
Aku melihat kerah Dokter Hera yang kini sedang memberikan selembar kertas itu pada Mama Elsa. Mas Sadam yang sudah melepaskan pelukannya dariku segera bangkit dari atas ranjang berniat untuk mengambil kertas dari Dokter Hera akan tetapi Papa Damar menghentikan niat awalnya itu.
“Sadam, kamu disini saja temani istri kamu, biar Papa yang menebus resep obat ini diapotik,” ucap Papa Damar.
“Iya, kamu tunggu disini saja Mama Elsa juga mau berbincang sebentar dengan Dokter Hera,” sambung Mama Elsa.
“Baik, Ma,” sahut Mas Sadam.
“Sadam, tadi tensi darah istriku kamu agar rendah mungkin ia akan sering mengalami pusing jadi kamu harus menjaganya jangan sampai dia jatuh atau terlalu banyak berpikir karena hal itu akan berdampak buruk pada janin kalian nanti,” jelas Dokter Hera.
“Baik, Dokter Hera dan terima kasih atas bantuannya.”
Aku melihat kearah Papa Damar, Mama Elsa dan juga Dokter Hera yang baru saja keluar dari ruangan kamar ini. Sekarang hanya ada aku dan juga Mas Sadam saja disini. Mas Sadam mengarahkan tangannya untuk mengusap perutku yang masih datar. Lelaki itu kini mendekatkan wajahnya pada perutku kemudian mengecupnya perlahan seakan Ia sedang mencoba untuk berinteraksi dengan janin yang masih sangat kecil ini.
“Sayang, kamu harus kuat karena Papa dan juga Mama akan menjaga kamu,” ucap Mas Sadam sembari mengecup perutku perlahan. Aku mengusap rambut suamiku dengan senyuman manis,
Terima kasih Tuhan karena apa yang sempat aku pikirkan tadi tidak menjadi kenyataan. Sungguh aku tidak pernah menyangka jika akan hamil, tapi anugrah ini akan aku jaga dan aku sudah tidak sabar menunggu buah cinta kami terlahir ke dunia ini.
“Mas, geli jangan begitu,” pintaku ketika Mas Sadam terus saja mencium perutku.
Mas Sadam kini mendudukkan tubuhnya dengan benar dan menatapku sembari berkata, “Sayang kamu mau makan apa?” tanyanya dengan serius.
“Mas, aku baru saja selesai makan dan masih kenyang,” sahutku padanya.
“Kamu makan hanya sedikit, mana bisa makan sedikit sedangkan di tubuh kamu ada anakku,” ucapnya yang mulai posesif.
“Nanti jika aku lapar, aku janji akan memberitahukannya pada kamu,” sahutku dengan wajah memohon.
“Baiklah, mulai sekarang kalau kamu membutuhkan sesuatu langsung bilang saja padaku,” pinta Mas Sadam dan aku langsung mengganggukkan kepala setuju.
“Mas, bukankah tadi kamu sedang sakit, berbaringlah biar tidak merasa mual lagi,” pintaku pada Mas Sadam serius.
__ADS_1
“Sayang, tadi aku mual pasti karena anak kita ini,” ucap Mas Sadam sembari mengajak tangannya untuk mengusap perutku perlahan.
“Mama, Papa. Mana adek bayinya?” suara Liora langsung membuat pandanganku dan juga Mas Sadam menatap kearah pintu ruangan ini yang baru saja dibuka.
“Siapa yang bilang kamu bakal punya adek?” tanya Mas Sadam pada Liora yang kini sudah meloncat kedalam pangkuannya. Anak ini benar-benar aktif sekali.
“Nenek dan juga Kakek yang barusan bilang pada Liora dan juga Mbak Anggun.” Aku melihat kini Liora sedang menatap kearah Anggun. “Mbak Anggun, benarkan apa yang barusan Liora katakan?” tanya Liora pada Anggun.
“Iya benar, Nenek dan juga Kakek yang bilang,” sahut Anggun dengan ikut antusias.
“Iya benar, kalian akan segera memiliki adek,” sahut Mas Sadam.
“Mana-mana adeknya sekarang, Liora mau ajak main congklak,” pinta Liora dengan pemikiran polosnya.
Mama Elsa dan juga Papa Damar hanya bisa mengelengkan kepala melihat tingkah cucu mereka yang selalu tidak sabaran itu.
