Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Mendengar Kabar Tentang Tasya


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Senyuman manis ini tidak luntur dari bibirku dan menunjukkan perasaan bahagia yang teramat sangat di hati ini, bagaimana mungkin Aku tidak merasa bahagia ketika mengetahui kalau Mas Sadam akan mengajak Aku pulang ke rumah. Ya, Dokter Heru mengatakan luka jahitan di perutku sudah mengering meskipun rasa nyeri masih terasa di bekas luka itu akan tetapi itu masih terbilang sangat normal. Seiring dengan berjalannya waktu luka ini akan sembuh dengan sendirinya.


“Sayang, kamu bahagia sekali,” ucap Mas Sadam sembari mengusap punggung tanganku yang di genggamnya. Kami berdua masih berjalan menuju pintu keluar rumah sakit ini dengan bergandengan tangan.


“Iya, dong Mas. Aku sangat-sangat bahagia sekali. Ayo coba tebak Aku bahagia karena apa?” tanyaku padanya dengan masih tersenyum manis.


“Pasti karena Kamu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Liora dan juga Anggun.” Aku langsung mengerucutkan bibir sebal karena Mas Sadam selalu saja bisa menebak apa yang Aku pikirkan.


“Tidak seru, kenapa Mas Sadam selalu bisa menebak pemikiran Aku,” ucapku padanya dengan mencebikkan bibir sebal.


“Karena kamu adalah istriku, jadi Aku harus peka terhadap pikiran kamu dan apapun yang kamu inginkan, Sayang,” jelas Mas Sadam.


Mas Sadam membukakan pintu untukku dan Aku bergegas masuk ke dalam mobil lelaki itu juga menaruh tangannya di atas kepalaku berjaga-jaga agar Aku tidak terbentuk mobil, Ia sangat perhatian sekali.


Aku sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan Anggun dan juga Liora-kedua gadis kecil yang sangat Aku sayangi dan ingin Aku jaga selama hidup ini. Aku bergegas mengunakan sabuk pengaman dengan hati yang berbunga-bunga.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan, akhirnya mobil Mas Sadam melaju memasuki gerbang hitam pekat yang menjulang tinggi. Ya, ini adalah kediaman keluarga Erlanga. Aku dan juga Mas Sadam sengaja tidak memberitahukan kedatangan kami pada Liora dan juga Anggun patas saja jika di siang hari ini tidak ada yang menyambut kedatangan kami. Mama Elsa keluar dari rumah menyambut kami karena hanya Dia saja yang tahu kami telah kembali.


“Sayang, bagaimana dengan luka itu?” tanya Mama Elsa setelah Aku berada dihadapannya.


“Sudah membaik Ma, tapi masih terasa nyeri sedikit,” sahutku jujur.


“Ma, dimana Liora dan juga Anggun?” tanya Mas Sadam pada Mama Elsa setelah melihat pelukan kedua wanita itu terpisah.

__ADS_1


“Mereka ada di dalam kamar, baru saja selesai makan mungkin sudah tidur siang,” sahut Mama Elsa sembari mengandeng tanganku masuk ke dalam rumah.


“Sifana, kondisi Anggun semakin hari semakin membaik saja, bahkan Ia sudah bisa berjalan lebih jauh dan jika Mama lihat kondisinya juga tidak selemah dulu.” Aku langsung meneteskan air mata bahagia ketika mengetahui kabar baik ini, Aku sungguh masih tidak menyangka jika Adik yang sangat aku sayangi benar-benar sudah lolos dari kematian dan Dia bisa menjalani hidupnya lagi seperti anak seusianya.


“Ma, terima kasih karena telah merawat Anggun ketika Sifa tidak ada di dekatnya,” ucapku sembari mengusap air mata yang sudah membasahi pipi ini.


“Anggun sudah Mama anggap seperti anak sendiri jadi kamu tidak perlu sungkan seperti ini.” Mama Sifana mengusap punggungku perlahan.


“Sayang, sebaiknya kamu hapus air mata itu. Anggun akan cemas jika melihat kamu menangis seperti ini,” pinta Mas Sadam padaku dengan tatapan sendu.


“Iya, Mas kamu benar,” sahutku sembari mengusap air mata ini.


