Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Sadam Berusaha Bersikap Adil


__ADS_3

Saat berada di dalam kamar Mama Elsa mengatakan padaku penyesalan di hatinya karena kejadian semalam, tapi aku meyakinkannya jika itu tidak masalah sebab bukan kesalahan Mama Elsa. Aku juga tahu kalau wanita paruh baya itu ingin diriku lebih dekat dengan putranya tapi siapa sangka malah kejadian tidak menyenangkan yang menyelimuti malam kami waktu itu. Selang beberapa waktu terdengar suara ketukan pintu dari depan ruangan kamarku, aku hendak membuka pintu akan tetapi Mama Elsa sudah lebih dahulu berdiri dari posisi duduknya melangkah membukakan pintu kamar ini.


“Ada apa?” aku mendengar Mama Elsa bertanya pada sosok yang tidak asing di ingatanku, ya itu adalah Mas Sadam.


“Ma, bolehkan aku bicara dengan, Sifana?” aku melihat Mama Elsa menatapku seakan wanita paruh baya itu sedang meminta ijin lalu aku mengganggukkan kepala pelan dan bersamaan dengan itu Mama Elsa langsung membuka lebar pintu kamar membiarkan putranya masuk.


Aku berdiri dari posisi dudukku berdiri dihadapan Mas Sadam akan tetapi aku masih enggan melihatnya dan lebih memilih untuk menundukkan kepala menatap lantai kamar ini yang berwarna putih tulang. “Ada apa, Mas Sadam mencari saya?” tanyaku tanpa menatapnya.


Aku mendengar lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan


melihat sikapku padanya. “Sifana, mulai malam ini sebaiknya kamu pindah ke kamar tamu saja,” pintanya padaku dengan nada suara terdengar lembut.


“Tidak, saya lebih suka berada di kamar pelayan,” sahutku padanya.


“Kamu adalah istriku, jadi mana mungkin aku membiarkan kamu tidur di dalam kamar pelayan lagi seperti sebelumnya.”


Aku mendengar langkah Mama Elsa berjalan mendekati aku lalu wanita paruh baya itu membelai perlahan rambutku sebelum akhirnya membuka suara, “Sifana, benar apa yang dikatakan oleh suami kamu itu, kamu tidak seharusnya tinggal di dalam kamar pelayan ini,” aku menatap manik mata memohon


yang terpancar dari kornea mata karamel yang selama ini selalu memberikan tatapan sendu padaku.


“Ma, Sifana tidak mau,” aku melihat sorot mata kecewa langsung memenuhi manik mata Mama Elsa ketika wanita paruh baya itu mendengarkan ucapan ku. Aku tidak ingin jika sampai Mbak Tasya semakin marah padaku lebih lagi aku tahu jika Mas Sadam takut jauh dari Liora mangkanya masih mempertahankan pernikahannya dengan Mbak Tasya selama ini, sekelebat bayangan Liora yang selalu mendapatkan kekerasan dari Mbak Tasya muncul dengan miris di dalam ingatanku dan membuat aku semakin bersikeras menolak pindah dari kamar ini.

__ADS_1


“Aku sudah berbicara pada Tasya dan mengatakan padanya jika kamu akan pindah ke ruang tamu, aku berjanji dia tidak akan berani mencari masalah dengan kamu lagi,” aku mengangkat padangan melihatnya sekilas dan


lelaki itu menatap dengan sendu memohon agar aku mau mengikuti permintaanya.


“Jika sampai Tasya berani mencari masalah bolehkan, Mama meminta satu hal dari kamu?” aku melihat manik mata Mama Elsa menatapku dengan penuh tanya. “kamu harus membela diri jika sampai dia melakukan kekerasan,” sambungnya usai melihat aku mengganggukkan kepala.


