
Mendengarkan ucapan Anggun semua orang yang ada didalam ruangan ini langsung menatapku dengan penuh tanya. Mas Sadam segera meraih tanganku dan Ia membulatkan matanya ketika merasakan jika apa yang Anggun katakan tadi memang benar, tanganku dingin mirip seperti es batu.
“Sayang, kamu sakit?” tanya Mas Sadam sembari mengarahkan punggung tangannya menyentuh keningku guna untuk mengecek suhu tubuhku.
“Mas, Aku tidak sakit, Aku lapar,” ucapku jujur.
“Sifa, kalau kamu lapar ya langsung maka saja tidak perlu malu seperti itu,” ucap Mama Elsa padaku.
“Mama, makan saja dulu Liora tidak ingin jika Mama ikut sakit,” suara Liora yang lirih membuat hatiku menghangat. Dia masih sakit tapi bisa-bisanya masih mengkhawatirkan Aku.
“Mama, akan makan,” sahutku pada
Liora.
“Sudah sana makan yang banyak dan cetak cucu yang banyak juga untuk kita,” ucap Papa Damar antusias sekali.
“Pa, jangan begitu. Lihat itu menantu kamu malu.” Aku hanya menundukkan kepala sembari berjalan menuju sofa yang terdapat di dalam ruangan kamar ini.
“Liora, mau adek bayi.” Aku dengan Liora langsung menyahut dengan nada suara yang terdengar sangat antusias sekali.
“Liora, harus sembuh dahulu jika mau adek bayi.” Aku dengar Mas Sadam berbicara dan entah mengapa kedua pipiku langsung memanas mendengarkan perbincangan mereka semua.
Aku membuka rantang makanan ini, masakan Mama Elsa terlihat lezat sekali seperti biasanya tapi entah mengapa aku enggan menyentuh makanan ini padahal perutku teras lapar. Aku menatap kearah Mas Sadam yang kini masih sibuk berbicara dengan Liora, perasan ingin disuapi olehnya kembali timbul. Ada apa denganku kenapa aku selalu ingin di suapi olehnya.
__ADS_1
“Sifana, kenapa kamu masih belum menyentuh makanan ini juga. Apakah kamu tidak menyukai makanan ini Atau rasanya yang tidak enak?” tanya Mama Elsa padaku membuat lamunanku pecah dan aku menatap Mama mertuaku yang kini sudah duduk di sofa sembari melihatku dengan tatapan penuh tanya.
Aku melihat kearah Mas Sadam yang langsung melangkah menghampiriku. “Ma, yang salah itu bukan makanannya tapi Istriku ini sedang manja, jadi Ia hanya mau makan jika aku suapi,” ucap Mas Sadam sembari melihat kearah ku .
Aku menundukkan kepala merasakan pipiku memanas kembali setelah mendengarkan ucapan suamiku ini. Malu sekali dan tidak tahu diri rasanya aku ini, melihat Liora yang sakit malah Aku yang manja pada suamiku padahal Liora yang sakit saja tidak manja.
“Sifa, tumben sekali kamu manja seperti ini, biasanya juga tidak pernah,” ucap Mama Elsa padaku dan aku hanya bisa mengelengkan kepala pelan tanda tidak mengerti dengan yang terjadi padaku akhir-akhir ini.
“Ma, sudah jangan menggodanya terus nanti istriku akan kabur menjauh dari ruangan ini karena malu,” ucap Mas Sadam sembari menaruh nasi dan juga ayam goreng ke dalam piring yang sama dan tidak lupa Ia juga menambahkan sayur sop dan juga sambal terasi kesukaanku kedalam piring itu.
“Ya, sudah Mama tidak akan mengganggu lagi, kamu bisa makan sekarang.” Usai bicara aku melihat Mama Elsa kembali berdiri di samping Liora.
“Mas, kamu juga makan,” pintaku pada Mas Sadam.
Semenjak kami menikah aku sering melihat Mas Sadam tersenyum renyah seperti ini. Aku benar-benar menyukai senyuman manisnya dia tampak tampan sekali membuat hatiku tertawan dalam belenggu cintanya.
1 minggu kemudian.
