Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Ketegangan


__ADS_3

Mama dan juga Papa terus saja mencoba untuk menenangkan aku


dan akhirnya tangisanku bisa juga berhenti entah mengapa ada kedua orang ini di hidupku aku merasa tidak sendirian. Aku tidak mengabari Mama dan juga Papa karena tidak ingin mengganggu waktu tidur malam mereka akan tetapi tanpa aku


ketahui jika keduanya mengatakan pada Dokter di rumah sakit ini jika ada sesuatu yang terjadi pada Anggun maka para dokter rumah sakit ini wajib memberitahukan pada mertuaku itu. Bahkan semua biaya pengobatan Anggun juga mereka yang bayari, aku sungguh beruntung sekali mungkin saja di kehidupan yang lalu aku melakukan kebaikan hingga bisa bertemu dengan mereka berdua.


Terdengar suara pintu rumah sakit ini mulai terbuka, aku dan juga kedua mertuaku langsung menghampiri dokter paruh baya yang baru saja


menutup pintu ruangan operasi. Jarum jam seakan berjalan lambat sekarang, aku sungguh takut mendengar hal yang tidak di inginkan hingga Mama Elsa mulai membuka suara.


“Dokter, Apakah operasinya berjalan dengan lancar?” aku hanya bisa menahan nafas sembari menatap kearah bibir dokter yang membantu Anggun di dalam sana tadi.


“Ya, operasinya berjalan dengan lancar namun pasien masih belum bisa lolos dari masa kritis, kalau pasien bangun masa kritis itu akan terlewati sebaiknya kita berdoa pada Tuhan saja," jelas Dokter tersebut pada kami bertiga. Usai bicara Dokter paruh baya itu berlalu pergi begitu saja.


Aku langsung menghembuskan nafas lega usai mendengarkan semua ini. Mama Elsa lalu memelukku dia juga merasa bahagia. Kami masih belum


bisa melihat kondisi Anggun sekarang sebab pasien masih butuh istirahat


sekarang. Mama Elsa juga mengatakan jika kondisi Anggun sudah membaik nanti dia akan membawa Anggun untuk di rawat di kediamannya, Aku tentu saja menolaknya karena Mama Elsa sudah baik sekali maka tidak mungkin aku merepotkan nya akan


tetapi Mama Elsa tidak mau mengubris ucapku sebab dia akan merasa senang sekali jika ada Anggun karena Mama Elsa sering mengeluh kesepian jika harus tinggal


di rumah itu sendirian. Papa Damar juga mengatakan jika dia malah akan sangat senang sekali jika Anggun bisa tinggal bersama dengan mereka akhirnya aku menyetujuinya.


***

__ADS_1


 aku masuk kedalam ruangan Anggun berada, aku melihat gadis kecilku itu masih menutup mata. Beberapa selang tertancap di tubuhnya ini sungguh membuat hatiku hancur suara alat deteksi jantung menambah pilu suasana di dalam ruangan ini, tidak ada lagi senyuman manis yang selama ini selalu gadis kecil ini tunjukkan padaku ketika melihat kehadiranku bahkan aku juga mengutuk diriku sendiri kenapa tidak berada disampingnya saat ia merasakan kesakitan hingga harus dokter yang menghubungi aku


dan memberitahukan kondisi Anggun yang sedang kritis. Dokter mengatakan jika Anggun sudah bangun maka masa kritisnya telah lewat tapi sudah hampir 12 jam


lamanya ia selesai di operasi namun masih belum membuka mata.


Aku mendudukkan tubuhku perlahan di atas kursi samping ranjangnya, lalu aku belai lembut tangan Anggun yang tidak tertancap infus. Aku mencium tangan itu dengan air mata yang berlinangan.


