
Aku langsung memegangi tangan Mas Sadam karena tidak ingin ada gak yang terjadi. Tapi Mas Sadam tidak menghiraukan ku karena emosinya saat ini sedang memuncak dan hal yang ingin Ia lakukan hanya satu yaitu melampiaskan semuanya pada orang yang Ia benci.
"Sadam. Kendalikan dirimu, Nak." Aku melihat Papa Damar mendorong tubuh Mas Sadam kebelakang kemudian Aku langsung memeluk Mas Sadam dengan Isak tangis, aku mendengar detak jantungnya sedang memburu dengan nafas yang naik turun.
"Mas, tenanglah aku mohon," ucapku pada Mas Sadam tanpa menjauhkan wajahku dari dadanya.
"Pa, kamu dengan sendiri tadi jika Liora bukan Putriku, lalu dimana putriku," ucap Mas Sadam dengan suara yang bergetar. Aku mendongakkan kepala menatap kearahnya dan bisa Aku lihat dengan sangat jelas mata lelaki itu berkaca-kaca.
"Tenanglah, kita akan bertanya pada wanita itu." Aku tahu Papa Damar juga sedang merasa geram akan tetapi Ia mencoba tetap tenang.
Mbak Tasya keluar dari ruangan rumah sakit ini bersama dengan kedua polwan di sampingnya. Mas Sadam hendak melangkah menghampiri Mbak Tasya akan tetapi aku mencegahnya dengan memeluk tubuhnya. Papa Damar menatap kearah Mbak Tasya dengan membulatkan kedua matanya sedangkan Mbak Tasya sendiri tersenyum senang mengetahui akan hal itu.
"Ternyata ini maksud dari senyuman Mbak Tasya tadi," gumamku dalam hati.
"Tasya, dimana anakku?" tanya Mas Sadam melalui cela-cela giginya.
"Hahaha, anakmu-mungkin yang kamu maksud adalah anak kita." Aku melihat Mbak Tasya tersenyum senang mengetahui Mas Sadam marah.
"Kau jangan memancing
emosiku," geram Mas Sadam. Aku langsung menahan tubuhnya ketika mengetahui jika lelaki itu hendak memukul Tasya.
"Mas, tolong jangan kotori tangan kamu," pintaku sembari memeluk tubuhnya.
"Tasya, katakan pada kamu siapa Liora dan dimana cucuku berada." Papa Damar mulai angkat bicara.
"Cucu kamu sudah mati," sahut Mbak Tasya sembari menatap Papa Damar dengan air muka yang terlihat sangat menyebalkan sekali. "Anakmu sudah mati," sambung Tasya sembari menatap kearah Mas Sadam.
"Apa maksudmu." Aku melihat rahang Mas Sadam berdenyut menandakan emosi yang sudah memuncak.
"Aku melahirkan dan anak kamu mati, kau tahu waktu itu aku sudah bersama dengan kekasihku yang sangat aku cintai, jadi aku mengambil bayi wanita lain yang telah meninggal dunia dan anak itu aku anggap sebagai anakku. Aku tidak ingin lepas darimu jadi aku merencanakannya semuanya, tapi semua itu hancur ketika wanita gila ini hadir dalam kehidupan kita." Diakhir kalimat Mbak Tasya melihatku lalu Ia hendak melangkahkan mendekatiku akan tetapi kedua polwan dengan sigap memegangi lengan tangannya.
__ADS_1
Emosiku memuncak ketika mengetahui kelakuan kejam Mbak Tasya. Aku merasa sedih melihat nasib Liora. Dengan perlahan tapi pasti aku mulai melepaskan pelukanku pada Mas Sadam dan kini Aku berdiri dihadapan Mbak Tasya dengan mata menajam.
"Kau bukan manusia, kau adalah iblis! tega sekali kamu melakukan hal ini pada suami kamu sendiri, bahkan kamu juga tidak pernah menyayangi Liora," ucapku dengan gigi menyatu. "Orang seperti aku lebih pantas berada didalam penjara."
Plak!
"Ini untuk Liora yang telah kami sia-siakan selama ini," tegasku sembari menatapnya tajam.
