
Aku menatap kearah Mbak Tasya yang masih senyam-senyum
sendiri bahkan wanita itu kini tengah duduk di taman sembari melakukan video call, entah sejak kapan panggilan telepon itu berganti ke video call. Tapi bukan itu masalahnya, kenapa Mas sadam berada di dalam kamarku malam begini? Ataukah
mungkin dia mengira jika Mbak Tasya berada di dalam kamarku, ya sepertinya memang begitu.
“Mas Sadam, Mbak Tasya tidak ada di dalam kamar ini,” ucapku
sembari menatapnya. Lelaki itu tidak menjawab namun dia malah melangkah mendekati aku, aku hanya bisa mundur kebelakang hingga punggungku membentur kaca jendela, mata lelaki itu masih menatapku hingga sepersekian detik ia mulai
menatap ke luar jendela dan keningnya mulai berkerut dalam jika aku tidak salah mengartikan sekarang ini pasti Mas Sadam sudah melihat Mbak Tasya melakukan panggilan video call dengan orang lain.
“Apakah kamu sering melihat hal ini?” Mas Sadam tidak mengubris ucapku tadi dan ia menatapku dengan penuh tanya, aku hanya bisa menundukkan kepala karena tidak sanggup jika beradu pandang dengannya entah
mengapa jantung ini pasti akan senam musik disko dengan sekejap mata.
“Jawab,” lelaki itu mengangkat daguku perlahan dengan jari
telunjuk.
“Hanya beberapa kali,” jawabku gugup.
“Kenapa tidak bilang padaku?” lelaki itu berbicara dengan menatap mataku lekat, entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya akan tetapi tubuhku seakan lemas berada disampingnya.
“Karena aku tahu dengan sangat jelas jika Mas Sadam tidak akan pernah percaya dengan apa yang aku ucapkan,” memberikan jeda sejenak untuk kalimat yang aku ucapkan. “dan aku juga tidak ingin membuat Mbak Tasya semakin membenci aku,” sambungku sembari menundukkan kepala.
“Aku tidak pernah membenci kamu. Tapi aku juga tidak pernah menyukai kamu, karena selamanya kamu adalah istri pilihan kedua orangtuaku dan tidak lebih dari itu.”
Usai mengatakan kata mematikan itu, Mas Sadam langsung berbalik arah begitu saja. Dia bahkan tidak pernah bertanya padaku kenapa aku
mau menikah dengannya dan apa alasannya apakah sehina itu aku dimatanya, Tuhan tolong berikan sedikit saja cela pada lelaki itu untuk bisa mengerti kondisiku. Aku juga tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain dan percayalah jika
aku sendiri juga merasa tersiksa sekali.
__ADS_1
“Aku akan menceraikan, Mas Sadam jika semua urusanku sudah selesai,” ujarku dengan suara yang gemetar. Bahkan pandanganku mulai terlihat
nanar sekarang karena kedua manik mata ini sedang di selimuti oleh Kristal bening, tapi aku masih bisa melihat jika kini Mas Sadam berbalik arah dan menatapku dari jarak 1 meter.
“Apakah karena uang kamu masih bertahan menjadi istriku?” tanya lelaki itu dengan kejam, tapi itu memang benar aku butuh banyak uang
untuk pengobatan Anggun.
“Ya,” sahutku singkat. Aku juga tidak mau menjelaskan untuk apa uang itu ku gunakan karena Mas Sadam juga tidak akan pernah perduli dengan
apa yang terjadi pada kehidupanku dan juga Anggun.
“Bisakah kau menceraikan aku lalu sebagai gantinya aku akan memberikan berapapun banyak uang yang kamu inginkan,” ujar Mas Sadam dengan menaruh kedua tangannya di dada. Lelaki ini benar-benar sudah di butakan oleh cinta hingga ia rela menerima wanita yang telah berselingkuh dengan lelaki lain.
“Dari pada uang aku lebih membutuhkan mukjizat, bisakah Mas
Sadam berikan itu padaku?” tanyaku dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat.
