
“Sayang, dimana kamu taruh baju yang tadi sempat kita beli,” tanya Mas Sadam padaku dengan berbisik. Deru nafasnya membuat darahku berdesir cepat hingga menimbulkan rasa panas di tubuh ini.
“Aku akan mengambilnya,” sahutku sembari hendak bangkit dari ranjang.
“Sayang, kamu bilang saja ditaruh dimana? Biar Aku yang ambil sendiri.” Manik matanya terlihat gelap seakan dia sudah tidak sabar lagi melihat Aku mengunakan baju tak lazim itu.
“Aku taruh di dalam lemari.” Lelaki itu dengan cepat langsung beranjak bangkit dari ranjang lalu menuju ke lemari untuk mengambil baju yang sempat kami beli di mall tadi.
“Sayang, ayo Aku bantu kamu gunakan?” pintanya sembari tersenyum mesum padaku.
“Mas Sadam, sebelumnya Aku tidak pernah menyangka jika kamu begitu mesum sekali,” ujarku dengan tangan menerima baju yang Ia berikan.
“Sayang, Aku seperti ini hanya dengan istriku saja.” Entah mengapa seperti ada rasa nyeri di dada ini ketika mengingat jika bukan hanya Aku istrinya. Aku menundukkan kepala melamun sesaat sebelum akhirnya Mas Sadam mengusap kepalaku perlahan dan membuat lamunanku ini buyar.
“Sayang, kamu jangan memikirkan hal yang macam-macam. Semua sudah berlalu sekarang istriku hanya kamu saja, kita tinggal menunggu waktu kurang dari 3 bulan untuk menggugat Tasya atas tuduhan perselingkuhan.” Lelaki itu mengecup kepalaku lalu membawa Aku dalam pelukannya.Dia sangat pandai sekali menenangkan hatiku yang tengah kalut oleh rasa cemburu.
“Aku percaya pada kamu, Mas,” sahutku sembari memeluk tubuhnya.
Mas Sadam mulai mengecup bibirku perlahan lalu tangannya membuka helai demi helai kain yang sempat menempel di tubuhku. Kini Dia membantu aku memakai lingerie berwarna merah yang sempat aku beli di mall. Sungguh Aku merasa malu sekali ketika melihat tatapan buas yang terlihat nyata dari manik mata suamiku, lelaki itu seakan ingin menerkam Aku hidup-hidup bahkan setiap inci tubuhku tidak lepas dari pandangannya. Mas Sadam mulai melepaskan semua bajunya dan Aku langsung mengalihkan pandangan kearah lain, entah mengapa Aku selalu malu melihatnya tidak menggunakan satu helai benangpun.
Kini Mas Sadam sudah berada di atas tubuhku, jari tanganku menelusuri tubuh sispeknya perlahan, dia menatap mataku lalu mengecup puncak kepala ini. Perlahan kecupannya mulai turun dan berhenti di bibir ini hingga akhirnya mulai menelusuri leher jenjangku. Aku merasakan ada gelenyar yang mulai berkumpul di tubuh ini, seluruh bulu halus di tubuhku mulai meremang dan Aku merasakan kenikmatan yang begitu nyata hingga membuat bibir ini mulai mengeluarkan ******* kecil. Aku menatap Mas Sadam yang tersenyum puas setelah mendengarkan ******* itu lolos dari bibirku dan sore yang panjang ini telah di mulai.
Restoran.
__ADS_1
Aku dan juga Mas Sadam makan di restoran dekat rumah. Restoran ini tidak terlalu mahal dan juga mewah namun rasa makanannya sangat lezat sekali. Sudah hampir 2 jam kami terlambat melakukan makan malam itu semua karena ulah suamiku yang meminta jatah sampai dua kali, Aku terpaksa menurutinya karena dia pandai sekali merayu.
“Mas, nanti malam kita tidur terpisah saja,” ujarku padanya. Lelaki itu langsung menatapku dengan mengerutkan keningnya.
“Kenapa kita harus tidur terpisah?” tanya Mas Sadam padaku dengan menarik salah satu alisnya.
“Aku tidak mau mengulangi adegan itu lagi, Aku lelah Mas,” sahutku dengan bibir yang mengerucut.
