
Selang beberapa waktu aku mulai mendengarkan suara pintu yang diayun dengan keras hingga membentur dinding lalu menimbulkan suara yang menggema di dalam ruangan ini, Aku mendengar suara derap kaki berbondong-bondong memasuki ruangan ini. Mas Sadam meraih tubuhku lalu membawaku menjauh dari Anggun agar para Dokter bisa memberikan pertolongan pada Anggun. Aku menangis didalam dekapan Mas Sadam. Lelaki itu mengusap perlahan punggungku seolah berusaha menyalurkan ketenangan dari usapan lembut tangannya. Ingin sekali aku hentikan air mata ini tapi tidak bisa, Aku terus saja menitihkan air mata melihat kondisi adik yang sangat kusayangi terbaring lemah tak berdaya, para dokter mulai bekerja keras mengembalikan detak jantungnya melalui alat yang dia berada ditangannya. Akan tetapi Anggun masih belum bernafas dan terbaring lemah.
“Jika dia pergi, Aku akan sendirian dan aku tidak bisa hidup tanpanya, tolong suruh para medis untuk menyelamatkannya,” pintaku sembari memukul dada bidang Mas Sadam pelan. Waktu seakan berjalan sangat lambat sekali aku merasakan tenggorokan ini kering hingga terasa nyeri ketika aku membuka suara, rongga dadaku terasa semakin menyempit membuatku kesulitan bernafas.
“Dia akan sembuh, kita akan membantunya dengan do’a.” Aku dan juga Mas Sadam memejamkan mata meminta bantuan pada, Tuhan agar mengembalikan detak jantung Anggun. Ya, bener hanya sang pencipta saja yang bisa membantu kami untuk mendapatkan kehidupan gadis kecilku itu lagi.
Manik mataku kembali terpecah saat mendengarkan suara salah satu Dokter yang sudah berhasil mengembalikan detak jantung Adikku. Salah satu Dokter berjalan menghampiri kami. Dokter wanita itu mengatakan jika kami berdua harus menunggu di luar, tanpa membantah aku menurutinya begitu saja sebab ingin Anggun segera mendapatkan perawatan. Mas Sadam mengajak aku duduk di bangku stainless yang berada tepat di samping ruangan Anggun berada, aku masih belum berhenti menangis meskipun mengetahui jika Adik yang aku sayang sudah melewati masa kritisnya, Aku terlalu takut kehilangannya, membayangkan hal itu saja sudah menguras seluruh tenagaku hingga membuat tubuh ini lemas tak berdaya.
“Bagaimana dengan kondisi, Anggun?” Kulihat Papa Damar dan juga Mama Elsa sudah berdiri di hadapanku. Mereka memasang wajah panik sekarang.
“Anggun, sudah melewati masa kritisnya,” kudengar Mas Sadam menjawab pertanyaan Papa Damar.
“Mama Sifana, jangan menangis lagi,” suara Liora membuat perhatianku terpecah. Aku melihat gadis kecil itu ikut menangis melihat aku bersedih, Dia bahkan memeluk tubuhku seolah mengatakan jika Aku tidak sendirian di dunia ini.
“Bukankah setelah operasi waktu itu kondisi Anggun baik-baik saja? Tapi kenapa tiba-tiba bisa drop seperti ini.” Mama Elsa berbicara pada Papa Damar dan lelaki itu hanya diam sebab Dia juga tidak tahu masalah yang terjadi.
“Mama Sifana tidak menangis, Sayang.” Aku mengusap perlahan
kedua cairan bening yang sudah lolos dari pelupuk mata Liora. Dan Liora melakukan hal yang sama denganku.
Mas Sadam berdiri dari posisi duduknya lalu berbicara dengan
Papa Damar sedangkan Mama Elsa sendiri mengantikan Mas Sadam duduk di sampingku mencoba menenangkan Aku. Mama Elsa mengatakan jika semua akan baik-baik saja meskipun aku tahu jika wanita paruh baya ini pun tak yakin dengan ucapannya namun, Aku tetap menghargainya dengan mengganggukkan kepala setuju dengan perkataannya. Aku mengamati wajah kedua lelaki itu terlihat serius sekali, tapi suara mereka terdengar sangat lirih seolah berhati-hati agar Aku tidak bisa mendengarkan perbincangan keduanya. Mama Elsa dan juga Liora memelukku namun, hal ini masih belum bisa membuat hatiku tenang sebelum Aku mengetahui jika Anggun baik-baik saja.
__ADS_1
Aku mendengar pintu ruangan Adikku berada di buka oleh dokter. Aku dan juga yang lainnya segera berdiri dihadapan Dokter paruh baya itu dengan tatapan penuh tanya. Dokter mengatakan jika kondisi Anggun sudah stabil akan tetapi masih perlu di pantau, dan untuk sementara waktu tidak ada yang boleh menjenguk Anggun karena pasien butuh banyak beristirahat, tapi setelah Anggun bangun kami boleh bergantian menjenguknya.
