
“Kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini dari suami kamu? Bukankah seharusnya kamu jujur agar dia mengetahui semuanya,” aku melihat kekhawatiran di wajah Mama Elsa saat ini dahinya berkerut dalam seakan sedang
mencemaskan apa yang terjadi di masa depan nanti.
“Ma, aku ingin, Mas Sadam menyukai aku dari hatinya bukan dari perasaan iba karena apa yang terjadi,” ku ucapkan kata yang memang ada di
dalam hatiku.
“Apakah kamu menyukai, putraku?” wanita itu menggenggam balik
tanganku dengan tatapan sendu, aku melihat ada percikan kebahagian dari binar indah matanya saat ini. Ya aku jatuh hati pada mas Sadam walaupun lelaki itu selalu bersikap kasar padaku akan tetapi dia selalu bersikap lembut pada anak kecil dan aku menyukainya tanpa sadar.
“Entah sejak kapan, tapi Sifana mulai jatuh hati pada, Mas Sadam. Tapi Sifana juga tidak pernah bermimpi jika perasaan itu akan terbalaskan sebab Mbak Tasya adalah satu-satunya wanita yang Mas Sadam cintai.” Aku menundukkan kepala sembari menelan saliva seakan aku baru saja menelan rasa
kecewa yang tergambar nyata dari air mukaku saat ini.
“Percayalah, jika Sadam akan membuka hatinya padamu, dan dia
akan menyesal karena telah menelantarkan wanita sebaik kamu hanya demi istri yang tidak tahu diri itu,” wanita paruh baya ini mengecup keningku lebih lama dan hal itu membuat hati yang gundah ini mulai terlihat tenang.
***
Beberapa hari sudah aku menemani Anggun di rumah sakit, Mama
Elsa selalu berada di rumah sakit sampai sore hari, wanita itu juga mengatakan kalau dia sengaja tidak memberitahukan keberadaanku pada Mas Sadam, sebab Mama Elsa ingin kalau Mas Sadam merasa kehilangan akan kepergian ku, ya walaupun aku
merasa tidak yakin jika lelaki itu akan merasa kehilangan bukannya justru
bahagia karena tidak ada aku-sang pengganggu rumah tangannya.
Kondisi Anggun masih belum sembuh total, akan tetapi lambat laun kondisinya makin membaik dan dokter juga bilang jika tidak ada yang perlu di khawatirkan. Mama Elsa menyuruh aku untuk pulang sebab aku sudah berada hampir satu minggu di rumah sakit ini. Aku berpamitan pada Anggun sebelum pergi dan dengan penuh pengertian gadis kecil itu menyetujuinya bahkan dia juga mengatakan jika aku tidak perlu merasa khawatir dengan kondisinya. Wajah Anggun
masih terlihat pucat pasih dan aku juga masih tidak tega meninggalkannya sendirian tapi beruntungnya ada Mama Elsa yang nanti akan mengantikan aku untuk
__ADS_1
menjaga adik kesayanganku ini.
Aku mengecup puncak kepala Anggun lebih lama, lalu bergantian mengecup kedua pipinya kemudian aku berpamitan pada Mama Elsa, aku
melambaikan tangan pada Anggun dan gadis kecil itu membalas pelan lambaian tanganku dengan senyuman manisnya. Aku pulang ke kediaman Erlanga di antar oleh supir Mama
Elsa, tadinya aku ingin menolak akan tetapi Mama Elsa memaksa hingga aku tidak enak hati untuk terus menolaknya dan akhirnya aku setuju di antar oleh supir pribadi Mama mertuaku itu.
“Terima kasih, Pak,” ucapku pada supir yang mengantarkan aku
sampai ke depan halaman rumah keluarga Erlanga.
“Sama-sama, Mbak Sifana,” sahut lelaki paruh baya itu padaku
dengan senyuman manisnya.
Aku menatap mobil itu berjalan menjauh dariku lalu keluar dari gerbang utama rumah ini. Aku menghirup nafas dalam seakan sedang mempersiapkan hatiku untuk segala macam masalah yang nantinya akan aku hadapi di dalam rumah ini.
menatapku tajam dengan kedua tangan bersedekap di dada.