“Sayang, lekas lah bangun, Mbak Sifa menunggu kamu di sini. Kamu pernah bilang jika ingin memiliki rumah yang besar dan juga indah seperti


yang ada di dalam cerita dongeng, Mbak Sifa janji jika kamu sudah bangun dari tidur kamu dan kondisi Anggun juga stabil maka Mbak Sifa akan segera mewujudkan mimpi kamu itu,” aku mencoba untuk sebisa mungkin tidak menangis akan tetapi


gagal aku lakukan sebab semua ketegaran di dalam diriku telah lebur saat melihat Anggun berbaring tanpa bergerak di ranjang dingin pasien.


melihat Anggun menatapku. Ya, kedua kelopak mata gadis kecil itu terbuka sekarang. Aku bergegas memencet tombol di dekat ranjang dalam beberapa menit saja beberapa dokter langsung masuk kedalam ruangan ini untuk mengecek kondisi


Anggun.


Mama Elsa dan juga Papa Damar ikut masuk karena takut terjadi sesuatu pada Anggun akan tetapi wajah panik keduanya langsung berangsur menjadi air muka bahagia ketika melihat adik kesayanganku itu sudah membuka mata.


“Bagaimana dengan kondisi Adik saya, Dokter?” tanyaku sembari menatap Anggun lalu sesaat kemudian aku melihat Dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Anggun.


“Pasien sudah lolos dari masa kritis akan tetapi kondisinya masih belum sepenuhnya pulih dan pasien juga masih butuh banyak beristirahat,”


sahut Dokter tersebut. Lalu mereka pergi keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


“Anggun, apakah baik-baik saja?” tanya Papa Damar sembari menatap Anggun. Aku melihat gadis kecil itu memaksakan senyuman di bibirnya dan hal itu membuat aku tidak kuat menahan air mata ini agar tidak menetes.


“Mbak Sifa, jangan menangis,” ya, itulah kalimat lirih yang Anggun ucapkan. Ku gigit erat bibir bagian bawahku lalu menggenggam tangannya.


“Mbak Sifa, menangis karena bahagia, Sayang,” ucapku padanya.


“Kamu anak yang kuat, harus bisa berjuang melawan penyakit


ini. Mbak Sifa pasti akan mendampingi Anggun selama beberapa hari ke depan,” ucap Mama Elsa. Aku menatapnya sembari mengerutkan kening bagaimana mungkin aku bisa tinggal di rumah sakit sedangkan tugasnya menjadi istri dan juga pelayan didalam rumah itu masih harus berlangsung setiap harinya. Akan tetapi senyuman


tipis dan juga anggukkan kepala Mama Elsa seakan mengatakan semua akan baik-baik saja.


Papa Damar berpamitan pulang lebih awal karena masih ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan, sedangkan aku dan juga Mama Elsa lebih memilih menunggu di luar ruangan Anggun berada sebab adik kesayanganku itu masih membutuhkan istirahat.


"Ma, apakah tidak masalah jika, Sifa berada di rumah sakit ini selama beberapa hari ke depan?" tanyaku pada Mama Elsa. Aku tidak yakin akan menginap di rumah sakit ini nanti apa yang akan di katakan oleh Mas Sadam jika aku tidak pulang selama beberapa hari apa lagi kemarin malam aku pergi saat larut malam.


Aku tahu Mas Sadam pasti merasa bahagia karena aku tidak ada di sekitarnya, akan tetapi entah mengapa aku berharap lelaki itu merindukan kehadiranku walaupun hanya masakan ku saja yang ia sukai, itu tidak masalahnya bagiku karna diam-diam aku mulai jatuh hati padanya.


"Mama, akan bilang pada Sadam jika kamu menginap di rumah sakit jadi tidak perlu merasa khawatir," aku mengganggukkan kepala setuju.


"Ma, tolong jangan pernah bahas masalah Anggun pada Mas Sadam, Sifana tidak mau jika sampai Mas Sadam merasa kasihan pada Sifana," pintaku dengan memegang kedua tangan Mama Elsa.


'Aku mulai jatuh hati pada kamu, Mas Sadam,'


Jangan lupa follow IG Khairin_junior ya. dan ikuti akun Mangatoon Khairin Nisa terima kasih

__ADS_1


__ADS_2