
Entah mengapa aku mulai merasakan jika kedua pipi ini semakin memanas bagaikan ada sengatan
listrik yang menular dari manik mata Mas Sadam padaku.
“Papa, Mama Sifana cantik, Ya?” Aku melihat lelaki itu seketika langsung tersadar dari lamunannya ketika suara Liora menyeruak masuk
kedalam gendang telinganya. Bahkan kudengar Mas Sadam juga berdahem untuk membuyarkan kecanggungan diantara kami bertiga.
“Liora, kamu itu bicara apa,” sekilas aku melihat wajah Mas Sadam seperti remaja ABG yang baru saja ketahuan diam-diam sedang menatap gadis incarannya. Aku geli sendiri melihat wajah Mas Sadam seperti ini tapi dia tetap tampan sekali dan masih mampu membuat jantung ini berdentam-dentam seperti genderang yang mau perang.
“Papa, tadi melihat Mama Sifana seperti orang yang sedang terpesona,” aku melihat Liora seperti sedang berpikir mau bicara apa lagi. “Papa, saja jika melihat Mama tidak seperti itu,” sambung gadis kecil itu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Husst, Liora nggak boleh bilang begitu,” aku melihat kedua pipi Mas Sadam memerah bahkan lelaki itu sempat menatapku sekilas hingga
akhirnya kini dia kembali fokus melihat kearah depan. “kita berangkat sekarang.”
“Papa, Tunggu sebentar,” gadis kecil itu melihatku sembari berkata. “Mama Sifana, duduk di depan saja bersama dengan Papa. Liora mau duduk sendirian di sini,” seketika aku langsung meneguk salivahku merasa gugup usai mendengarkan permintaan Liora.
Aku mengelengkan kepala hendak menolak akan tetapi, Mas Sadam justru menyuruh aku untuk duduk di depan bersamanya. Akhirnya aku menurut saja dan mobil pun mulai berjalan menjauh dari halaman rumah ini. Aku melihat kearah jendela, cuaca kota ini sangat cerah sekali secerah hatiku yang bahagia karena untuk kali pertama aku dan juga Mas Sadam akan jalan-jalan dan lebih bahagia lagi karena Liora kini berada di dekatku tanpa adanya Mbak Tasya yang selama ini selalu memberikan tatapan penuh intimidasi padaku. Mungkin aku terkesan jahat karena selalu mengambil kesempatan saat wanita itu tidak ada, tapi aku juga istri keduanya bukankah hal ini memang sudah sepantasnya aku dapatkan.
Aku menoleh melihat Liora yang sedang asik bermain game dalam ponselnya tanpa sengaja aku melihat Mas Sadam diam-diam mengamati ku setelah terpergok olehku lelaki itu langsung kembali sibuk menatap kearah jalanan yang kebanyakan di padati oleh kendaraan beroda empat.
“Ahem! Nanti kamu akan membeli barang apa?” Aku langsung menatap kearah Mas Sadam usai mendengarkan ucapannya.
“Saya sudah mempunyai baju dan juga segalanya, jadi saya tidak memerlukan apapun lagi,” sahutku sembari menatap wajah tampannya. Bulu halus bekas cukuran itu terlihat oleh manik mataku dan seketika pemikiran ini mengecup bibirnya
singgah di kepala ini. Aih sepertinya aku sudah mulai gila karena habis
menonton drama korea semalam, ya semalam ada adegan begitu dan aku belum pernah berciuman, jangankan berciuman pacaran saja aku belum pernah.
__ADS_1
“Bukankah kemarin, Tasya bilang jika kamu tidak memiliki peralatan make up.”
“Saya biasanya membeli bedak baby dan juga memakai lipstik yang harganya murah, dan saya masih punya uang untuk membelinya jadi tidak mau merepotkan, Mas Sadam,” sahutku apa adanya karena memang itu yang terjadi. Saat pergi ke pasar beberapa waktu yang lalu aku membeli bedak baby dan aku juga
tidak menyukai kalau mengunakan bedak padat seakan kurang nyaman saja mungkin karena aku tidak terbiasa.
“Kamu adalah istriku, jadi sudah sewajarnya jika merepotkan ku. Bukankah aku sudah bilang jika akan memulai semuanya dari awal
lagi dan aku juga berharap kamu menganggap aku sebagai suami kamu,” ucap Mas Sadam padaku dengan air muka terlihat serius.
“Baik, Mas,” sahutku singkat.
Mobil ini telah berhenti tepat di tempat parkir Pakuwon Mall. Aku turun dari dalam mobil lalu segera membukakan pintu untuk Liora.