“Pasien terlalu tertekan hingga mengakibatkan kondisinya drop, usahakan tidak ada satu orangpun yang membuatnya stres sebab hal itu
akan berdampak besar pada pemulihannya.” Usai bicara Dokter berlalu pergi meninggalkan kami semua.
Aku melihat Anggun dari kaca transparan di pintu ini, aku mengusap perlahan kaca tersebut seakan aku sedang membelai wajah gadis kecilku itu. Sesaat aku teringat akan perkataan terakhir Anggun sebelum pingsan ‘Anggun minta maaf, Anggun adalah penyebab dari semua penderitaan yang Mbak Sifa alami,’
entah mengapa perkataan itu masih menggema di telingaku seakan Anggun mengucapkannya berulang kali. Aku merasa ada hal yang janggal di sini, darimana Anggun mengetahui jika aku menderita? Apakah ada orang lain yang memberitahunya
tentang keadaanku yang sebenarnya? Tapi siapa orang itu.
Deg!
“Sayang, sebaiknya kamu ikut pulang bersama dengan Mama Elsa dan juga Liora. Aku dan juga Papa akan menginap di rumah sakit malam ini untuk menjaga Anggun.” Aku langsung menggelengkan perlahan kepalaku menolak permintaan Mas Sadam barusan. Mana bisa aku meninggalkan Anggun sendirian di rumah sakit meskipun ada Suami dan juga Papa Mertuaku yang akan menjaganya sedangkan aku tahu kondisinya masih belum sepenuhnya stabil.
“Papa, Mama dan juga Liora pulang saja. Aku dan juga Mas sadam akan tetap di sini untuk menjaganya.”
Mama Elsa dan juga Papa Damar langsung mengganggukkan kepala
mereka setuju. Mereka pasti bisa membaca pikiranku sekarang. Jika aku tidak akan pernah mau pergi dari rumah sakit ini. Liora langsung memelukku seakan gadis kecil ini menolak untuk pulang bersama dengan Kakek dan juga Neneknya.
“Liora, tidak mau pulang. Liora mau tetap disini menemani Mama Sifana.”
__ADS_1
Aku mendekap tubuh Liora kemudian mengusap puncak kepalanya sembari berkata, “Liora harus pulang bersama Nenek dan juga Kakek. Nanti kalau
Mbak Anggun sudah sadar, Mama Sifana janji akan mempertemukan kalian.” Aku mencoba membujuk Liora agar mau pulang sebab tidak baik akan kecil dibiarkan berlama-lama di rumah sakit.
Kulihat Liora menengadahkan wajahnya menatapku dengan binar
mata penuh pertanyaan. “Mama Sifana harus janji jika nanti akan mempertemukan Liora dengan, Mbak Anggun,” sambungnya padaku sembari mengangkat jari kelingkingnya menyuruh aku berjanji padanya.
Senyuman tipis lolos dari bibirku ketika melihat tingkahnya yang mampu menyingkirkan sedikit kesedihan di hati ini, dan tanpa berpikir panjang aku langsung menautkan jari kelingking kami berdua sembari berkata, “Tentu
saja Mama Sifana akan menepati janji itu,” sahutku mantap. Setelah melihat Liora mengganggukkan kepalanya, Aku segera mendaratkan kecupan singkat di puncak kepalanya.
Kini Liora sudah berdiri dari pangkuanku lalu gadis kecil itu ganti berdiri dihadapan Mas Sadam sembari berkata, “Papa, Liora pulang
dulu. Papa jangan lupa jaga Mama Sifana dan juga Mbak Anggun,” pintanya dengan wajah serius. Wajah polosnya itu selalu membuat aku rindu akan sosok Anggun-Adik kesayanganku yang kini tengah berjuang melawan penyakitnya.
Mas Sadam menarik tubuh kecil itu lalu mendudukkan Liora di pangkuannya, aku melihat Mas Sadam membenahi rambut Liora yang sedikit berantakan, lalu berkata, “Tanpa kamu suruh, Papa juga akan menjaga Mama dan juga Mbak Anggun karena mereka berdua adalah bagian dari keluarga kita. Liora tidak boleh nakal, ya jika dijaga oleh Nenek dan juga Kakek dan jangan lupa untuk makan malam.”
“Baik, Pa.”
Sebelum pergi Liora melihat kearah lorong rumah sakit dengan pandangan serius lalu gadis itu berkata, “Kenapa Liora seperti melihat Mama Tasya, ya.”
jangan lupa favorit dan juga like setiap episode ya dan komentar juga. Kalau berkenan boleh berikan vote serta gif untuk author terima kasih.
__ADS_1