
Seperti ada ribuan kupu-kupu yang sekarang sedang berterbangan di dalam perut ini, benarkan apa yang Mas Sadam ucapkan jika lelaki itu cemburu tapi bagaimana kalau aku sampai salah mendengarkan? Tapi jika di lihat dari tatapan tajamnya itu memang Mas Sadam mengatakan yang sebenarnya.
“Mas, jangan begini nanti di lihat banyak orang,” aku langsung mendorong tubuhnya menjauh dengan tangan yang gemetar
karena bahagia, andaikan saja ini di pantai pasti aku sudah berteriak kegirangan dengan menyanyikan lagu romantis supaya mirip seperti di film india gitu eheheh, Sifana mungkin sangat berlebihan tapi asalkan kalian tahu aku bahagia sekali.
“Sayang, kenapa kamu meninggalkan aku,” aku tidak perduli dan terus saja melangkah hingga Mas Sadam menggapai tanganku dan membuat langkahku terhenti. “ayo kita masuk ke toko ini,” sebelum aku membuka
suara Mas Sadam membimbingku masuk ke toko perhiasan.
Para penjaga toko langsung memberikan hormat pada Mas Sadam, semua pelayan di toko ini mengenalinya aku tidak pernah
menyangka jika suamiku sangat terkenal, itu lah yang aku pikirkan. Mas Sadam berjalan mendekat kearah salah satu etalase toko yang memajang sederet cincin mewah. Mas Sadam menyuruh aku memilih cincin dan aku langsung mengerutkan kening kaget dan tidak mengerti
untuk apa cincin itu, Mas Sadam tidak menjawab tapi malah menyuruh pegawai toko ini untuk mengambil cincin yang paling mahal dan hanya beberapa macam saja. Wanita cantik dengan make up sempurna di tubuhnya itu langsung melakukan perintah Mas Sadam secepat kilat. Kini wanita itu membawa satu kotak cincin kearah kami, aku melihat pancaran ketertarikan di manik mata wanita itu saat menatap suamiku
dan jujur aku mulai terganggu melihatnya.
“Mas, jawab dulu untuk apa cincin ini?” tanyaku meminta penjelasan. Sang penjaga toko memberikan cincin itu pada Mas Sadam, cincin biasa yang memiliki permata kecil tapi harganya sangat mahal sekali
sebab terbuat dari berlian asli.
Mas Sadam tidak langsung menjawab, ia melepaskan cincin pernikahannya dengan Mbak Tasya lalu menaruhnya di saku kemeja yang
sedang lelaki itu kenakan. “Untuk mengantikan cincin yang aku lepas ini,” tatapannya sendu sampai menembus relung hatiku hingga membuat debaran jantung ini semakin menggila. "jangan pernah memikirkan orang lain lebih baik cepat pilih sebelum aku membeli
semua cincin biar kamu tidak bingung memilih dan kita bisa berganti cincin
capel sesuka hati kamu.”
“Ak-aku akan memilih, jangan lakukan hal itu,” aku kembali tergagap ketika mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
“Mbak, cincin ini sangat bagus sekali dan harganya juga sangat mahal pasti cocok di jarik, Mbak,” ucap sang penjaga toko padaku tapi entah mengapa aku melihat wanita itu seperti tidak menyukaiku dari tatapan tak ramah yang ia berikan.
“Harganya berapa?” aku selalu menanyakan harga seperti biasa.
“3 milliar,” aku langsung menaruh cincin yang aku pegang ke dalam kotak perhiasan kembali karena tidak mau sampai barang mahal itu rusak karena sentuhan ku.”
“Jika kamu suka aku akan mengambil dua pasang,” aku langsung ternganga usai mendengarkan ucapan enteng suamiku, satu pasang saja harganya sudah semahal itu apa lagi dua. Ini sungguh tidak masuk akal sekali.
“Mas, bolehkan aku saja yang memilih cincinnya,” pintaku dengan wajah memohon.
Mas Sadam mengangkat tangannya lalu membelai rambutku lembut sembari berkata, “Tentu saja karena kebahagian kamu adalah prioritas utama untukku,” sahutnya dengan senyuman manis. Ya tuhan jantungku
bisa pensiun dini jika seperti ini.
Aku memilih cincin berwarna kuning dengan permata lebih kecil tapi sangat bagus sekai jika di lihat. Aku bertanya harganya 20 juta itu sudah dua pasang lalu aku memilihnya karena menurutku Mas Sadam pasti tidak malu mengunakannya sebab dia orang kaya jika memakai barang
murah tentu aja menurunkan imagenya yang selama ini selalu memakai barang branded yang memiliki harga super mahal.
Mas Sadam langsung setuju dengan pilihanku. Lelaki itu memasang cincin di jari manis ku dan kini giliran aku yang memasang cincin di jari manisnya. Mas Sadam mencium keningku dihadapan semua penjaga toko ada beberapa pengunjung toko juga yang melihat kami dengan manik mata terlihat iri mungkin mereka juga ingin memiliki pasangan baik dan juga perhatian seperti Mas Sadam.
