
Aku melihat, Mas Sadam mulai menatapku dengan sendu, binar
mata gelap dan juga tegas yang tadinya sempat menyelimuti manik matanya kini mulai tidak terlihat lagi. Aku terus bertanya dalam hati apakah lelaki itu mulai bersimpati dengan keadaanku ataukah selama ini ia hanya salah paham akan semuanya? Berapa kerasnya aku berpikir tetap saja tidak akan pernah bisa menemukan jawaban itu.
“Karena dari awal, Mas Sadam tidak pernah bertanya mengenai apa alasan aku mau menjadi orang ketiga di dalam kehidupan kalian. Bukankah
memang wanita pengganggu itu selalu salah,” ucapku sembari berdiri dari posisi duduk.
Aku merasakan tubuhku gemetar menahan air mata, jika terus seperti ini maka aku tidak akan bisa membendung air mata ini lebih lama lagi. Aku membawa dua piring kotor ke wastafel lalu mencucinya selang beberapa waktu terdengar suara langkah kaki yang mendekatiku dan aku yakin jika itu pasti Mas Sadam. Lelaki itu berdiri persis di sampingku tapi aku tidak berani menatapnya
dan lebih memilih untuk fokus menyelesaikan mencuci piring. Lelaki itu meminta maaf padaku akan apa yang telah terjadi aku mengganggukkan kepala samar, tapi
yang tidak disangka Mas Sadam justru meraih kedua tanganku dan reflek tubuh ini langsung menghadapnya. Lelaki itu berbicara jika aku adalah istrinya dan dia
akan mencoba sebisa mungkin memperlakukan aku sama seperti memperlakukan Mbak Tasya, entah
ini hanya mimpi atau kata-kata penyesalan yang di lontarkan oleh lelaki itu tapi aku hanya bisa menganggukkan kepala lagi. Dan selama menikah ini untuk kali pertama Mas Sadam mengecup keningku.
Aku hanya bisa memejamkan mata tapi jelas sekali aku merasakan jika kini semburat merah mulai menghiasi kedua pipiku, seperti ada gelenyar aneh yang membentuk suatu riak kecil di dalam tubuh lalu berkumpul di
pusatnya bahkan aku juga bisa merasakan dengan perlahan tapi pasti bulu halus di tubuh ini mulai meremang sempurna ketika hembusan nafas hangat lelaki itu
sempat menyentuh wajahku hingga akhirnya menjauh.
“Kita mulai semuanya dari awal lagi, apakah kamu mau?” tanya Mas Sadam padaku sembari menatapku. Dan aku hanya bisa menunduk tanpa berani menatap matanya setelah ia mengecup keningku. Namun lelaki itu malah mengajak tangannya untuk mengangkat daguku sehingga mau tidak mau aku menatap matanya. “apakah kamu mau memulai semuanya dari awal lagi?” tanyanya untuk kali kedua.
“Bagaimana dengan, Mbak Tasya?” tanyaku padanya. Entah mengapa
__ADS_1
aku justru malah memikirkan wanita lain dan bukan diriku sendiri.
“Aku akan berbicara padanya, kamu tidak salah mengenai hal ini andaikan dari awal aku mengetahui semuanya mungkin kamu tidak perlu menuruti
permintaan Mama dan juga Papa untuk melakukan skandal itu sehingga membuat aku dan juga Tasya salah paham dengan kamu, aku akan dengan suka rela membantu
membayar biaya pengobatan adik kamu itu,” secara tidak langsung Mas Sadam juga mengatakan kalau dia menyesal telah menikah denganku, tapi aku tidak mau memikirkan hal itu sebab malam ini aku sangat bahagia sekali karena lelaki yang aku cintai maksudku suamiku memutuskan untuk memulai semuanya dari awal.
“Aku akan menuruti apapun yang akan, Mas Sadam katakan,” jawabku mengiyakan semuanya.