Mas sadam tidak menjawab namun lelaki itu malah terkekeh setelah mendengarkan jawabanku. Mas Sadam mengatakan jika dia tidak akan melakukannya lagi.
Seorang pelayan wanita datang menuju meja kami sembari membawa nampan berisikan makanan yang tadi sudah kamu berdua pesan. Wanita itu curi pandang kearah Mas Sadam, Aku bisa melihat tatapan terpesona terpancar jelas dari air muka wanita itu. Mas Sadam hanya diam sembari menyandarkan punggungnya di kursi, Dia bahkan tidak menatap wanita itu sedikitpun seluruh pandangan tertuju padaku.
"Sayang, kamu cemburu?" tanya Mas Sadam padaku.
Keesokan harinya.
Aku mengantarkan Mas Sadam sampai depan rumah hari ini Ia kembali berkerja.
"Sayang, nanti Mama Elsa dan juga Liora akan datang ke rumah untuk menemani kamu," ujarnya setelah mengecup keningku.
"Iya, Mas. Aku pergi menjenguk Anggun besok saja karena tadi dia juga bilang kalau kondisinya sudah membaik dan Aku di larang datang sekarang," sahutku sembari mengulas senyuman manis.
"Anggun memang gadis yang baik, Dia tidak ingin kamu lelah mondar-mandir ke rumah sakit setiap hari." Aku mengganggukkan kepala setuju dengan ucapan suamiku.
__ADS_1
"Sudah, sana berangkat," pintaku pada Mas Sadam. Lelaki itu terus saja menatapku sampai membuat Aku merasa malu sendiri karena sikapnya itu.
"Sebenarnya Aku masih ingin bekerja dari rumah, Aku tidak bisa jauh dari kamu." Aku melihat wajah Mas Sadam yang memelas seakan dia enggan sekali jauh dariku.
"Mas, nanti malam kita juga akan bertemu lagi," sahutku padanya.
Satu mobil melaju masuk melalui gerbang utama rumah ini, Ya itu adalah mobil milik Mama Elsa. Liora turun dari dalam mobil me dahului Mama Elsa.
"Mama, Papa. Liora pulang." Teriak gadis kecil itu sembari merentangkan kedua tangannya seakan siap mendapat pelukan dari kami berdua.
Aku membungkukkan tubuh sembari merentangkan kedua tangan siap menerima dekapannya. "Sayang, lain kali jangan lari seperti itu, nanti kamu jatuh," ucapku dengan mengusap rambutnya yang tergerai begitu saja.
Liora melepaskan pelukanku dengan bibir yang mengerucut lucu. "Nenek dan juga Kakek tidak mengijinkan Liora untuk menemui Mama, dan juga Papa beberapa hari yang lalu." Dia mengadu padaku dan juga Mas Sadam. Air muka Liora terlihat mengemaskan sekali sampai aku tidak tahan dan segera mendaratkan kecupan di kedua pipinya.
"Liora, Nenek melakukan itu pasti memiliki alasan." Mas Sadam ikut menyelinap masuk kedalam perbincangan kami berdua.
Liora ganti berdiri di hadapan Mas Sadam sembari berkata, "Nenek dan juga Kakek bilang kalau Liora akan mengganggu Mama dan juga Papa. Padahal Liora tidak pernah mengganggu," ucap Liora dengan wajah cemberut dia bahkan sempat melirik kesal kearah Mama Elsa yang kini sedang menahan tawanya ketika melihat ekspresi mengemaskan cucunya itu.
"Biar nanti, Papa yang bicara pada Nenek. Sekarang Liora masuk lebih dahulu dengan Mama Sifana," pinta Mas Sadam. Lelaki itu mengusap puncak kepala Liora kemudian mendaratkan kecupan dikedua pipinya.
"Papa, harus marahi Nenek." Aku melihat bibir Liora semakin mengerucut.
"Iya, nanti Papa akan marahi Nenek karena telah melarang Liora bertemu Mama dan juga papa." Mas Sadam bicara dengan tegas untuk mengecoh si kecil Liora.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Liora akan masuk kedalam rumah dengan Mama Sifana," sahut Liora sembari mengandeng tanganku.