
Aku melihat Liora kini menatap kearah Mbak Tasya. “Ma, jangan terus menyalahkan Mama Sifa atas semua yang terjadi, Liora lihat sendiri Mama Tasya melukai Mama Sifana sampai bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.”
Suara Liora yang gemetar dan juga air mata yang terus saja tumpah di kedua pipinya membuat nafasku semakin sesak ketika membayangkan perasaan hancur dan juga tertekan yang anak kecil itu alami. Bahkan kini Aku juga melihat Mama Elsa ikut menitihkan air mata sembari mengusap kedua pundak Liora seakan sedang menyalurkan ketenangan dari usapan lembut itu.
“Liora, kenapa kamu membela wanita gila itu. Dia adalah wanita yang jahat dan pura-pura baik,” ucap Mbak Tasya masih mencoba untuk menghasut Liora dan Aku tidak bisa tinggal diam.
“Mbak Tasya, saya mohon berhentilah membuat Liora tertekan. Anak ini adalah keturunan kamu sendiri dan darah daging kamu bagaimana mungkin kamu bisa terus mencoba menekan mentalnya, kasihan Liora Mbak,” ucapku penuh penegasan pada Mbak Tasya. “Kami ke sini ingin menjenguk Mbak Tasya dan Aku juga secara langsung mau meminta maaf jika selama ini sengaja atau tanpa sengaja sudah melukai hati Mbak Tasya,” sambung ku sembari menatapnya lekat.
“Hahahaha! Kau paling pandai sekali bersandiwara, kenapa kamu tidak mati saja waktu itu, hanya dengan begitu Sadam akan kembali padaku.” Aku melihat guratan kebencian dan juga percikan emosi yang sedang berkobar di manik mata Mbak Tasya. Wanita itu hendak melangkahkan kakinya mendekatiku akan tetapi kedua pengawal dengan tubuh tegap nan kekar itu menghalanginya dengan tatapan membunuh hingga membuat nyali Mbak Tasya menciut seketika.
“Sifana, Mama sudah mengatakan dari tadi jika wanita gila sepertinya tidak akan pernah bisa di ajak bicara. Sudah masuk kedalam penjara juga masih tidak mau mengakui kesalahannya malah menyalahkan orang lain! Akan aku pastikan Sadam menceraikan kamu,” ketus Mama Elsa sembari melangkah mendekati Mbak Tasya.
Para pengawal langsung memberikan jarak akan tetapi masih memberikan tatapan siaga. Sedangkan Aku sendiri langsung memeluk Liora sebab tubuhnya gini gemetar hebat seakan menahan kegelisahan dan juga perasaan kecewa melihat wanita yang telah melahirkannya itu justru tidak mau mengakui kesalahannya.
Plak!
“Tamparan ini untuk cucuku yang telah kau tekan mentalnya selama ini, dan akan aku pastikan kau tidak akan bebas untuk selamanya dan satu lagi kekasih kamu juga berada di jeruji besi. Kalian berdua pasangan kriminal yang sangat cocok sekali.” Ucapan Mama Elsa terdengar menohok sekali.
Mbak Tasya hendak meludahi wajah Mama Elsa. Aku yang melihatnya langsung membulatkan mata panik, tapi belum sempat hal itu terjadi pada pengawal langsung mendorong Mbak Tasya kebelakang hingga wanita itu jatuh ke lantai. Mbak Tasya meringis kesakitan dengan air mata yang tumpah membasahi pipinya, dengan susah payah akhirnya Ia berhasil mendudukkan tubuhnya juga di lantai ini kemudian menatap Liora lagi.
“Sayang, sekarang hanya kamu saja yang Mama miliki, tolong bujuk Papa untuk mengeluarkan Mama dari tempat ini. Mama akan janji menjadi Mama yang baik untuk kamu dan kita mulai semuanya dari awal.” Dengan sekejap mata Mbak Tasya sudah bisa merubah air mukanya menjadi melas seperti ini-sungguh wanita licik yang sangat mengerikan sekali.
“Ma. Keputusan Papa memang benar, jika Mama Tasya keluar dari tempat ini maka akan melukai banyak orang.” Aku melihat Liora mengusap air matanya dan intonasi suaranya juga terdengar samar namun kami semua masih bisa mendengarkan ucapannya dengan sangat jelas.
__ADS_1
“Liora, jangan lakukan ini pada Mama.” Aku melihat Mbak Tasya mulai merengek sembari berdiri dari posisi duduknya.
“Mama, Nenek. Ayo kita pulang,” pinta Liora sembari menatap kearah Aku dan juga Mama Elsa secara bergantian.
“Baiklah, Sayang,” sahut Mama Elsa sembari mengusap pipi cucu kesayangannya itu.