Aku melihat Mama Elsa membuka pintu kamar kedua gadis kesayanganku. Aku masuk kedalam ruangan kamar ini dan pandanganku langsung tertuju pada ranjang. Aku mengerutkan kening ketika mengetahui Anggun tidur sembari memeluk Liora dan Liora sendiri tidur dengan memeluk guling. Bukankah


“Liora tidak mau jauh dari Anggun jadi Ia selalu tidur di ranjang yang sama dengannya, Papa Damar sudah beberapa kali memindahkan Liora ke


ranjangnya sendiri karena takut Anggun tidak nyaman akan tetapi jika terbangun maka Liora akan kembali lagi ke ranjang Anggun.” Mama Elsa mengatakan apa yang sedang Aku pikirkan.


“Ma, Anggun tidak mungkin merasa keberatan dengan adanya Liora yang tidur di atas ranjangnya lihatlah itu Anggun tidur dengan memeluk Liora. Sejak dari kecil Anggun sangat ingin sekali memiliki adik dan sekarang


keinginan itu sudah terwujud.” Usai bicara Aku langsung melangkah mendekati ranjang lalu menutup tubuh Liora dan juga Anggun mengunakan selimut berwarna putih, tidak lupa Aku kecup perlahan puncak kepala kedua anak itu agar tidak membangunkan mereka dari mimpi indahnya.


“Ayo kita keluar, biarkan mereka tidur,” ucap Mama Elsa lirih.


Aku dan juga Mas Sadam keluar dari ruangan kamar ini. “Mas, Kamu pergi ke kamar sana, biar Aku menyiapkan bahan untuk makan malam nanti

__ADS_1


bersama mama Elsa di dapur,” pintaku padanya.


“Sayang, bukankah masih terlalu awal untuk menyiapkan makan malam sedangkan ini baru lewat satu jam dari jam makan siang,” sahut Mas Sadam.


“Mas, Aku ingin membuatkan kue untuk Liora dan juga Tasya, mangkanya mempersiapkan dari sekarang. Nanti kalau Liora dan juga Anggun sudah bangun dari tidurnya, mereka berdua bisa langsung melahap kue itu,” jelasku pada Mas Sadam.


“Oh …., ya sudah kalau begitu,” sahut Mas Sadam kemudian berlalu meninggalkan kami.


“Ma, apakah Mama pernah menjenguk Mbak Tasya?” tanyaku pada Mama Elsa dengan kaki menuruni anak tangga rumah ini.


“Pernah satu kali, dan kondisinya begitu menyedihkan sekali terdapat lingkaran hitam di bawah matanya dan tubuhnya penuh luka.” Aku langsung menarik padangan melihat Mama Elsa yang kini baru saja menjejakkan kakinya di bawah anak tangga rumah ini.


“Ma, apa maksudnya dengan banyak luka?” tanyaku tidak mengerti.


“Setiap tahanan baru yang masuk ke sel akan di hajar oleh para penghuni sel lainnya sebagai salam perkenalan, Tasya di perlakukan tidak adil bahkan tidak jarang Dia makan sisa dari lantai.” Aku langsung membulatkan


mata terkejut mengetahui keadaan Mbak Tasya.


"Aku sudah meminta pada Mas Sadam untuk menjenguk Mbak Tasya,


akan tetapi suamiku tidak mengizinkanku, karena baginya Mbak Tasya pantas mendapatkan hukuman atas kesalahannya dimasa lalu. Tapi kasihan juga melihat keadaan Mbak Tasya, apakah tidak sebaiknya kita cabut tuntutan itu, Ma." Aku bicara sembari melangkah berganti masuk kedalam dapur


"Sifana, jangan terlalu naif nanti kamu malah dimanfaatkan oleh orang lain," ucap Mama Elsa padaku dengan wajah serius. "Bukankah kita pernah memberikan kesempatan pada Tasya untuk memperbaiki semuanya tapi lihatlah apa yang telah Ia lakukan, Dia malah hampir membunuh kamu." Aku bisa melihat kilatan kebencian berkobar dari manik mata wanita paruh baya ini.


Mama Elsa benar-benar menjagaku seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2