
Sifana pov.
Aku tidak tega melihat Papa Damar memukul, Mas Sadam. Dengan secepat mungkin aku mencoba berlari dan akhirnya aku sampai tepat waktu-tepat sebelum bogem mentah itu mendarat di wajah Mas Sadam untuk kali kedua, jika aku tidak salah tebak mungkin papa damar marah karena kejadian yang menimpaku malam itu pasti beliau mengecek cctv yang terdapat di seluruh rumah waktu malam itu dan melihat Mas Sadam pulang dalam keadaan yang mabuk.
Aku memang masih marah pada Mas Sadam, tapi aku juga tidak setega itu membiarkan suamiku di pukul oleh papa damar sampai bibirnya
mengeluarkan darah segar. Aku membawa Mas Sadam masuk kedalam rumah dan menyuruh lelaki itu untuk duduk di ruang tengah sedangkan aku sendiri lekas
mengambil kotak p3k untuk mengobati lukanya itu, memang luka kecil tapi aku tidak tega melihatnya. Aku mengobati luka Mas Sadam tanpa menatapnya sama sekali aku terus saja fokuskan manik mata ini untuk mengobati luka di sudut bibir bagian kanannya. Lelaki itu terus melihatku dalam diam.
Selang beberapa waktu Mama Elsa dan juga Papa Damar duduk di
sofa yang berbeda dengan kami keduanya menatap kami tanpa berbicara sedangkan Mbak Tasya sendiri berada di dalam kamar bersama dengan Liora sebab tadi aku
menyuruh Mbak Tasya untuk membawa Liora masuk kedalam kamar karena tidak baik jika sampai anak kecil itu melihat adegan kekerasan di depan matanya. Aku sudah selesai mengobati luka Mas Sadam, aku hendak beranjak pergi tapi ucapan Papa Damar menghentikan gerakan ku, lalu aku pun kembali mendudukkan tubuh di sofa yang sama dengan Mas Sadam namun aku memberikan jarak diantara kami berdua.
“Sifana, Papa ingin bicara,” aku menatap wajah papa mertuaku
dengan mengganggukkan kepala satu kali. “Papa dan juga Mama sangat menyesal sekali karena telah membiarkan Sadam bersama dengan kamu berdua,” sambung lelaki paruh baya itu sembari mengusap kasar wajahnya yang teradapat penyesalan
mendalam.
“Jika tahu hal buruk itu yang akan terjadi pada kamu maka malam itu, Mama tidak akan pernah membiarkan kalian berdua sungguh, Mama meminta maaf,” aku melihat Mama Elsa menitihkan air mata wanita paruh baya itu lekas mengusap air mata penyesalan yang kini membasahi kedua pipinya.
“Ma, Pa. Tidak perlu meminta maaf karena semua sudah terjadi,” sahutku dengan nada suara parau dan aku sebisa mungkin menepis bayangan menyakitkan tentang malam itu. “Sifana ingin bercerai dengan, Mas
Sadam,” sambungku lagi setelah memantapkan hatiku untuk mengucapkan kata itu.
__ADS_1
Entah mengapa hati ini terasa sangat sakit sekali ketika mengatakan kata menyakitkan itu, sungguh aku tidak ingin bercerai tapi aku juga tidak tahan melihat kebencian mbak Tasya padaku lebih lagi aku takut jika Mbak Elsa akan menemui Anggun lalu mengatakan jika aku menjadi pengganggu di dalam rumah tangannya, kondisi Anggun masih belum benar-benar stabil dan aku tidak mau mempertaruhkan kehidupan adikku hanya karena keegoisan ku.
“Aku tidak setuju,” Mas Sadam langsung menolaknya dan aku
merasakan lelaki itu kini sedang menatapku, tapi aku tidak mau melihatnya dan lebih memilih menatap lurus ke depan.
“Sifana, Mama mohon jangan seperti ini demi kami berdua tolong jangan meminta hal yang tidak akan sanggup untuk kami kabulkan,” aku melihat Mama Elsa semakin menitihkan air mata dan aku ikut hancur melihatnya
bersedih seperti ini, wanita paruh baya itu bisanya terlihat tegar dan tidak pernah aku melihatnya rapuh seperti ini bahkan ketika bertengkar dengan Mbak Tasya waktu itu juga Mama Elsa tidak sedih begini , aku tahu dia sangat menyayangiku
bahkan ketik aku menjadi pelayan di dalam rumah ini juga Mama Elsa dan juga Papa Damar selalu bersikap baik padaku.