Akhirnya aku setuju juga pindah ke ruangan tengah rumah ini karena tidak ingin membuat Mama Elsa kecewa. Aku hendak membawa baju-bajuku akan tetapi Mas Sadam mengatakan jika dia sudah menyiapkan baju di dalam kamar


tamu untukku dan aku sangat terkejut sekali sejak kapan lelaki itu menyiapkan baju untukku namun Mama Elsa yang mengetahui kebingunganku langsung menjawab


jika saat Mama Elsa dan juga Liora pulang ke rumah sudah terdapat para pelayan toko membawa semua baju yang Mas Sadam pesan ke kediaman Erlanga. Aku begitu terkejut ternyata Mas Sadam benar-benar tidak ingin melihat aku di hina orang lain. Aku melangkah masuk kedalam ruangan tamu, dahulu aku sering kali


membersihkan kamar ini dan berpikir akan memiliki ruangan kamar yang besar dan juga nyaman seperti itu tapi siapa sangka jika aku sekarang bisa memilikinya.


ketika melihat gantungan baju yang penuh dengan baju baru bahkan semua baju itu juga masih berbandrol tanda jika masih baru dan belum tersentuh sama sekali bahkan ada juga 10 set lebih bikini yang harganya tidaklah murah. Aku melihat ada beberapa paper bag yang terdapat di sofa aku langsung melangkah untuk melihat dan aku buka isinya, ini adalah baju ukuran Anggun, dan aku baru ingat jika waktu berada di mall Mas Sadam meminta pelayan untuk mengirimkan semua baju model terbaru di bulan ini tapi ini ada begitu banyak sekali baju dan harganya juga tidaklah murah bukankah ini namanya pemborosan. Batinku.


Aku menatap kearah Mas Sadam yang kini sedang berdiri di jarak tiga meter dariku, lelaki itu juga sedang menatapku, “Mas Sadam, terima


kasih tapi sebaiknya tidak usah melakukan hal seperti ini karena semua ini pasti menghabiskan banyak uang.”


Lelaki itu melangkah lebih dekat denganku lalu berhenti di jarak satu meter. “Semua ini memang seharusnya dari awal kamu dapatkan,” jawabnya dengan memberikan tatapan sendu penuh penyesalan kilatan matanya meredup tidak tegas dan tajam seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Namun tidak seharusnya seperti ini, Mas. Ini namanya pemborosan dan aku tidak mau kalau sampai orang lain berpikir jika aku ingin memeras suamiku sendiri.”


“Sifana, kami tidak akan pernah berpikir seperti itu,” sahut Mama Elsa ikut menimpali ucapan kami berdua.


“Ma, bisakah tinggal di sini beberapa hari kedepan? Aku tidak ingin Tasya membuat ulah,” aku melihat Mama Elsa langsung mengganggukkan


kepalanya.


Pagi ini aku membuka mata dan masih berada didalam kamar tamu, aku pikir semalam adalah mimpi tapi ternyata nyata sebelum turun dari ranjang aku lebih dulu bergeliat kesana-kemari mencoba merenggangkan otot-otot tulang ini agar tidak terasa kaku semalam aku tidur dengan sangat nyenyak sekali di atas kasur empuk ini. Kini aku beranjak turun dari ranjang dan berniat untuk membersihkan tubuh tidak sengaja aku melihat Mas Sadam tidur di sofa yang tepat berada di bawah kaki ranjang sejak kapan lelaki itu tidur di sini sedangkan semalam aku sangat yakin jika Mas sadam keluar dari


kamar ini bersama dengan Mama Elsa. Sekujur tubuhku mulai di rambati perasaan takut entah mengapa bayangan berdua bersama lelaki itu didalam kamar kembali


menari-nari kejam di dalam benakku. Dengan langkah perlahan aku memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan kini aku sudah segar usai membersihkan


tubuhku tanpa menyisir rambut dan melihat kearah cermin aku segera melangkah perlahan melewati sofa, jantungku berdentam-dentam ketika melewati depan sofa di mana Mas Sadam memejamkan mata jarum jam seakan bergerak perlahan sekarang,


aku tidak mau ada adegan ceroboh seperti di film drakor yang sering kali aku.tonton. Hampir saja aku melewati sofa akan tetapi suara berat khas orang bangun tidur seketika menghentikan langkahku membuat aku membeku di posisiku.


“Kamu sudah bangun,” aku langsung meneguk ludah dan mencoba


bersikap tenang. Aku melirik kearah Mas Sadam yang kini sedang mendudukkan tubuhnya lelaki itu sedang mengucek kedua matanya dengan tangan mencoba untuk

__ADS_1


menyingkirkan rasa kantuk yang masih menggelayuti matanya.


“Aku harus kabur atau tidak,”


__ADS_2