“Sayang, adeknya masih ada di perut Mama Sifa. Nanti kalau sudah waktunya maka dia akan keluar dan bermain dengan Liora,” jelas Mas Sadam.
“Adek Liora nanti cewek atau cowok, Pa?” tanya Liora lagi.
“Papa belum tahu, Sayang,” sahut Mas Sadam sembari mencubit gemas kedua pipi Liora yang cabi.
“Kenapa tidak tahu? Padahal Liora sangat penasaran sekali,” ucap Liora lagi.
Aku menahan tawa ketika melihat Mas Sadam yang kini sedang memijat pelipisnya yang terasa pusing dengan pertanyaan polos tanpa henti terus saja keluar dari bibir Liora.
“Nanti kalau waktunya sudah tepat maka Liora juga akan tahu,” sahutku kemudian.
Kini Liora turun dari pangkuan Mas Sadam dan langsung naik ke atas ranjang kemudian duduk persis di sampingku. “Mama, Liora minta dua adek bayi,” pintanya padaku. Aku hampir saja tersedak ludah sendiri ketika mendengarkan ucapannya mungkin Liora ini mengira adek bayi sama seperti boneka yang bisa ia minta sebanyak keinginannya.
“Kenapa minta harus dua?” tanya Mama Elsa. Wanita paruh baya itu pasti tidak tahan jika hanya menyimak saja ucapan polos cucunya ini.
__ADS_1
“Nanti satu adek untuk Mbak Anggun dan satu adek lagi untuk Liora. Jadi kita berdua tidka rebutan.” Ucapan yang masuk akal juga tapi tetap saja hal itu membuat kami semua mengelengkan pelan kepala ini.
“Kita bicarakan tentang adek kamu nanti lagi, sekarang waktunya Liora dan juga Mbak Anggun tidur siang,” pinta Mama Elsa sembari menatap kearah kedua bocah itu.
“Nenek, Liora mau disini,” rengeknya dengan manja.
“Liora, Mama Sifa harus beristirahat jadi kamu juga istirahat dulu,” pinta Mama Elsa.
“Baik, Nek.” Aku melihat Liora mengalihkan tatapannya padaku kemudian gadis cantik itu mengecup pipiku sembari berkata. “Mama Sifa, cepat sembuh sekarang Liora mau tidur siang dulu.”
Aku mengecup kedua pipinya yang menggemaskan itu dan kini Liora turun dari atas ranjang dibantu oleh Anggun.
“Mbak Sifa, cepat sembuh ya. Anggun dan juga Dedek mau ke kamar dulu,” pamit Anggun sembari mengecup kedua pipiku.
“Jaga Dedek,” pintaku padanya. Anggun langsung mengganggukkan kepalanya setuju.
“Sifana, kamu istirahat saja dulu sekarang dan jika butuh apapun minta bantuan pada kami semua,” ucap Mama Elsa sembari mengusap punggung tanganku.
“Sadam, jaga istri kamu.” Setelah bicara Papa Damar ikut keluar dari ruangan kamar ini.
Aku dan juga Mas Sadam saling menatap satu sama lain. Mas Sadam berbaring di sampingku dengan tangan mengusap perutku. Entah mengapa aku merasa nyaman ketika Ia mengusap perut ini sepertinya anakku manja sekali dengan Papanya. Buktinya makan saja kalau nggak disuapi oleh Mas Sadam aku dengan menyentuh makanan apapun.
“Sayang, besok kita akan pergi ke rumah sakit, kita harus memeriksakan kandungan kamu,”
ucap Mas Sadam padaku.
Aku memiringkan tubuhku melihat kearah Mas Sadam sembari berkata, “Mas, bukankah besok kamu kerja?” tanyaku padanya.
“Iya, besok aku akan berangkat kerja seperti biasanya akan tetapi siang harinya aku akan pulang menjemput kamu dan kita berangkat ke rumah sakit bersama,” jelas Mas Sadam dengan tangan menyibakkan beberapa sulur anak rambutku kebelakang telinga.
“Kalau tidak sempat lebih baik aku berangkat dengan Mama Elsa saja.” Aku tidak ingin memuat suamiku lelah jadi lebih memilih ke rumah sakit dengan Mama Elsa saja.
__ADS_1
“Sayang, kamu adalah perioritas utama untukku, jadi aku akan mendahulukan kamu kemudian pekerjaanku.” Aku memeluk Mas Sadam dan jujur aku sangat terharu sekali mendengarkan kata-katanya barusan.