Entah sejak kapan dia berdiri di jarak hanya dua meter saja dariku, tadi waktu aku turun dari dalam mobil, aku tidak melihat Mas Sadam.
Lelaki ini seperti hantu saja yang bergentayangan di manapun dan juga kapanpun.
“Masih ingat pulang,” dia melangkah mendekatiku dengan mata yang tidak berkerdip, tatapan tajam matanya seakan membunuhku hanya dengan
sorot mata itu, aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak kencang ingin sekali menundukkan kepala tapi aku terlalu merindukan wajah tampannya itu
jadi terus saja kutatap wajah Mas Sadam setiap incinya.
“Saya, baru saja pulang dari rumah sakit,” sahutku dengan menatap matanya.
“Apakah orang yang kamu panggil dengan sebutan, Sayang itu yang sakit?” aku baru ingat jika tempo hari Mas Sadam pernah mendengarkan
__ADS_1
perbincangan ku di telepon dengan Anggun dan aku tidak menyangka jika lelaki ini memiliki ingatan yang cukup kuat juga.
“Ya, dia baru saja melakukan operasi dan aku menjaganya selama beberapa hari karena selain aku dia tidak memiliki siapapun lagi,” aku
berbicara apa adanya jika hanya aku saja yang Anggun miliki.
“Cih! Kau sangat mencintainya ternyata, lalu kenapa kau tidak pergi saja dari rumah ini dan menikah dengannya.” Aku hendak menjawab apa yang barusan, Mas Sadam katakan akan tetapi lelaki itu sudah berbalik arah dan meninggalkanku begitu saja.
Mas Sadam, seharusnya kamu bertanya siapa orang yang aku
panggil dengan sebutan, Sayang itu karena hanya dengan begitu barulah aku akan menjawab semuanya agar kesalah pahaman ini tidak berlarut-larut. Aku menggenggam
erat tas yang berisikan baju-bajuku selama tinggal di rumah sakit, baru saja aku melangkah sosok Liora langsung tertangkap dengan sangat jelas oleh kornea mataku, gadis kecil itu langsung berlarian menghampiriku dengan kedua tangan yang sudah terlentang seakan ia minta di peluk karena sangat merindukanku.
“Mbak Sifana, dari mana saja, Liora sangat rindu sekali, Liora pikir jika Mbak Sifana tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini,” aku
menundukkan kepala lalu mengecup puncak kepala Liora, bau rambutnya beraroma stroberi dan aku sangat merindukannya. Aku mengecup kedua pipinya setelah mengamati situasi jika Mbak tasya tidak sedang berada di sekitar kami berdua.
“Mbak Sifana, tidak mungkin meninggalkan Liora sendirian,” ucapku sembari menangkup kedua wajahnya dengan tangan seusai ku taruh tas yang aku genggam ke lantai begitu saja.
“Mama dan juga Papa bertengkar setelah Mbak Sifana naik ke
atas mobil pada malam itu,” ucap Liora dengan menatapku mengunakan mata polosnya itu.
Aku mengerutkan kening dalam tidak percaya dengan apa yang barusan gadis kecil ini bilang sebab biasanya di tengah malam Liora akan tertidur pulas. Mungkin saja Liora sedang bermimpi karena sepengetahuanku hubungan antara Mas Sadam dan juga mbak Tasya sangat harmonis.
“Mbak Sifana, keluar saat malah hari bukankah di jam seperti itu biasanya Liora sudah tidur?” tanyaku memperjelas ucapan gadis kecil ini.
Aku melihat Liora mengelengkan pelan kepalanya lalu berkata,
“Liora, memang sudah tidur akan tetapi Liora terbangun karena ingin ke kamar mandi. Liora melihat Mbak Sifana keluar dari gerbang dari jendela kamar dan selang beberapa waktu. Papa langsung marah pada Mama dan mereka bertengkar
hebat, Liora takut dan hanya bisa bersembunyi di balik selimut sampai tertidur sendiri,” aku melihat manik mata anak kecil ini berkaca-kaca dan aku yakin jika Liora tidak sedang berbohong, tapi kenapa mereka bertengkar setelah aku pergi bukankah saat berada di dalam kamarku waktu malam itu Mas Sadam terlihat biasa saja?
__ADS_1