“Ma, bagaimana dengan makanan itu?” tanyaku melirik kearah beberapa rantang makanan yang sejak dari tadi di bawa oleh dua pengawal.
“Suruh polisi membagikan makanan ini ke sel dimana Tasya berada, mereka semua pasti bisa menghargai makanan ini dari pada Dia.” Mama Elsa bicara pada pengawal kemudian sesaat kemudian Ia melirik tajam kearah Mbak Tasya.
Aku dan juga Mama Elsa mengandeng tangan Liora keluar dari tempat ini sedangkan di kejauhan teriakan Mbak Elsa meminta maaf dan juga merengek minta di bebaskan masih terdengar di telingaku. Aku menatap Liora yang terus berjalan lurus ke depan tanpa menoleh kearah belakang untuk melihat Mbak Tasya.
Perusahaan Erlanga Grup.
Cklek!
Mama Elsa dan juga Liora masuk terlebih dahulu kemudian Aku. Aku menatap Anggun duduk di sofa sembari memainkan ponselnya sedangkan Mas Sadam sendiri sibuk semedi di balik tumpukan berkas yang sudah menanti untuk Ia jamah.
“Papa.” Aku melihat Liora langsung berlari kearah Mas Sadam dengan isak tangis yang kembali terdengar.
Mas Sadam yang masih belum menyadari keberadaan kami terkejut, Ia mengangkat pandangannya dan langsung mengerutkan keningnya bingung melihat wajah putrinya sudah di penuhi dengan air mata dan matanya juga bengkak hingga membuat mata indah itu terlihat menyipit.
“Sayang, ada apa?” tanya Mas sadam sembari beranjak bangkit dari kursi kerjanya kemudian memeluk Liora.
__ADS_1
Aku dan juga Mama Elsa hanya bisa diam menatap kearah Liora dengan perasaan yang pilu. Tatapan Mas Sadam penuh tanya mengarah pada Aku dan juga Mama Elsa tapi kami hanya diam karena tahu kalau Liora akan menceritakan semuanya.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Mas Sadam pada Liora. Aku melihat lelaki itu mengendong putrinya kemudian Ia kembali duduk di kursi kerja dan kini menaruh Liora duduk di meja kerjanya sedangkan laptop yang tadi di atas meja langsung Mas Sadam taruh di pinggir meja.
Liora masih belum menjawab pertanyaan Mas Sadam, anak kecil itu masih menangis dengan terisak-isak. Mas Sadam memeluknya mencoba menenangkan putri kecilnya ini. Anggun yang tidak mengetahui apapun ikut menangis Ia tidak tega melihat adik kesayangannya menangis seperti itu.
“Jangan menangis lagi, Papa, Mama Sifa, Nenek dan juga Mbak Anggun akan ada di samping Liora jadi tidak usah takut.” Aku melihat Mas Sadam mengusap kepala Liora kemudian mengecupnya beberapa kali.
10 menit kemudian.
Tangisan Liora mulai surut namun Ia masih sesenggukan. Mas Sadam meraih gelas yang berisikan air minum lalu membantu putrinya itu untuk meminumnya. Liora meminum air tersebut sampai tinggal setengah di gelasnya.
“Sekarang bisakah, Liora ceritakan apa yang sedang Liora rasakan pada, Papa,” pinta Mas Sadam dengan wajah memohon.
“Mama Tasya, sangat jahat sekali. Dia selalu menyalahkan Mama Sifana bahkan Mama Tasya juga hampir meludahi Nenek tadi, Liora sangat takut sekali.” Aku melihat Liora memeluk Mas Sadam seakan meminta perlindungan.
“Sayang, jangan takut Papa dan semua orang tidak akan membiarkan Mama Tasya melukai kamu,” ucap Mas Sadam.
“Papa, Liora takut. Jangan biarkan Mama Tasya melukai kita.”
Aku melihat guratan emosi muncul di wajah Mas Sadam seakan lelaki itu sedang mencoba menahan emosinya melihat putri kecil yang sangat Ia sayangi mengalami tertekan seperti ini. Mas Sadam menatap Mama Elsa dan Aku melihat Mama Elsa mengganggukkan kepalanya entah apa artinya itu, aku juga tidak tahu.
Sinar mentari yang seharusnya bersinar menyinari bumi kini mulai nampak meredup seakan semesta sedang ikut bersedih melihat tangisan anak kecil itu. Liora yang malang tidak seharusnya kamu mendapatkan perlakuan seperti ini disaat usia kamu masih terlalu kecil akan tetapi terkadang kita tidak bisa memilih dan hanya bisa menjalaninya dengan lapang dada.
__ADS_1