***
Tanpa terasa senja sudah mulai naik ke peraduannya mengantikan bulan bertahta menghiasi indahnya langit, sejak semalam aku masih belum bisa menutup mata, ya, aku masih belum bisa tidur sejak semalam bahkan
bekas kecupan Mas Sadam di keningku juga masih bisa terasa seakan baru saja terjadi, aku bisa merasakan kedua pipi ini memerah ketika membayangkan bibir tebal penuh sensasi itu mendarat di kening ini dengan lembut dan sedikit lebih
pagi karena ini adalah pagi pertama aku menjadi istri yang di akui oleh
suamiku, Tuhan aku sungguh tidak pernah berpikir hari ini akan tiba secepat ini dan semoga saja Mbak Tasya bisa menerima keberadaan sebagai madunya.
“Ya, Tuhan semoga saja semuanya berjalan lancar,” gumamku dalam hati sembari mengangkat kedua tangan di udara lalu mengusap wajah ini. “amin.”
Aku mencuci piring kotor yang baru saja aku gunakan untuk membuat sarapan pagi, pagi ini aku membuat bubur ayam karena kemarin sore Liora sempat memintanya padaku. Aku juga sudah mencicipi rasanya bubur itu dan pastilah lezat karena aku selau membuat makanan dengan penuh cinta dan juga ketulusan
hati. Mbak Tasya mengandeng Liora masuk kedalam ruangan dapur ini, Liora hendak melangkah menghampiri aku akan tetapi Mbak Tasya langsung menggenggam tangannya dan membulatkan kedua matanya hingga gadis kecil itu memilih untuk duduk di kursi meja makan bersama dengan Mbak Tasya. Aku langsung memalingkan wajahku
tidak bisa melihat gadis kecil itu di perlakukan demikian namun jika aku ikut campur nanti Mbak Tasya akan marah.
__ADS_1
“Sifana, kenapa kamu masih berdiri di sana?” kudengar Mas Sadam memanggil namaku, aku yang tadi sedang menaruh peralatan memasak di tempatnya semula langsung menoleh kearah Mas Sadam.
“Mas Sadam, saya sarapan pagi nanti saja,” sahutku tidak mau memperkeruh keadaan.
“Sayang, Sifana adalah istriku juga jadi sudah sepantasnya jika mulai sekarang dia bergabung bersama kita di meja makan ini dan aku juga
berharap jika kamu mau menerimanya di rumah ini dan tidak membatasi gerakan Liora jika ingin dekat dengan, Sifana.” Aku hanya bisa mengigit bibir bagian bawahku mendengarkan penuturan Mas Sadam barusan, aku menatap kearah Mbak Tasya sekilas yang masih duduk santai di posisinya sekarang.
“Apakah kamu mulai menyukainya, Sayang?” tanya Mbak Tasya pada Mas Sadam dan aku menahan nafas sesaat menunggu bibir Mas Sadam terbuka untuk menjawabnya.
“Dia juga istriku dan aku hanya bisa bersikap adil pada kalian berdua,” jawaban Mas Sadam membuat kedua pipi ini memanas sepertinya rona merah mulai menghiasi kedua pipiku lagi dan lagi.
“Kalau begitu, aku akan berusaha untuk menerimanya,” aku sungguh tidak menyangka jika Mbak Tasya bisa dengan mudah menerima semua ini padahal biasanya dia akan berbicara kasar padaku dan tidak segan untuk memberikan tatapan intimidasi akan tetapi kali ini sangat berbeda sekali. Mungkin ini pertanda jika Tuhan telah menjawab doa ku.
Kulihat Mas Sadam menggenggam tangan Mbak Tasya yang ada di
atas meja lalu menatapnya sembari berkata, “Sayang, apakah barusan aku tidak salah dengar?” aku melihat tatapan mata Mas Sadam meminta jawaban.
“Ya, Sayang kamu tidak salah mendengarkan karena bagiku asalkan kamu bahagia maka aku juga akan merasa bahagia.”
“Mama, Papa. Apakah mulai sekarang Mbak Sifana akan makan bersama dengan kita di meja makan ini?” gadis kecil itu langsung bertanya dengan sangat antusias sekali.
“Iya sekarang, Liora panggil Mbak Sifana dengan sebutan, Mama Sifana saja sebab dia juga istri kedua, Papa,” aku mengerutkan kening usai
mendengarkan Mbak Tasya mengatakan itu pada Liora. Ini sungguh tidak seperti Mbak Tasya yang bisanya sikapnya berubah 100%.
'Aku sangat bahagia sekali dan itu karena kamu, Mas Sadam.'
__ADS_1