Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Sadam Melihat Semuanya


__ADS_3

"Ayo kita lakukan sekarang, jangan buang waktu." Aku menatap Gerry dengan wajah penuh harap, semoga saja darah Gerry dan juga Liora sama.


Suster langsung membawa Gerry masuk keruangan yang sempat dimasuki oleh Mbak Tasya tadi. Aku dan juga yang lain berdoa semoga saja ada keajaiban yang terjadi.


"Bagaimana kabar Liora." Aku mendengarkan suara Mama Elsa yang bertanya dari arah belakang Papa Damar.


Aku melihat Papa Damar mencoba menjelaskan pada Mama Elsa dan aku melihat Mama Elsa kini menatap kearah ruangan Gerry berada.


Cklek!


Aku langsung melangkahkan kaki ini mendekati Gerry yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Gerry bagaimana." tanyaku pada Gerry dengan tatapan penuh selidik.


"Darahku sama dengan Liora, kamu tenang sama dia akan lolos dari masa kritis," ujar Gerry padaku dengan tatapan matanya yang sendu.


"Gerry terima kasih karena kamu mau membantu kami," ucapku pada Gerry.


"Aku tidak ingin melihat kamu dan juga Anggun bersedih," sahut Gerry.


"Nak, kau sangat baik hati sekali, Tuhan telah mengirimkan kamu untuk membantu keluarga kami," ucap Mama Elsa.


"Saya hanya melakukan yang seharusnya, jadi tidak perlu sungkan." Setelah bicara Gerry masuk kedalam ruangan dimana Liora berada.


Setelah bicara Gerry masuk kedalam ruangan yang sama dengan Liora. Kami semua bisa menghirup nafas lega. Aku melangkah mendekati Anggun yang masih berdiri mematung dan tidak sengaja Aku mendengarkan bunyi suara perutnya Aku menatap kearah jam dinding yang ada di tembok dan sekarang sudah waktunya jam makan siang. Aku sampai lupa jika Anggun belum sarapan pagi atau paling tepatnya kita semua belum sarapan pagi.


“Sifana, apakah Mama pingsan terlalu lama?” tanya Mama Elsa padaku.


“Sekitar tiga jam,” sahutku padanya.


“Apa saja yang terjadi selama Mama pingsan? Apakah perempuan kurang ajar itu tidak mau datang kemari?” tanya Mama Elsa padaku.


"Berarti Papa Damar tadi belum mengarah jika Mbak Tasya datang kemari," batinku.


“Mbak Tasya datang kemari akan tetapi darahnya dengan Liora tidak cocok.” Aku menjelaskan semua yang dikatakan oleh Mbak Tasya tadi pada Mama Elsa. Aku bisa melihat Mama Elsa sedih dan kembali menitihkan air matanya.


“Mbak Sifa, Anggun lapar,” ucap Anggun sembari memegangi perutnya. Aku melihat wajahnya yang pucat karena menahan lapar.


Aku hendak membelikan Anggun makan tapi melihat Mama Elsa yang sedih aku jadi bingung sendiri melihat keadaannya. Aku harus apa, lalu aku menatap Mas Sadam dan lelaki itu mengalihkan perhatiannya kemudian pergi begitu saja tanpa bicara. Apakah Mas.Sadam marah padaku karena tadi Aku berbicara pada Gerry? Entah mengapa bayangan itu membuatku bingung sendiri.


“Mama, jangan menangis lagi nanti kita akan mencari makam cucu Mama yang sebenarnya,” ucapku pada Mama Elsa sembari menatapnya sendu.

__ADS_1


“Tasya benar-benar tidak punya hati, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal ini pada kami semua dan dengan bodoh Mama dan juga Papa dulu selalu percaya padanya hingga kami bisa melihat sendiri kenyataan yang sebenarnya.” Aku mendengar suara Mama Elsa gemetar dan wajahnya nampak pucat sekali, dia pasti merasa lelah lebih lagi semua kejadian ini tidak pernah kami duga.


