Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Semoga Kebahagiaan Ini tidak Pudar


__ADS_3

Aku, Mas Sadam dan juga Mama Elsa melangkah keluar rumah ini untuk melihat Liora dan juga Anggun yang sedang asik bermain sepedah. Kedua bocah itu mengayuh sepedanya ketika melihat aku sudah berdiri di halaman rumah.


“Mama Sifa, ayo main sepedah dengan Liora,” ujar gadis kecil itu sembari menghentikan sepedanya tepat di sampingku berdiri.


“Sayang, main sepedanya dengan Mbak Anggun saja, sebab Mama sedang hamil jadi tidak boleh menaiki sepedah,” ujarku pada Liora sembari mengusap puncak kepalannya.


“Dedek, main bersama Mbak Anggun saja,” bujuk Anggun sembari mengusap punggung tangan Liora.


“Tapi Liora ingin main dengan Mama, karena didalam perut Mama itu ada Adek Liora, jadi kita bisa main bertiga,” ujar Liora dengan polos. Aku selalu gemas sekali setiap mendengar celotehan polosnya itu.


“Sayang, bagaimana jika Papa saja yang mengantikan Mama untuk membonceng kamu,” ujar Mas Sadam. Liora menjentik-njentikkan jari telunjuknya di dagu kemudian mengarahkan tatapannya keatas seperti sedang berpikir. Aku dan juga Mama Elsa hanya bisa terkekeh saja melihat tingkahnya itu.


“Baiklah, Liora akan membiarkan Papa untuk mengantikan Mama akan tetapi Liora saja yang menbonceng papa,” ujarnya dengan wajah yang sangat antusias sekali.


“Apakah kamu kuat membonceng Papa? Lihatlah tubuh Papa ini jauh lebih besar dan juga lebih tinggi dari kamu, pasti berat,” ujar Mas Sadam pada Liora.


“Ya, Papa pura-pura duduk saja kalau begitukan Liora kuat membonceng Papa.” Aku dan juga Mama Elsa mencubit pipi gembul liora dari dua sisi. Kami gemas sekali mendengarkan pemikirannya yang sudah mirip seperti orang dewasa itu.


“Nenek, Mama kenapa mencubit pipi Liora,” ketusnya tidak suka. Aku dan juga Mama Elsa semakin gemas sekali melihatnya.

__ADS_1


“Sudah ayo, kita main sepedah bersama,” ujar Mas Sadam sembari mulai berpura-pura duduk di sepedah putrinya itu.


Aku melihat Liora menoleh kearah Mas Sadam sembari berkata, “Apakah Papa sudah siap?” tanya Liora yang sudah seperti orang yang sangat handal sekali dalam memainkan sepedah.


“Tentu saja papa sudah siap,” jawab Mas Sadam sembari membenarkan poni Liora yang sudah berantakan.


“Kalau begitu pegang pinggang Liora agar Papa tidak jatuh.” Aku dan juga Mama Elsa langsung tertawa cekikikan dibuatnya lihatlah itu putri kecilku sikapnya sudah mirip seperti orang dewasa.


“Baiklah, Papa akan peluk dengan erat. Liora jangan marah ya?” tanya Mas Sadam dan si kecil itu langsung mengganggukkan kepalanya setuju.


“Dedek, ayo kita balapan,” ajak Anggun sembari mengoes sepedanya lebih dahulu.


Aku melihat Mas Sadam mencoba untuk menyemangati putri kecilnya itu. Aku dan juga Mama Elsa melangkah ke pinggir agar tidak menghalangi Liora dan juga Anggun yang sedang asik main sepedah.


“Ma, lihatlah itu mereka sangat bahagia sekali,” ujarku pada Mama Elsa.


“Iya, kamu benar dan semoga kebahagiaan ini tidak pernah.pudar,” jawab Mama Elsa sembari mengusap lengan tanganku.


“Amin,” jawabku kemudian.

