Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Semua Karena Mas Sadam


__ADS_3

Aku menatap Mas Sadam dengan alis yang berkerut dalam sebab Aku kesulitan membaca arti tatapannya pada Mbak Tasya sekarang. Dengan perlahan tapi pasti Aku mulai merasakan jika tanganku yang di genggam oleh Mas Sadam mulai mengembun tanda jika hatiku sedang gelisah, bibir ini memang diam tapi cairan dingin yang menyelimuti buku tangan ini sudah mengungkapkan semua dan Aku yakin jika kini Mas Sadam pasti menyadarinya. Aku mengerakkan jari tanganku untuk melepaskan genggaman Mas Sadam dari tangan ini akan tetapi lelaki itu justru memegang tanganku dengan erat.


Aku melihat Mas Sadam menarik nafas dalam seolah sedang berusaha memantapkan hatinya akan keputusan yang ia ambil, helaan nafas yang lolos dari bibirnya mengutarakan jika ia sudah siap mengambil keputusan besar dalam hidupnya. “Tasya, Aku sudah memaafkan kamu sejak kau keluar dari rumah ini.”


“Mas Sadam, terima kasih.” Mbak Tasya mengusap cairan bening yang tadi sempat membasahi wajahnya lalu melangkah mendekat sembari merentangkan kedua tangannya bersiap mendekap Mas Sadam dalam pelukannya.


“Namun, Aku tidak bisa bersama dengan kamu lagi,” sambung Mas Sadam. “Hubungan kita telah berakhir sejak lama, dan sekarang kamu carilah kehidupan kamu sendiri tanpa mengganggu rumah tangga kami. Kurang dari tiga bulan lagi kita akan resmi bercerai secara agama dan juga hukum negara.”


Ucapan Mas Sadam itu menghentikan langkah Mbak Tasya. Wanita itu membeku di tempatnya sekarang dengan wajah yang pucat pasih seakan ucapan Mas Sadam barusan menyerap semua darah dari wajah itu seperti tinta penghisap darah. Mas Sadam melepaskan tautan tangannya dariku lalu menaruh tangan itu di pundak sembari berkata.


“Sayang, ayo kita makan malam,” ucapnya lembut padaku sembari tersenyum tipis.


“Baik, Mas.” Aku dan juga Mas Sadam melangkah pergi meninggalkan Mbak Tasya yang sekarang masih membeku di posisinya dengan wajah sudah berurai air mata.


Kami melangkah menuju ke dapur dengan tangan yang masih bergandengan.


“Mama, Papa. Ayo kita makan Liora lapar sekali,” ucap Liora pada kami usai melihat kami berdua melangkah menuju meja makan.


“Tentu saja, kita akan makan sekarang,” sahut Mas Sadam pada Liora sembari mengusap puncak kepala putrinya itu kemudian membenamkan ciuman lebih lama di sana. Mas Sadam sepertinya menyesal sekali karena Liora yang menjadi imbas akan perpisahan mereka.


“Sifana, apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Mama Elsa padaku.

__ADS_1


“Tentu saja, Ma. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” sahutku sembari berbisik.


***


Aku sedang berdiri di balkon kamar. Netra ini menatap indahnya langit yang sedang di penuhi dengan bintang yang bertebaran bahkan sang bulan juga menampakkan keindahannya dengan sangat sempurna. Aku mulai mengalihkan pandangan pada pohon-pohon yang menjulang tinggi di halaman rumah ini, sesekali dedaunan itu bergoyang kesana-kemari ketika hembusan angin menerpanya. Malam ini hatiku terasa tenang sekali ketika mengetahui keputusan Mas Sadam untuk tetap menceraikan Mbak Tasya mungkin Aku terlihat sangat egois sekali, tapi Mbak Tasya orang jahat dan mungkin itu hukum karma dia sebab telah menyakiti anak dan juga suaminya bahkan Anggun yang malang juga terkena imbasnya.


“Sayang, kenapa kamu berdiri di sini, lihatlah anginnya lumayan kencang nanti kamu bisa sakit,” aku mengalihkan pandangan kearah samping lalu melihat Mas Sadam kini menaruh dagunya di pundak ku dengan kedua tangan memeluk pinggangku seakan mencoba menyalurkan kehangatan di tubuhnya padaku.