“Ma,Pa. Sifana sudah tidak tahan lagi,” ucapku pada mereka dengan bibir yang gemetar. Air mata yang sudah sejak tadi aku tahan akhirnya luluh-lantah dan membanjiri kedua pipiku.
“Sifana, aku mohon berikan kesempatan padaku untuk
membujuk aku untuk merubah keputusan.
“Saya tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan Mas Sadam
dan juga Mbak Tasya, saya juga akan pergi dari kalian semua agar kehidupan ini kembali tenang dan juga damai tidak ada saya yang selalu membuat masalah di dalam rumah ini,” aku menatap Mas Sadam dengan manik mata yang sudah diselimuti oleh Kristal bening. Aku memutar kedua bola mata ini agar Kristal bening ini tidak sampai menetes dan merobohkan segala pertahanan diri yang telah aku
bangun.
“jika dalam dua bulan ke depan kamu masih belum mencintai, Putra kami maka kami sendiri yang akan mengurus surat perceraian itu,” aku
menatap Papa Damar terlihat berat sekali ketika berbicara, tapi lelaki itu
__ADS_1
mungkin juga tidak ingin memaksaku untuk tetap bersama dengan putranya yang selalu membuat aku tersiksa.
“Pa, kenapa malah bicara seperti itu bukankah tadi, Sadam sudah bilang jika tidak mau bercerai dengannya,” aku melirik kearah Mas Sadam
yang kini sedang menatap nyalang kearah Papa Damar seperti seorang musuh.
Papa Damar menaruh kedua tangannya di dada sembari
menyandarkan punggungnya di sofa seakan lelaki itu mencoba tetap bersikap tenang walaupun sudah mulai lelah menghadapi sikap Mas Sadam yang selalu seenaknya sendiri. “Selama ini kami selalu diam dan juga menahan emosi ketika
melihat kamu terus saja menyangkal tentang kebenaran kalau Tasya berselingkuh dengan lelaki lain bahkan aku dan juga Mama kamu telah berpuluh kami menunjukkan bukti nyata akan tetapi kamu tetap saja menutup mata dan juga telinga
kamu bahkan kamu selalu mengatakan jika Tasya bukanlah wanita seperti itu,” Papa Damar menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan dari mulut. “sekarang giliran, Papa yang berbicara dan kamu tidak boleh melawan perintah, Papa.”
“Papa dan juga Mama sudah menganggap Sifana sama seperti anak kami sendiri jadi dalam dua bulan ke depan kamu juga harus memilih antara Sifana atau Tasya yang akan kamu pertahankan. Dan andai kata kamu memilih Sifana
tapi Sifana tidak mau menerima kamu menjadi suaminya maka keputusan Final tetap berada ditangan Sifana karena wanita malang ini yang selalu di rugikan atas
ketidak adilan yang telah kamu lakukan.
“Ma, Pa. Terima kasih karena selama ini selalu percaya dan juga membela, Sifana.”
Mama Elsa berdiri dari posisi duduknya dan mengajak aku
melangkah menuju kamar meninggalkan Mas Sadam dan juga Papa berdua saja di ruang tengah rumah ini. Awalnya aku merasa ragu karena takut kejadian di gazebo rumah terulang lagi tapi Mama Elsa mengatakan jika hal itu tidak akan pernah terjadi Sebelum aku dan juga Mama Elsa benar-benar pergi meninggalkan ruangan ini sayup-sayup aku mendengar Papa Damar memperingati Mas Sadam agar menaruh cctv di seluruh rumah ini tanpa sepengetahuan Mbak Tasya.
Jika kalian membaca novel author dan ada paragraf yang tiba-tiba terpisah padahal belum waktunya pindah paragraf maka, Nisa minta maaf yang sebesar-besarnya karena itu karena kalian membaca dari aplikasi.
__ADS_1