Selama ini aku sudah merasa aneh melihat sikap Mbak Tasya yang terlampau tidak perduli pada Liora, bahkan Mbak Tasya juga tidak pernah memperlakukan Liora dengan sangat baik sejak aku bekerja di rumah keluarga Erlanga tapi aku hanya diam mencoba menelan bulat-bulat mengenai pemikiran jika Liora bukan anak kandungnya. Tapi kenyataan ini terbongkar semua dan kami tidak ada yang menduganya, ini sungguh di luar pemikiran kami semua pantas saja jika semua orang langsung syok mendengarkan penuturan ini. Terutama Mas Sadam, Aku bisa melihat rasa kecewa yang nampak nyata dari manik matanya, selama ini dia sangat menyayangi Liora dengan sepenuh hati tapi siapa sangka jika Mbak Tasya malah melakukan hal sekejam ini, sungguh wanita yang tidak punya hati.


“Anggun, ayo Mas Sadam suapi,” ucap Mas Sadam. Aku langsung mengalihkan pandangan melihat kearah Mas Sadam yang membawa beberapa bungkus nasi ditangannya. Ternyata Aku salah suamiku tidak marah dia tadi mendengarkan ucapanku dengan Anggun dan Ia langsung pergi untuk membeli makanan.


“Anggun, makan sendiri saja Mas,” sahut Anggun dan aku melihat Mas Sadam langsung mengganggukkan kepalanya setuju.


“Mbak Sifa, Anggun duduk di sana.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju setelah mendengarkan ucapannya.


“Sifana, kamu makan dulu, Mama akan membawa bungkusan nasi ini ke Papa,” ucap Mama Elsa sembari menarik tubuhnya dari dekapanku.


“Baik, Ma,” sahutku padanya dengan senyuman tipis.


“Sayang, kamu makan juga,” pinta Mas Sadam sembari duduk di sampingku. Aku melirik kearah Anggun yang duduk di samping Papa Damar dan juga Mama Elsa.


“Ayo kita makan bersama,” pintaku pada Mas Sadam.


“Tidak, kamu saja aku masih kenyang,” sahut Mas Sadam padaku.


“Mas, jangan bercanda terakhir kamu makan itu tadi malam mana mungkin masih kenyang, ayo kita makan bersama jika kamu tidak mau makan maka aku juga tidak akan makan apapun.” Aku sengaja bicara seperti ini agar Mas Sadam mau makan.


“Kita sakit bersama, jadi tidak masalah,” sahutku padanya.


“Baiklah kita makan bersama.” Aku langsung tersenyum menatap Mas Sadam dan ia mencolek hidungku.


Mas Sadam menyuapi aku terlebih dahulu kemudian menyuapi dirinya sendiri seperti itu terus sampai makanan di bungkusan ini habis. Setelah makan Mas Sadam membuka satu botol air mineral kemudian mengulurkan padaku air itu, aku meminum sedikit dan Mas Sadam meminum sisanya. Dia sangat perhatian sekali padaku dan Aku sangat menyayanginya.


Gerry keluar dari ruangan itu dan kami langsung melangkah menghampirinya. Aku melihat wajah Gerry nampak pucat karena dua kantong darahnya telah di pindahkan untuk Liora.


“Gerry terima kasih,” ucapku satu kali lagi.


“Kamu tidak perlu mengatakan terima ….,” belum selesai Gerry menyelesaikan kata-katanya dia pingsan.


“Gerry-gerry,” panggilku setelah berhasil menangkap tubuhnya.


Mas Sadam dan juga Papa Damar dengan sigap langsung membantu Gerry dan Ia kini dibawah di ruangan yang sempat di tempati oleh Mama Elsa.


“Pasien memaksakan dirinya untuk mengeluarkan banyak darah, padahal kondisinya sedang tidak stabil jadi Ia jatuh pingsan tapi nanti setelah diberikan infus kondisinya akan lekas membaik,” ucap Suster.


“Baik, Sus,” sahutku padanya.

__ADS_1


“Dia lelaki yang baik, dan kamu beruntung karena memiliki teman sepertinya,” ucap Mama Elsa padaku. Aku melihat kearah Mas Sadam yang masih menatap kearah Gerry yang terbaring di atas ranjang.


“Mama, dan juga Papa keluar dulu karena harus ada yang berjaga didepan ruangan Liora berada.” Aku mengganggukkan kepala kemudian Mama dan juga Papa pergi keluar dari ruangan ini.


“Mbak Sifa, Anggun ikut dengan Nenek dan juga Kakek,” pamit Anggun padaku. Dan aku langsung mengganggukkan kepala setuju.