“Mas, aku sedang ingin bersantai saja,” sahutku padanya.


Mas Sadam mengenakan baju tidur berwarna hitam-warna senada dengan yang Aku gunakan. Dia terlihat sangat tampan sekali, pahatan wajahnya nampak sempurna dan kini tidak ada bulu halus di rahangnya, sepertinya lelaki ini baru saja mencukur janggutnya.


Mas Sadam membalikkan tubuhku hingga kini Aku menghadapnya. “Sayang, kita bersantai saja di dalam kamar ucap Mas Sadam dengan senyuman devilnya.


“Sayang, aku tidak bisa tidur sebelum melakukannya,” rengek Mas Sadam padaku seperti anak kecil yang meminta untuk diberikan permen. Aish wajahnya sangat tampan sekali dan juga menggemaskan sungguh membuat aku tak bisa menolaknya.


“Hanya satu kali saja.”


“”Baiklah,” sahutnya sembari merangkul pundak ku dan mengajak aku masuk kedalam kamar. “Namun, jika aku ingin nambah, ya boleh kan kita sudah sah,” sambung Mas Sadam sembari tersenyum lebar.


“Ih … Mas Sadam curang, pokoknya harus satu kali,” ucapku sembari melepaskan rangkulan tangannya.

__ADS_1


“Sayang, kalau masalah ranjang kamu tidak boleh tawar menawar. Kita ini bukan sedang di pasar tradisional loh,” Entah sejak kapan sikap suamiku semakin genit seperti ini. Dan kalian semua pasti tahu jika perbincangan panjang ini akan berakhir dengan pertukaran keringat.


Senja yang indah mulai menghiasi langit. Aku bergeliat kesana kemari mencoba untuk merenggangkan otot-otot tulang ini yang terasa kaku sekali, bagaimana aku tidak merasa lelah sebab suamiku berkali-kali mengulangi hal yang sama. Entah kenapa lelaki ini tidak merasa bosan ataupun lelah. Sekujur tubuhku rasanya kaku semua akhibat ulahnya itu.


Aku menatap wajah bantal suamiku yang kini masih terlelap dalam tidurnya. Dia tampan sekali, bibir seksinya itu sedikit terbuka, tapi tidak mengurangi ketampanannya dengan pahatan wajah yang sempurna dan dada bidangnya ini. Uh … kesalku pada diri sendiri. Kenapa Aku masih belum bangun dan malah asik mengamati wajah tampannya itu. Aku takut membangunkan tidurnya, jadi aku beranjak dari ranjang perlahan lalu masuk kedalam kamar mandi.


Kini Aku sudah berada di dapur.


“Ma, maafkan Sifana jika bangun kesiangan,” ucapku pada Mama Elsa ketika melihat wanita paruh baya itu sedang mengoleskan coklat ke roti gandum yang ada di tangannya.


Mama Elsa menarik pandangannya padaku, “Sayang, tidak masalah kamu bangun siang juga, Mama tahu, kamu pasti lelah.”


 Aku mulai merasakan jika kedua pipi ini memanas, Aku menundukkan kepala malu sekali apakah Mama Elsa mengetahui apa yang kami lakukan semalam. “Ma, pagi ini mau membuat apa?” tanyaku gugup. Aku mencoba mengalihkan perbincangan saja.


“Sifana, bukankah kamu sendiri yang kemarin bilang jika pagi ini kita makan soto daging serta roti bakar permintaan Liora.” Aku melihat senyuman tipis terukir di bibir Mama Elsa sepertinya dia tahu jika aku sedang malu sekarang.


“Eh, iya-iya Ma. Sifana sampai lupa,” sahutku semakin gugup. Aku langsung melangkah menuju meja dapur lalu mencuci daging yang sudah berada di atas sana untuk menghindari kontak mata dengan Mama Mertuaku itu.


“Manis sekali dia.” Samar-samar Aku masih bisa mendengar Mama Elsa mengatakan itu.


“Ini semua karena Mas Sadam, ini semua karena dia yang selalu saja tidak pernah membiarkan tidur malam ku nyenyak, sungguh menyebalkan sekali,” batinku menggerutu menyalahkan kelakuan suamiku semalaman yang terus saja meminta jatahnya.

__ADS_1


Wah-wah kamu keterlaluan Mas Sadam.


__ADS_2