Plak!
"Ini untuk Adikku, yang pernah hampir mati karena sikap iblis kamu." Aku benar-benar lepas kendali ingin sekali Aku membunuhnya tapi Mas Sadam langsung memelukku.
"Mas lepaskan aku-aku akan membunuhnya karena sudah berani menyakiti kedua bocah yang sangat aku sayangi, aku ingin membunuhnya." Aku berusaha sebisa mungkin berontak agar lepas dari dekapan Mas Sadam akan tetapi dekapan Mas Sadam semakin erat padaku.
"Tasya! Kamu akan benar-benar melihat neraka yang ada di dunia ini." Aku mendengar suara Papa Damar mengancamnya.
Aku melihat Papa Damar menatap kearah kedua polwan. "Saya akan membawanya kembali ke tahanan," ucap Polwan itu dengan tersebut tipis.
"Sayang, tenanglah," pinta Mas Sadam.
"Mas Gerry." Suara Anggun yang menyebutkan nama Gerry membuat perhatianku dan juga Mas Sadam teralihkan.
Aku melihat Anggun berlarian menghampiri Gerry dengan Isak tangisannya. Aku menatap mata Mas Sadam yang mulai menajam. Gerry memeluk Anggun kemudian bertanya mengenai apa yang terjadi dan Anggun hanya diam masih menangis dalam pelukan Gerry.
"Kenapa kamu bisa disini?" tanya Mas Sadam dengan tatapan tak ramah pada Gerry.
"Sahabatku sakit dan aku baru saja menjenguknya, tidak sengaja Aku melihat kalian di sini. Siapa yang sakit?" tanya Gerry sembari menatap ke arahku sekilas kemudian melihat Mas Sadam.
"Liora, jatuh dari tangga," sahutku dengan Isak tangis.
"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Gerry sembari melihat kearah suamiku.
__ADS_1
"Dia masih kritis," sahut Mas Sadam.
Cklek!
Dokter Heru keluar dari ruangan itu dengan wajah cemas sekali. "Kami sudah berusaha tapi sangat sulit sekali menemukan orang yang memiliki golongan darah AB," jelas Dokter Heru.
"Memangnya apa yang terjadi kalau boleh saya tahu?" tanya Gerry pada Dokter Heru.
"Pasien kehilangan banyak darah akhibat luka di kepalanya dan bank darah di rumah sakit ini sedang kosong jika tidak segera diselamatkan mungkin pasien akan ....," ucapan Dokter Heru langsung terhenti ketika Mas Sadam menarik kerah bajunya.
"Jangan kamu benar-benar mengatakan kata selanjutnya." Mas Sadam mulai gelap mata.
"Sadam, lepaskan jam gan lakukan ini," ucap Papa Damar.
"Mas, aku mohon tenanglah," pintaku menimpali ucapan Papa Damar barusan.
"Jika terjadi sesuatu pada putriku, aku bersumpah kau akan pergi bersamanya." Ancam Mas Sadam.
Dokter Heru hanya bisa pasrah dengan wajah yang sudah pucat pasih bahkan tubuh lelaki itu juga gemetar sekali.
"Ambil saja darahku." Suara Gerry membuat perhatian kami semua teralihkan aku dan juga yang lain menatap kearah Gerry.
Mas Sadam mulai melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Dokter Heru. Dokter Heru menghembuskan nafas lega bisa lolos dari maut.
"Apa maksud kamu?" tanya Mas Sadam dengan rahang mengeras.
"Mungkin saja darahku cocok dengan putri kamu," sahut Gerry.
"Kau jangan bercanda." Sembur Mas Sadam.
"Tidak ada salahnya jika mencoba," sahut Dokter Heru. Kemungkinan itu akan selalu ada," sambung dokter Heru.
__ADS_1
"Ayo kita lakukan sekarang, jangan buang waktu." Aku menatap Gerry dengan wajah penuh harap semoga saja darah Gerry dan juga Liora sama.
Apakah kalian semua sudah ikuti akun Mangatoon saya dan like setiap episodenya? jangan lupa Follow Ig Khairin_junior juga ya.