“Mas, kamu tolong jaga Gerry kasihan jika dia bangun dan tidak melihat siapapun di dalam ruangan ini, dia sudah membantu kita menyelamatkan Liora,” jelas ku padanya dengan wajah penuh permohonan.


“Sayang, kamu saja yang di sini, aku akan keluar, Gerry akan lebih suka jika kamu yang menunggunya,” ucap Mas Sadam padaku.


Aku menatap manik mata suamiku lekat. “Sayang, itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” jelas ku padanya mencoba menghilangkan keraguan di hatinya.


“Tidak masalah Sayang, aku tahu kalian hanya teman dan aku ingin Gerry pulih dengan cepat jadi jaga dia untukku.” Setelah bicara Mas Sadam langsung melangkah keluar dari ruangan ini.


Selang beberapa waktu.


Aku melihat Gerry mulai mengerjapkan matanya, Ia menatap ke arahku kemudian mengucek kedua matanya dengan mengunakan tangan. Gerry hendak beranjak duduk akan tetapi Aku menyuruhnya kembali tidur.


“Tubuh kamu masih lemas, sebaiknya tetap berbaring saja,” pintaku padanya sembari kembali membantunya berbaring. Gerry melihatku kemudian membelai wajahku. “Gerry jangan seperti ini,” ucapku pada Gerry dengan nada suara lembut.


“Dari dulu aku ingin menyentuh wajah kamu, dan sejak sekian lama keinginan itu ada baru sekarang Aku bisa melakukannya," ucap Gerry sembari tersenyum melihatku.


“Gerry kamu itu bicara apa?” tanyaku bingung. Aku kembali melihat tatapan matanya yang sama seperti dahulu sendu dan juga hanya di penuhi oleh sosokku di binar mata indahnya itu.


“Bolehkan aku menceritakan semuanya sekarang? Sungguh beban ini membuat hatiku sakit setiap waktu,” ucap Gerry sembari menatapku meminta persetujuan.


“Bicaralah jika itu bisa mengurangi beban didalam hidup kamu,” pintaku padanya dengan tersenyum tulus.


“Sejak dari SMA aku sudah menyukai kamu, aku terlalu bodoh jadi tidak berani mengungkapkan semuanya bahkan Aku tidak memiliki tujuan hidup waktu itu hingga akhirnya Aku bertanya pada kamu mengenai keinginan kamu padaku dan kau mengatakan jika kamu ingin aku memiliki hotel sendiri karena itu adalah mimpiku sejak dahulu. Ketika aku sudah mewujudkan mimpiku, aku berharap bisa bertemu dengan kamu dan kita menikah tapi takdir berkata lain, kau sudah menjadi milik lelaki lain dan itu membuatku hancur. Tapi ketika Aku melihat kamu bahagia bersama Dia, aku juga ikut bahagia karena kebahagiaanku ada dalam senyuman kamu.” Gerry berbicara panjang lebar dan kini Ia mulai memegangi tanganku dan hal spontan itu membuatku terkejut.


“Gerry, lepaskan,” pintaku padanya.


“Aku mohon, biarkan Aku memeluk kamu untuk yang terakhir kali, setelah ini aku akan kembali ke luar negeri dan mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi karena Aku akan menyetujui perjodohan yang dilakukan oleh orangtuaku. Awalnya aku datang ke negara ini kembali karena ingin membawa kamu kepada kedua orangtuaku, aku akan mengatakan pada mereka jika kau wanita yang Aku cintai dan ingin aku nikahi, tapi lagi-lagi takdir berkata lain.”


Mendengar semua penuturan Gerry hatiku terasa pilu. Aku beranjak berdiri dari posisi duduk kemudian memeluknya. Gerry membalas pelukanku dengan memelukku erat aku pun sama memeluknya. Aku dulu sempat menyukainya hingga Mas Sadam datang dari hidupku lalu sedikit demi sedikit meleburkan perasaan cintaku pada Gerry. Aku menatap kearah pintu utama ruangan ini dan pelukanku pada Gerry langsung merenggang ketika Aku mengetahui Mas Sadam berdiri di pintu menatap ke arahku.


Wah … wah … apa yang akan terjadi


setelah ini ya?


Jangan lupa ikuti akun Mangatoon Khairin Nisa ya.

__ADS_1


__ADS_2