Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Salah Paham


__ADS_3

 “Sayang, biarkan saja wanita itu menanggung kesalahan yang telah dilakukan oleh putrinya.” Mas Sadam membantuku berdiri dengan paksa, aku sedikit meringis kesakitan saat merasakan luka jahitan ini terasa nyeri.


“Tolong, biarkan saya saja yang mempertanggung jawabkan semuanya, hidupnya tidak akan lama lagi jadi biarkan Dia menjalani hidupnya tanpa ada saya, aku sudah cukup menyusahkan Ibu sejak dari kecil dan biarkan Aku menebus kesalahanku sendiri.” Aku melihat Kiera terus memohon sembari menggenggam tangan Bu Ida.


“Nak, biarkan ibu saja. Melihat kamu menyadari kesalahan kamu membuat Ibu merasa bahagia jadi biarkan Ibu saja yang mengantikan hukuman kamu.” Aku melihat Bu Ida memeluk tubuh Kiera dengan berderai air mata.


“Mas Sadam, kamu jahat sekali. Bukankah Kamu sudah bisa melihat jika Kiera telah menyadari kesalahannya dan kita sebagai manusia bukankah seharusnya memberikan kesempatan kedua untuknya.” Aku tidak bisa tinggal diam melihat sikap suamiku yang semena-mena seperti ini. Jujur saja sebenarnya Aku tidak menyukai Kiera akan tetapi melihat wanita itu telah menyesali semua perbuatannya itu membuat hatiku tersentuh.


“Nak Sifa, jangan bertengkar dengan suami kamu hanya karena membela kami. Nak Sadam benar, Ibu memang bersalah karena tidak bisa mendidik Kiera dengan baik.” Aku mengelengkan kepala tidak sependapat dengan ucapan Bu Ida barusan.


“Sayang, masuklah ke dalam mobil terlebih dahulu.” Aku melihat tatapan tajam penuh perintah berbinar menyebalkan dari manik mata suamiku ini.


Meskipun marah dan juga tidak terima namun, aku takut juga melihat sorot matanya itu dan lebih memilih meninggalkan warung ini dan berjalan menuju mobil kami yang berjarak sekitar lima meter dari warung Bu Ida.


“Kenapa dengan Mas Sadam, apakan ini sikapnya yang sebenarnya kejam dan tidak bisa memaafkan orang lain? Bukankah tadi Dia sudah melihat Kiera menyesal dan Bu Ida juga sampai menangis seperti itu bahkan Bu Ida sampai berlutut di aspal meminta maaf,” ucapku sembari terus melangkahkan kaki ini menuju mobil kami.


Brak!


“Lihat saja nanti, Aku tidak akan mau berbicara dengannya,” ancam ku dalam hati sembari mengepalkan kedua tangan ini. Lama mengoceh akhirnya aku merasakan tenggorokan ini mengering, Aku melihat ada air mineral yang ada di kursi belakang, aku meraihnya dan langsung menghabiskan air dalam botol kemasan ini.


10 menit kemudian.


Aku melihat dari kaca spion mobil, Mas Sadam sedang berjalan mendekat. Aku meraih ponselku berpura-pura sibuk pada ponsel di tangan ini. Entah mengapa emosiku semakin memuncak saat melihat wajahnya yang tanpa dosa mulai memasuki mobil dan kini Mas Sadam sudah duduk di sampingku dan sudah menggunakan sabuk pengaman.


“Sayang, pakai sabuk pengamannya,” pintanya padaku. Aku langsung memasang sabuk pengaman itu tanpa menjawab ucapannya.

__ADS_1


“Sayang, apa kamu marah padaku?” tanyanya padaku dengan lembut tapi aku masih diam. Hingga Akhirnya Mas Sadam menyalakan mesin mobil ini.


“Kenapa Mas Sadam berubah kejam seperti ini, suami yang aku kenal lembut dan juga baik hati seakan sudah lenyap,” ucapku lirih tanpa menatapnya tapi Aku percaya jika Mas Sadam dengan sangat jelas bisa mendengarkan apa yang aku katakan barusan.


“Lihatlah itu,” pintanya padaku.


Aku menatap kearah Mas Sadam. “Apa?” tanyaku padanya. Mas Sadam menunjuk mengunakan dagunya.