Manik mata ini berbinar bahagia sekaligus senang sebab ini untuk kali pertama aku datang ke mall sebesar in. Aku dan juga Mas Sadam menggengam tangan Liora lalu
kami melangkah masuk kedalam mall ini. Liora melepaskan tangan kami berdua dan berlari kecil aku dan juga Mas Sadam bersamaan
agar tidak lari terlalu jauh dan suasana canggung pun mulai terjadi antara aku dan juga Mas Sadam. Aku berjalan di samping Mas Sadam lalu melihat kesana dan juga kemari, banyak sekali orang berjualan baju dan aku tentu saja ingin membelinya akan tetapi aku sadar jika pakaian di tempat in pasti mahal.
“Apakah kamu ingin masuk ke toko itu?” aku begitu terkejut ketika mendengarkan suara Mas Sadam. Tidak disangka jika dia sedang memperhatikan aku yang terus saja menatap kearah toko baju yang ada di samping kami.
“Ti-tidak Mas, saya tidak menginginkannya,” aku terpaksa
berbohong karena malu jika harus mengakui kalau aku menginginkan baju itu.
“Liora, kemarilah Sayang. Ayo kita temani Mama Sifana membeli baju ke toko itu,” aku sangat yakin jika Mas Sadam pasti mendengarkan ucapan ku tadi namun lelaki itu tidak mau menggubrisnya dan malah mengajak Liora.
“Oc, Pa,” aku melihat Liora lebih dahulu berlari kecil menuju toko baju khusus untuk wanita dewasa terlebih dahulu.
__ADS_1
“Tunggu apa lagi, ayo kita kesana,” aku hanya bisa pasrah saja mengikuti perintah suamiku.
Aku melangkah menuju dress berwarna putih polos. Aku menyukai warna putih dan dress ini juga terlihat simpel pasti cocok jika aku gunakan nanti. Aku mengambilnya lalu melihat harga yang tertera di sana, kedua
mata ini langsung membola penuh bahkan aku juga tidak segan untuk mengucek kedua mata ini takut jika salah melihat harga akan tetapi nominal yang tertera di baju ini tetap sama dan tidak berkurang satu angka pun.
“Mahal sekai,” gumam ku lirih sembari menaruh kembali baju
itu ke tempatnya semua.
Aku melihat kearah Mas Sadam yang kini sedang sibuk membaca pesan di ponselnya sedangkan Liora sendiri sibuk menatap kesana-kemari dengan
bernyanyi lagi anak kesukaannya. Aku melangkah menuju ke dress lainnya yang tidak jauh dari sini lalu melihat harganya. Aku mendengus kasar melihat harga dress yang begitu bagus tapi sangat mahal sekali bahkan empat bulan gajiku di
rumah keluarga Erlanga saja kalah banyak dengan harga satu helai baju ini. Aku hendak memutuskan keluar dari toko namun aku melihat dress hitam dengan aksen renda dibagian dadanya, itu bagus sekali dan aku ingin memilikinya perlahan
tapi pasti aku mengajak kaki ini melangkah mendekati dress hitam itu dengan hati yang tidak berhenti berdoa mengharapkan jika harganya tidak akan mahal, tapi aku salah harganya memang masih mahal sekali bahkan lebih mahal dari dua
dress sebelumnya.
Manik mataku melihat banyak sekali wanita yang langsung mengambil barang yang mereka inginkan tanpa melihat berapa harganya, mereka pasti orang kaya jika dilihat dari cara para wanita itu membawa tas kulit mereka bahkan beberapa wanita juga menatapku dengan pandangan jijik seakan baju yang aku kenakan sekarang terbuat dari karung bekas sampah halaman sungguh miris sekali. Kenapa kebanyakan orang selalu mengukur harga diri orang lain hanya mengunakan uang saja.
“Liora, kita keluar saja dari toko ini, Mama Sifana tidak menginginkan baju di sini,” bohongku sembari kembali menatap kearah tiga dress
yang kini sudah tidak berada di tempatnya semula. Lalu aku melihat penjaga toko membawa baju itu menuju ke kasir dan aku tidak heran jika ada orang lain yang membeli dress itu sebab bagus sekali. Bagi orang kaya uang mungkin bukan
segalanya tapi bagiku uang adalah segalanya dari pada aku membeli baju itu lebih baik membayar biaya berobat Anggun. Begitu pikirku.
“Ma, Papa mana?” tanya Liora padaku. Aku segera mengedarkan pandangan ke sekitar toko ini dan melihat Mas Sadam berjalan kearah kami sembari membawa beberapa paper bag di salah satu tangannya.
__ADS_1
"Itu, Papa," ucapku pada Liora.
"Apa yang sedang Mas Sadam beli?" tanyaku pada diri sendiri, lalu aku tersenyum getir pasti dia sedang membelikan Mbak Tasya baju di toko ini.