. Kedua mataku langsung membola dengan air muka
bengong ketika melihat Mbak Tasya berteriak histeris saat cipratan dari minyak mengenai tangannya sedangkan Mama Elsa berdiri disampingnya dengan wajah santai mungkin lebih tepatnya puas melihat penderitaan Mbak Tasya.
“Ma, aku tidak sanggup menggoreng ikan ini, lihatlah minyaknya mengenai tanganku,” aku mendengar Mbak Tasya bicara dengan air muka sedih dan dia juga menunjukkan kedua tangannya yang terkena cipratan minyak goreng kepada Mama Elsa.
“Tasya bukankah baru tiga menit yang lalu kamu mengatakan jika ingin menjadi menantu yang baik untuk keluarga ini,” Aku melihat Mama Elsa bicara dengan tatapan penuh intimidasi. “jika, Mama yang menggoreng ikan itu apakah kamu tega kalau sampai Mama yang terkena cipratan minyak panas tersebut.”
“Mama, sudah tua jadi tidak masalah jika terkena minyak panas,” aku melihat wajah Mbak Tasya mulai berubah tegas dan siap untuk menindas. Aku hendak mendekat tapi Mas Sadam mencegahku seolah ia ingin melihat apa yang Mbak Tasya lakukan pada Mama Elsa.
“Apa maksud kamu, Tasya.”
“Mama, aku tidak akan berpura-pura baik karena di rumah ini hanya ada kita, aku tidak mau melakukan hal kotor dan juga rendahan seperti ini
__ADS_1
dan aku juga bukan pelayan didalam rumah ini jadi jangan pernah berani menyuruh aku memasak.” Aku menatap Mas Sadam yang kini sedang mengeraskan rahangnya
seakan ia berusaha merontokkan giginya sendiri, sorot mata lelaki itu tajam bagaikan pedang yang sudah siap melumuri seluruh tubuh Mbak Tasya dengan ketajaman pandangannya.
“Tasya, kamu jangan bersikap kurang ajar pada, Mama aku akan mengatakan semua sikap kasar kamu pada, Sadam jika dia sudah datang nanti.”
Aku melihat Mbak Tasya langsung menaruh kedua tangannya di dada dengan memberikan tatapan tajam. Dari tempat kami, Mama Elsa dan juga Mbak Tasya tidak akan bisa melihat sebab masih terdapat sekat yang memisahkan meja makan dan juga dapur dan kini kami berdiri di ruangan meja makan. Aku sungguh
tidak tahan melihat perasaan sedih yang terpancar miris dari mata Mama Elsa. Aku menatap kearah tanganku yang di genggam oleh Mas Sadam dengan sangat erat sampai aku melihat buku-buku tangan ini memutih dan merasakan rasa nyeri mulai merayapi jari-jari tanganku tapi aku hanya bisa diam sebab aku tahu Mas Sadam sedang mencoba meluapkan emosinya. Dan aku juga yakin jika lelaki ini pasti tidak sadar dengan apa yang ia lakukan barusan.
“Mama, jangan bersikap bodoh! Cukup anak lelaki, Mama saja yang bodoh karena tidak pernah mau menceraikan aku padahal kedua orangtuanya sudah mengatakan jika aku berselingkuh bahkan anak Mama yang bodoh itu tidak perduli sedikitpun dengan bukti yang kalian tunjukkan dan jika aku berada di
“Tasya, jaga ucapan kamu,” aku melihat Mama Elsa mengangkat
tangannya akan tetapi Mbak Tasya langsung menepis tangan Mama Elsa lebih dahulu.
“Jangan coba menyentuhku. Dan ingat lain kali aku tidak akan tinggal diam.”
__ADS_1
Disaat Mbak Tasya membalikkan tubuh Mas Sadam melepaskan tanganku lalu lelaki itu keluar dari persembunyiannya dan aku ikut melangkah disampingnya. Manik mata ini dengan sangat jelas melihat wajah mbak Tasya kehilangan rona merahnya seakan Sosok Mas Sadam bagaikan lintah yang menghisap semua darah di wajahnya hingga hanya meninggalkan pucat pasih di wajah cantik itu. Mbak Tasya berdiri membeku di posisinya sekarang seakan ada dua paku yang membuat kakinya menancap di atas lantai lalu aku mengalihkan pandangan melihat Mas Sadam yang langsung mempercepat langkah kakinya kini lelaki itu sudah berdiri dihadapan Mbak Tasya.
“Sa-sayang, kapan kamu datang?” aku mendengar suara Mbak Tasya langsung berubah menjadi gagap bahkan kini aku juga melihat jika wanita itu berusaha memeluk Mas Sadam tetapi lelaki itu menepis kasar tangan Tasya.
“Kau selalu melakukan hal ini pada, Mamaku,” aku mendengarkan suara berat lelaki itu membuat Mbak Tasya tersingkat kaget ia mungkin tidak mengira kalau Mas Sadam akan berbicara dengan penuh penekanan
seperti ini dan aku juga tahu kalau sekarang Mbak Tasya pasti memiliki firasat jika semua tidak akan baik-baik saja.
“Sayang, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan,” wanita itu masih mencoba mengelak tapi aku melihat Mas Sadam tidak berkerdip menatapnya.
“Apakah kamu mengira jika telinga aku ini tuli! Kau menghina wanita yang telah melahirkan ku bahkan kau juga mengatakan kami berdua bodoh,
sungguh keterlaluan,” suara keras Mas Sadam seperti ledakan yang menggema di seluruh ruangan dapur ini. Aku melangkah mendekati Mama Elsa lalu memeluknya wanita paruh baya itu menangis sedih usai di hina habis-habisan oleh menantunya.
“Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya, ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” aku melihat air mata tumpah di kedua pipi Mbak Tasya
dan kini wanita itu mulai terisak entah itu tipuan atau penyesalan karena selama ini yang aku tahu Mbak Tasya pintar sekali bersandiwara.
__ADS_1
“Hanya karena, Mama meminta kamu menggoreng ikan dan kau terkena cipratan minyak kau sampai tega menghina kedua orangtuaku! Aku sungguh tidak beruntung telah mempertahankan wanita murahan seperti dirimu, aku selama ini berpikir jika kau bisa berubah tapi ternyata itu hanya akan menjadi harapan bodoh yang selalu aku jaga untuk mempertahankan kamu, tapi sekarang tidak lagi," aku melihat Mas Sadam mengambil nafas dalam seakan lelaki itu sedang mencoba untuk menyatuhkan sederet kata yang telah lama dia pendam jauh di dasar lubuk hatinya. "Aku tidak akan bisa menerima semuanya dan aku juga tidak akan mau melihat kamu di rumah ini.”
Mas Sadam bicara melalui cela-cela giginya. Mata lelaki itu memancarkan kobaran api yang melahap seluruh tubuh Mbak Tasya. Aku mulai merasakan atmosfir di dalam dapur ini mulai berubah ketika ucapan itu keluar dari bibir Mas Sadam.