Aku mengikuti arah pandangannya. Aku langsung terkejut melihat Bu Ida dan juga Kiera melangkah menghampiri mobil kami dengan tersenyum bahagia. Terlihat sangat jelas pipi keduanya masih dibasahi oleh air mata. Mas Sadam membuka kaca jendela di sampingku


“Nak Sadam, terima kasih,” ucap Bu Ida.


Aku langsung mengerutkan kening tidak mengerti, untuk apa Bu Ida berterima kasih. Aku menoleh kearah Mas Sadam yang hanya tersenyum sembari mengganggukkan kepalanya.


“Nak Sadam, tidak jadi menuntut Kiera. Dia bahkan memberikan pekerjaan untuk Kiera di perusahaan Erlanga namun, Kiera menolaknya. Kiera lebih memilih membantu Ibu berjualan.” Aku langsung menjatuhkan rahang tidak percaya dengan apa yang Aku dengar barusan.


“Mas, Apa maksud dari Bu Ida barusan?” tanyaku Pada Mas Sadam secara langsung.


Mas Sadam membelai puncak pelaku dengan tersenyum hangat. “Aku membebaskan Kiera dan Aku memberikan Kiera pekerjaan di kantor Erlanga sedangkan untuk Bu Ida, Aku menyuruhnya berjualan di kantin perusahaan. Kiera menolak pekerjaan yang Aku berikan karena Ia ingin membantu Bu Ida berjualan di kantin perusahaan Erlanga. Aku langsung menitihkan air mata bahagia usai mendengarkan penjelasan secara gamblang yang barusan di ucapkan oleh suamiku.


“Mas, maafkan Aku-aku sudah salah paham terhadap kamu,” ucapku padanya dengan mengusap air mata yang sempat membasahi pipi ini.


“Sifana, maafkan semua kesalahanku. Dan sekarang Aku baru sadar jika Ibu adalah orang yang paling berharga dan selama ini mataku selalu di buta kan oleh uang dan juga ambisi menjadi orang kaya hingga Aku melupakan harta yang sebenarnya dan juga paling besar adalah wanita yang telah melahirkan ku ini.” Aku melihat Kiera tersenyum manis sembari menatap Bu Ida.


“Aku berharap kalian berdua bisa memulai semuanya dari awal,” ucapku padanya.

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih atas semuanya. Dan semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan yang berlimpah serta segera di karuniai momongan,” ucap Bu Ida sembari mengusap air mata yang kembali jatuh di pipiku.


***


Aku sudah salah paham pada suamiku sendiri, dan malam ini Aku akan berdandan cantik untuk menyenangkannya, malam ini kami juga mau makan malam di restoran. Sebaiknya Aku mengunakan dress selutut sembari menyanggul rambut ini dan Aku juga mau menggunakan lipstik merah bibir agar nampak segar dan menambah sempurna polesan wajah ini.


“Akhirnya sudah selesai,” ucapku ketika menatap wajahku di cermin. Sungguh Aku nampak cantik sekali mungkin karena lama tidak merias wajah ini jadi saat mengunakan make up terlihat sangat sempurna sekali.


Cklek.


Aku melihat pantulan Mas Sadam di cermin meja rias ini segera aku beranjak berdiri dari posisi duduk dan Aku langsung menyambut Mas Sadam dengan senyuman manis. Lelaki itu menatapku dari ujung kaki sampai naik ke pucak kepala dengan air muka yang sulit dibaca.


“Mas, apakah aku terlihat cantik?” tanyaku padanya sembari memutar tubuh ini perlahan. Sesekali centil dihadapan Suami tidak masalah kan ehehe.


“Kau mau kemana, sayang?” tanya Mas Sadam padaku sembari melangkah mendekat.


“Apakah kamu lupa, Sayang jika kita akan makan malam,” sahutku padanya.


Tanpa bicara Mas Sadam langsung melepaskan ikat rambutku dan hal itu membuat rambut yang sudah susah payah aku sanggul dengan rapi berantakan dan membuat rambut panjang ku tergerai begitu saja. Mas Sadam melangkah menuju ke meja lalu mengambil beberapa helai tissue dan mengusap lipstik yang sudah aku poles sempurna.


“Mas, apa yang kamu lakukan? Kau merusak riasan wajahku,” sergahku tidak terima. Sudah sekitar 1 jam Aku memoles wajah ini agar cantik malah dia rusak begitu saja.


Kira-kira apa alasan Sadam melakukan hal ini ya?


Ikuti akun mangatoon saya dan follow ig khairin-junior

__ADS_1


__ADS_2