
“Kamu tidak salah dengar,” usai bicara Mas Sadam melenggang
pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih berdiri membeku di posisiku semula.
Setelah beberapa saat aku sudah bisa menemukan kesadaranku kembali, ku langkahkan kaki ini keluar dari dapur menuju ke kamar. Setelah berada di dalam kamar aku segera membersihkan tubuhku dari sisa keringat lalu berganti baju. Aku kembali masuk kedalam dapur ini untuk melaksanakan perintah
Mas Sadam untuk makan bersama. Liora tersenyum manis padaku dan aku membalas senyuman polos itu, kini manik mataku beralih pada Mbak Tasya yang duduk di samping Liora, wanita itu melihatku tajam pasti dia sudah tahu jika Mas Sadam ingin aku
ikut makan bersama mereka entah apa yang terjadi hingga Mas Sadam berubah baik padaku ataukah benar apa yang dikatakan Mama Elsa? Jika lelaki itu akan merindukanku setelah beberapa hari tidak melihat keberadaanku didalam rumah ini.
Jantungku berdetak semakin kencang saat tatapanku dan juga Mas Sadam saling berhadapan satu sama lain, manik mata gelap itu selalu membuat
aku gagal membaca apa arti dari sorot matanya padaku, apakah dia senang melihat aku mengikuti perintahnya atau justru malah sebaliknya? Lagi dan lagi aku hanya
bisa menebak saja. Dengan tangan yang gemetar aku menarik salah satu kursi kosong yang berada dihadapan Mbak Tasya. Suasana di dalam meja makan ini hening sekali hingga helaan nafas kasar pasti bisa terdengar dengan sangat jelas, kedua tanganku saling menggenggam satu sama lain dari bawah meja, aku tidak berani mengangkat pandanganku karena kini Mbak Tasya pasti sedang memperhatikan diriku.
“Tunggu apa lagi, ayo kita makan bersama,” ujar Mas Sadam pada semua orang.
Perlahan tapi Pasti aku mulai mengangkat kepala, Mbak Tasya
melihatku dengan air muka jijik seakan aku ini adalah sampah yang berbau menyengat dan patut ia singkirkan sejauh mungkin dari meja makan.
“Sayang, kenapa dia harus ikut makan bersama kita, kamu tahu sendiri betapa liciknya wanita ini,” tuduh Mbak Tasya padaku dengan menatap kearah Mas Sadam. Aku melihat kedua manik mata wanita itu membulat penuh seakan sedang mencoba mengeluarkan emosi dari manik matanya saat ini.
Dengan hati yang kecewa aku mulai memundurkan kursi di meja
__ADS_1
makan ini perlahan lalu mulai beranjak berdiri dari posisi duduk. “Saya memang salah, tidak sebaiknya pelayan duduk bersama para majikan,” aku lebih baik mengalah seperti biasanya karena tidak baik jika pertengkaran ini terus berlangsung sedangkan ada anak kecil yang pasti akan merekam setiap kata yang terlontar dari mulut kedua orangtuanya lebih lagi aku mengenal betul bagaimana sikap Mbak Tasya.
“Sifana, duduklah,” perintah Mas Sadam padaku akan tetapi aku masih membeku di posisiku berdiri tanpa berani kembali menaruh tubuh ini di
atas kursi.
“Sayang, biarkan saja pelakor itu pergi dari meja makan ini,” teriak Mbak Tasya masih tidak terima dengan keputusan Mas Sadam. Aku melihat
air muka Liora mulai berubah menjadi ketakutan dan aku tidak ingin jika anak kecil ini trauma dengan pertengkaran yang terjadi karena hal itu bisa mengancam biologis si kecil.
“Mas Sadam, Mbak Tasya. Saya mohon jangan bertengkar karena
saya, lihatlah itu, Liora gemetar ketakutan dan kalian berdua pasti tahu jika ini semua akan berpengaruh besar pada pemikirannya,” aku bicara perlahan agar mudah di cerna oleh Mbak Tasya, tapi siapa sangka jika wanita itu malah merasa tersinggung dengan apa yang aku katakan barusan.
Mbak Tasya menghentakkan kursi dengan lantang lalu mengarahkan satu jarinya padaku sembari berkata, “Apakah kamu mengira jika aku
“Maaf, tidak seharusnya saya berbicara lancang seperti tadi,”
ujarku dengan kepala tertunduk.
Aku merasa perdebatan ini tidak akan pernah selesai jadi aku memilih untuk berlalu pergi dari meja makan dan kembali masuk kedalam kamarku
tanpa perduli dengan Mas Sadam yang terus memanggil namaku dan meminta aku kembali duduk di meja makan. Ingin sekali aku membawa gadis kecil itu pergi akan tetapi aku tahu jika hal itu pasti akan menambah keruh keadaan di dalam rumah ini.
Kini aku sudah sampai di dalam kamar dan aku segera mendudukkan tubuhku lalu menaruh kedua tangan di wajah, kedua pelupuk mata ini
__ADS_1
sudah tidak bisa membendung lebih banyak lagi Kristal bening. Saat bersama dengan Anggun hari-hariku bahagia sekali tapi jika sudah kembali ke rumah ini aku tidak bisa bernafas lega ataupun dengan tenang sebab setiap waktu Mbak Tasya akan selalu mencari cela untuk menjatuhkan ku.
Sudah tengah malam tapi aku masih juga belum bisa menutup mata, aku mulai merasakan jika cacing-cacing di dalam perut ini mulai demo
minta jatah makan malam mereka, ya setelah keluar dari dapur tadi aku tidak makan apapun sampai sekarang pantas saja perutku terus saja berbunyi tanpa henti. Aku tidak mau jika sampai terkena sakit lambung karena terlambat makan. Tapi
bagaimana jika aku bertemu dengan Mbak Tasya di lantai bawah, rasanya aku malas sekali jika harus bertatapan dengannya akan tetapi perut ini tidak mau di ajak
kompromi. Kini aku sudah berada di dalam dapur, aku lekas menyalakan sakral lampu dan dengan sekejap saja dapur yang semula gelap kini mulai terang-benderang.
“Malam ini aku ingin makan mie instan di tambah telur ceplok
dan juga nasi, aku sangat lapar sekali,” ucapku sembari mengusap perutku yang masih saja tidak berhenti berbunyi.
“Buatkan untukku juga,” suara lelaki yang tidak asing di pendengaran ku mulai memenuhi gendang telinga ini sontak saja langsung aku putar
tubuh menghadap kearahnya, itu memang Mas Sadam tapi sejak kapan dia berada dibelakang ku? Kenapa lelaki ini selalu berada dimana saja sungguh membuat aku
kaget dan lihatlah ini jantungku yang bodoh terus saja berdentam-dentam.
"Se-sejak kapan Mas Sadam melangkah di belakangku?” aku tidak
merasa mendengar suara langkah kaki dari tadi mangkanya tidak menyadari jika lelaki ini berada di dekatku. Ataukah tadi karena aku sibuk dengan pemikiran ku sendiri jadi tidak mendengarkan langkah kakinya.
“Sejak kamu keluar dari kamar,” sahutnya dengan santai lalu
__ADS_1
melewati aku begitu saja dan kini Mas Sadam sedang duduk di meja sembari memainkan ponselnya. Sikap Mas Sadam yang tenang membuat aku percaya jika lelaki itu tidak menyimpan sedikitpun perasaan padaku. Cinta bertepuk sebelah tangan sungguh menyakitkan bukan.
'Mungkin aku bodoh karena mencintaimu kamu. Bukankah seperti itu Mas Sadam?'