Kira-kira inilah visual mereka. Sadam Erlanga dan Katarina Putri Sifana.
Tanpa membayar Mas Sadam langsung menarik aku keluar toko tapi aku menarik balik tangannya dengan wajah pucat pasih, aku tidak pernah menyangka jika suamiku berniat mencuri di depan keramaian seperti ini bisa mati kita berdua diamuk masa. Mas Sadam sangat kaya tapi kenapa harus mencuri, entahlah aku tidak bisa mengerti tapi yang aku tahu aku harus mencegahnya keluar dari pintu toko ini.
“Apa kamu masih menginginkan sesuatu?” tanya lelaki itu ketika menyadari aku tidak mau keluar dari pintu toko ini. Aku melihat semua orang sedang menatap kami dengan tatapan tidak terbaca tapi bagiku itu sangat mengerikan sekali seakan semua orang sedang mengawasi kami sebelum menerkam kami berdua yang ketahuan mencuri.
“Ma-mas lepas dulu cincinnya,” aku menggapai tangan Mas Sadam hendak melepaskan cincin di jari manisnya tapi lelaki itu langsung menarik tanganku seakan enggan melepaskan cincin itu.
“Kenapa harus di lepas,” ingin sekali aku berteriak di dekat telinganya jika cincin ini belum di bayar tapi aku tidak mau memancing keributan yang nantinya akan semakin mengundang perhatian banyak orang.
__ADS_1
Aku melangkah mendekati Mas Sadam lalu berbisik padanya dengan tubuh gemetar, “Apakah Mas Sadam lupa jika kita belum membayar cincin ini,” ucapku dengan nada suara yang gemetar bahkan aku juga merasa bisa mendengarkan bunyi detak jantungku sendiri karena panik bercampur takut.
Aku melihat Mas Sadam menepuk pelan jidatnya lalu menatapku. “Ini adalah toko milikku kenapa harus membayar! Bahkan aku yang membayar semua gaji karyawan,” ujarnya membuat rahang ku merosot malu. Ya Tuhan kenapa aku tidak tahu jika suamiku memiliki banyak bisnis diluar sana selama ini yang aku tahu Mas Sadam hanya memiliki perusahaan saja.
Aku mengedarkan pandangan menatap semua karyawan toko yang langsung membungkukkan tubuhnya. Aku langsung berjalan mendahului Mas Sadam dengan malu yang aku tahan. Mas Sadam mengekori aku lalu bertanya kenapa aku pergi begitu saja dan aku jawab jika aku seperti orang bodoh yang tidak mengetahui bisnis apa yang sedang dijalani oleh suamiku dan Mas sadam mengatakan jika aku ingin tahu, nanti akan dia beri tahu tapi aku menolak karena pasti banyak sekali dan aku juga tipe wanita yang payah dalam
mengingat suatu hal.
***
Setelah Mas Sadam membukakan pintu mobil aku dan juga Mas Sadam melangkah masuk kedalam rumah bersama, Liora baru saja keluar
rumah sembari memakan coklat di tangannya, anak kecil itu langsung berlari menghampiri kami berdua sembari merentangkan kedua tangannya.
“Mama, Papa.” Akhirnya kalian pulang juga,” ucap Liora sembari memeluk aku terlebih dahulu, Anak ini selalu seperti ini bersikap seolah lama tidak bertemu dengan kami.
“Tentu saja kami akan pulang,’ sahutku sembari mengecup kedua pipi cabinya.
“Papa, mana es krim untuk Liora,” aku melihat Liora berganti berdiri dihadapan Mas Sadam sembari menadahkan tangannya di udara.
“Liora, bukankah Mama Sifana pernah bilang jika tidak boleh makan banyak es krim nanti bisa sakit gigi dan giginya berlubang.”
“Apakah, Liora mau jika sakit gigi dan di bawah ke dokter gigi?” tanyaku menimpali ucapan Mas Sadam tadi.
Aku melihat Liora langsung memegangi kedua pipinya seakan tidak mau jika sampai hal itu terjadi, “Liora, tidak jadi minta es krim,” ucapnya dengan polos dan hal itu membuat aku gemas saja.
“Dimana, Nenek?” tanya Mas Sadam sembari mengandeng Liora masuk kedalam rumah.
“Nenek sedang mengajari Mbak Tasya memasak di dapur.”
Aku langsung membulatkan kedua mata penasaran sekali melihat muka Mbak Tasya yang sedang di siksa oleh Mama Elsa. Ehehehe kalian tahu sendiri jika ada kesempatan Mama Mertuaku itu akan selalu memberikan pelajaran untuk Mbak Tasya mungkin sebagai ganti karena Mama Elsa
__ADS_1
tidak bisa memisahkan Mas Sadam darinya.
Jangan lupa ikuti akun mangatoon saya dan follow ig Khairin_junior ya terima kasih.