__ADS_1


Spoiler novel Obsesi Tuan Massimo. part 1 Fiz*0


Kenapa aku harus menikah dengannya, aku tidak mengenal pria itu haruskah aku bunuh diri saja? Tapi aku masih terlalu mudah untuk mati,” Ujar gadis itu mencoba untuk menolak kata-kata menakutkan yang tidak sengaja keluar lancar dari bibirnya.


Gadis itu membuang semua make up yang ada di meja rias hingga menimbulkan suasana gaduh di ruangan ini, tidak hanya itu saja bahkan ia juga membuang bantal dan juga guling ke sembarang arah, selimut yang baru saja Terpasang rapi tidak luput dari amukannya. Gadis itu berteriak bagaikan orang Gila, ia tidak perduli jika kini etikanya sudah rusak setelah apa yang ia Lakukan, ia hanya ingin meluapkan isi hatinya saja, ya hanya itu. Gadis itu Masih belum puas ia mengacak-acak rambutnya sampai berantakan kemudian membuang Semua baju yang tadi tertata rapi di dalam lemari, dalam sekejap saja ruangan Kamar ini menjadi lautan baju, kamar yang mewah dan juga megah menjadi berantakan Bagaikan di terpa oleh angin topan yang maha dahsyat.


Kedua pengawal yang berjaga di depan ruangan kamar gadis itu segera berlari menghampiri kedua majikannya yang kini sedang duduk di ruang Tengah. Pengawal itu langsung membungkukkan tubuhnya hormat di hadapan tamu penting sang majikan kemudian berbisik Di samping Sekan-pemilik rumah ini. Beberapa tamu Sekan menatap mereka sembari Mengerutkan keningnya seakan penasaran dengan perbincangan keduanya.


“Tuan Sekan, Nona Emine mengamuk dan membanting semua barang Yang ada di dalam kamarnya,” lapor pengawal tersebut. Setelah melihat isyarat tangan majikannya, pengawal itu membungkukkan tubuhnya kemudian kembali ke tempat semula-berjaga di luar ruangan Nona Emine.


“Saya permisi sebentar,” ucap Sekan pada para tamunya. “Sayang, Kau tetap bersama dengan mereka, aku akan menemui anak sialan itu,” pinta Sekan lirih agar tidak di dengar oleh para tamunya.


Pria yang ada di hadapan Sekan adalah calon menantunya, ya walaupun calon menantunya itu tidak pantas di sebut seperti menantu jika mengingat usia calon suami Emine kini berusia 65 tahun. Tuan Karim tertarik dengan Emine-Putri Sekan karena parasnya yang sangat cantik dan juga masih tergolong daun muda. Ini sungguh gila, tapi Sekan tidak perduli karena ia begitu membutuhkan uang lebih lagi Emine bukan anak kandungnya sendiri jadi wajar jika ia tega menjodohkan anak yang ia adopsi dari panti asuhan kepada pria yang bahkan lebih pantas di panggil kakek oleh putri angkatnya itu.


“Papa, tenang saja, aku akan urus mereka,” sahut Melly yakin.


Brak!


Sekan membuka pintu ruangan kamar putrinya dengan keras, sampai menimbulkan suara gaduh, kedua bola matanya hampir saja lepas dari Kodratnya saat ia melihat ruangan kamar yang sudah berantakan, rahangnya mulai Mengeras melihat semua ini. Emine sedang memegangi guci besar yang biasanya ada di sudut kamarnya sebagai hiasan, kalian semua pasti sudah tahu jika gadis itu Akan meleburkan guci tersebut sebagai sasaran amarahnya.

__ADS_1


“Dasar kau anak yang tidak tahu di untung,” teriak Sekan lantang. Suara sepatu pantofel mengetuk-ngetuk lantai dengan nyaring seakan lelaki itu sedang berusaha menghancurkan lantai marmer yang baru saja ia lewati.


__ADS_2