Dokter Heru mengatakan jika Liora sudah bisa pulang sekarang karena kondisi Liora sudah membaik tapi masih harus kontrol ke rumah sakit sesuai jadwal. Kami semua sudah tiba di rumah keluarga Erlanga. Liora bermain seperti biasnya tapi aku selalu mengawasinya dan Anggun juga selalu mengajak istirahat jika waktu bermain sudah lebih dari 2 jam. Semua itu kami lakukan karena ingin melihat Liora sembuh dengan cepat.
“Sifana,” panggil Mama Elsa padaku ketika aku baru saja menuruni anak tangga rumah ini.
“Ya, Ma ada apa?” tanyaku pada Mama Elsa.
__ADS_1
“Anggun sudah lama libur sekolah apakah tidak secepatnya saja kita daftarkan dia masuk sekolah dasar,” jelas Mama Elsa padaku. Kami berdua duduk di ruang tamu rumah ini.
“Ma, aku sudah memikirkan semuanya, nanti ketika Liora masuk TK maka Anggun juga akan masuk sekolah, lagi pula Anggun tidak akan ketinggalan mata pelajaran karena guru Anggun sekolah dulu selalu mengajarinya lewat online,” ucapku pada Mama Elsa.
“Apakah itu benar? Tapi Mama Elsa tidak pernah melihat Anggun belajar satu kali pun,” tanya Mama Elsa padaku sembari mengerutkan keningnya dengan tatapan tidak yakin.
“Anggun, anak yang cerdas. Dia tidak pernah lama mengerjakan tugas tidak seperti anak umum lainnya,” jelas ku pada Mama Elsa dan wanita paruh baya itu langsung mengganggukkan kepalanya setuju.
“Ma, Liora sudah membaik bagaimana jika besok kita pergi ke makam itu,” ucapku tidak menjelaskan secara gamblang karena Aku tahu Mama Elsa pasti mengerti dengan arti ucapanku barusan.
“Tadi, Mama juga sudah berpikir seperti itu karena besok juga hari libur.” Aku melihat Mama Elsa menundukkan kepalanya dan Aku tahu wanita paruh baya ini pasti menangisi cucunya yang tidak pernah Ia lihat wajahnya.
Untung saja sekarang siang hari Liora dan juga Anggun sedang beristirahat didalam kamar mereka. Aku memeluk Mama Elsa dan ikut menangis bersamanya. Mungkin saat Mbak Tasya mengandung dan melahirkan aku belum mengenal mereka karena aku masih belum bekerja di rumah ini akan tetapi entah mengapa aku bisa merasakan kesedihan dan juga kehilangan yang mereka rasakan sekarang. Kami semua tidak pernah menjenguk Mbak Tasya di penjara bahkan membicarakan namanya saja sudah tidak pernah penghuni rumah ini lakukan, bahkan Liora juga tidak pernah menanyakan kabar tentang wanita itu mungkin dia sudah terlalu kecewa jadi melenyapkan nama Mbak Tasya dihatinya.
Keesokan harinya.
Kami semua baru saja melakukan sarapan pagi. Kami berbincang-bincang sesaat di teras rumah kemudian bersiap untuk pergi ke pemakaman umum.
“Mama Sifa, kita mau pergi kemana? Kenapa semuanya memakai baju serba hitam?” tanya Liora padaku sembari mengandeng tangan ini.
Aku menatap kearah Mas Sadam sesaat kemudian kembali melihat kearah Liora sembari berkata. “Kita akan pergi ke makam saudara kamu,” jelas ku padanya.
Aku melihat Liora mengerutkan keningnya sembari menatapku lalu berkata, “Saudara? Siapa itu kenapa Liora baru tahu.” Aku hanya tersenyum kecil mengetahui jawaban dari Liora barusan, aku sudah bisa menebak apa yang akan bocah pintar ini katakan.
__ADS_1
Aku terdiam, dan aku tidak ingin menjawab Liora karena itu bukan kapasitas ku lebih lagi aku takut jika salah bicara. Aku melirik kearah Mas Sadam dan juga Mama Elsa secara bergantian meminta bantuan pada kedua orang itu untuk menjelaskan pada Liora secara langsung.