Aku melihat lelaki itu mengerutkan keningnya perlahan lalu bertanya mengenai arti dari ucapan ku tadi. Tapi aku tidak mau menjelaskannya
mendengarkan dering ponselku berbunyi.
Jantungku semakin berdetak kencang, ini pasti kabar mengenai
Anggun, karena tidak bisanya ada panggilan telepon tengah malam begini. Aku langsung mendudukkan tubuhku lalu menyambar ponsel yang ada di atas nakas. Air mata yang tadi sudah susah payah aku tahan akhirnya jatuh juga ketika aku mendapatkan kabar jika kondisi Anggun sedang kritis sekarang dan dia harus segera di operasi jika tidak begitu maka nyawanya bisa melayang.
Aku menatap kearah Mas Sadam yang mengerutkan kening merasa
penasaran dengan orang yang berbicara denganku di telepon akan tetapi lelaki itu tidak bertanya dan hanya menatapku saja. Aku bergegas menganti piyama tidurku dengan celana jeans hitam, kaos oblong berwarna putih dan juga jaket
jeans hitam. Aku terkejut sekali ketika keluar dari kamar mandi dan melihat Mas Sadam masih berada didalam kamarku.
“Mas Sadam, saya harus pergi ke rumah sakit sekarang,” pamitku padanya.
__ADS_1
“Itu bukan urusanku.” Ya, itulah kata yang lelaki itu katakan padaku.
Tanpa menjawab ucapannya aku bergegas keluar dari kamar
begitu saja, aku sibuk memesan driver online sembari keluar dari rumah ini, kulihat Mbak Tasya yang tadi sedang tertawa sendiri dengan ponsel di depan wajahnya seketika langsung menyembunyikan ponsel itu di belakang punggungnya bahkan wanita itu menghampiriku degan cepat lalu berkata.
“Jalang, kau mau kemana? Apakah kamu mau jual diri malam-malam begini keluar rumah,” tuduhnya dengan kejam.
Aku melihat Mas Sadam keluar dari rumah lalu menatap kami berdua, aku tidak menjawab ucapan Mbak Tasya karena yang terpenting bagiku
sekarang adalah kehidupan Anggun. Aku bertahan di rumah ini juga demi adik kesayanganku itu.
3 jam kemudian.
Aku mondar-mandir di luar pintu ruangan operasi. Sesekali aku melihat kearah pintu bercat putih yang masih tertutup rapat, di dalam sana adik
yang sangat aku sayangi sedang berjuang melawan penyakitnya, dokter juga bilang jika operasi ini berhasil maka kemungkinan besar Anggun akan sembuh dan aku
juga berharap demikian. Lorong rumah sakit ini terlihat sepi sekali, suara langkah kaki mengetuk-ngetuk lantai rumah sakit ini dengan keras, aku melihat kearah suara langkah tersebut dan mendapati Mama Elsa dan juga Papa Damar berjalan ke arahku dengan wajah terlihat panik.
“Sayang, bagaimana dengan kondisi Anggun?” tanya Mama Elsa padaku setelah dia berada di hadapanku.
Aku langsung memeluknya dengan sangat erat lalu menangis
tersedu-sedu, aku sudah berusaha untuk tetap tenang akan tetapi tidak bisa karena Anggun adalah hidupku dia satu-satunya kerabat yang aku miliki, apa artinya aku jika Anggun pergi aku sungguh sulit sekali untuk bisa berpikir positif sekarang.
“Ma, Anggun masih ada di dalam sana,” sahutku disela-sela tangisan.
Papa Damar mengusap pelan punggungku lalu berkata, “Kamu
yang sabar, Anggun adalah anak yang kuat, operasinya pasti berhasil,” aku
sungguh beruntung memiliki kedua mertua yang sangat menyayangi aku seperti ini.
__ADS_1
'Aku membutuhkan mukjizat. Bisakah kamu berikan, Mas Sadam?'