
“Kami tidak sedang membicarakan, kamu Mas,” sahutku berbohong.
“kamu tidak pandai berbohong, Sayang,” ucap Mas Sadam sembari tersenyum hangat padaku.
Mas Sadam kini melirik kearah Anggun sembari berkata, "Anggun anak baik jadi jangan contoh Mbak Sifa yang barusan berbohong." Aku mencebikkan bibir usai mendengarkan penuturan Mas Sadam itu. Sedangkan Anggun sendiri terkekeh melihat kami berdua.
“Mas Sadam, tidak bekerja?” tanya Anggun setelah lelaki itu berada di dekatnya.
“Mas Sadam bekerja, tapi setelah mengetahui kalau Anggun bisa
pulang hari ini. Mas Sadam langsung membatalkan meeting penting dengan klien dan datang menemui Anggun.”
“Mas Sadam, kamu tidak harus melakukan hal itu, kami bisa pulang sendiri,” ucapku tidak enak hati setelah mendengarkan ucapannya. Aku masih ingat saat berada di dalam mobil tadi Mas Sadam sudah mengatakan jika dia ada meeting penting dan tanpa Aku sangka jika suamiku memilih datang ke rumah sakit ini untuk membantu Anggun dan membatalkan meetingnya.
“Sayang, Anggun lebih penting dari meeting itu,” sahut Mas Sadam.
“Mas Sadam, terima kasih.” Aku melihat Anggun memeluk tubuh Mas Sadam.
“Tidak perlu berterima kasih, bukankah tempo hari Mas Sadam sudah pernah bilang jika Anggun membutuhkan sesuatu harus minta langsung pada Mas Sadam,” sahutnya sembari mengecup puncak kepala Anggun.
Aku mendorong kursi roda sampai ke pinggir ranjang, lalu Mas.Sadam mengendong Anggun kemudian menaruhnya perlahan di kursi roda itu. Aku hendak membawa dua koper yang berisikan barang-barang Anggun ketika mengetahui jika mas Sadam sudah mendorong kursi roda yang telah Anggun duduki. Mas Sadam menoleh ke arahku lalu melarang ku membawa koper ini karena benda itu akan di bawah oleh para pengawal. Aku mengganggukkan kepala mengerti lalu melangkah di belakangnya.
__ADS_1
“Dokter Heru, terima kasih karena selama ini sudah merawat Anggun dengan sangat baik, dan terima kasih juga untuk para suster yang selalu.bergantian menjaga Anggun ketika saya tidak bisa berada disampingnya,” ucapku dengan tulus pada beberapa orang yang ternyata sudah menunggu kami di depan ruangan kamar Anggun.
“Sebagai tanda terima kasih, Aku akan mengirimkan sejumlah uang kedalam rekening kalian.” Air muka semua suster dan juga Dokter Heru langsung sumringah sekali bahkan senyuman bahagia juga terukir indah dari bibir mereka.
“Terima kasih, Pak Sadam dan juga Bu Sifa karena telah berbaik hati pada kami. Kami sangat menyayangi Anggun karena dia anak yang baik dan juga cepat tanggap.” Ya benar, meskipun berada di rumah sakit ini Anggun selalu saja belajar dan para suster juga ikut memantau perkembangannya hingga adikku itu tidak ketinggalan mata pelajaran meskipun sekarang dia masih berhenti sekolah sebab sudah sekitar 6 bulan Anggun berada di rumah sakit ini hingga para suster sudah mengenalnya dengan baik.
Mas Sadam mendorong kursi roda Anggun berjalan keluar rumah sakit ini. Aku melihat Anggun menadahkan tangan ke langit lalu membiarkan cahaya mentari menjamah tubuhnya. Sejak 6 bulan lalu Anggun tidak pernah keluar dari rumah sakit dan ini kali pertama dia menghirup udara luar. Pantas saja jika air mukanya terlihat bahagia sekali. Aku.mengusap cairan bening yang sudah berkumpul di sudut mata ini. Jantungku berdetak kencang karena bahagia sekali melihat adik yang sangat aku sayangi akhirnya keluar dari tempat ini. Aku membuka pintu mobil bagian belakang sedangkan Mas Sadam sendiri mengangkat tubuh Anggun masuk kedalam mobil.
Para pengawal memakai mobil lain sembari memasukkan koper milik Anggun dan kami keluar dari rumah sakit ini dengan hati yang bahagia sekali. Sekilas Aku melihat Mbak Tasya masuk kedalam rumah sakit, Aku hendak berbicara pada Mas Sadam tapi lelaki itu mengelengkan kepalanya pelan lalu menoleh pada Anggun yang sekarang melihat kearah kiri. Mas Sadam seakan tidak ingin jika sampai Anggun melihat Mbak Tasya lagi. Pun aku langsung mengganggukkan kepala setuju.
Aku melihat Mbak Tasya menghentikan langkahnya ketika melihat mobil kami hampir lewatinya. Mbak Tasya hendak mendekati mobil ini namun, dengan cekatan Mas Sadam melakukan kendaraannya lebih kencang lagi agar Mbak Tasya tidak sampai mendekat kami.
"Terima Kasih, Mas Sadam karena kamu telah menjaga Anggun sama seperti menjaga Liora, Aku sangat beruntung sekali memiliki kamu," batinku sembari menatapnya dengan penuh kekaguman.
Mobil yang di kemudikan oleh Mas Sadam kini mulai melewati gerbang utama rumah keluarga Erlanga. Aku menatap kearah belakang melihat binar mata takjub dan juga kagum yang terpancar jelas dari manik mata Anggun saat ini. Aku melihat di depan rumah Mama Elsa, Papa Damar dan juga Liora sudah menanti kami. Liora meloncat-loncat bahagia mengetahui jika Anggun akan tinggal bersamanya.
“Lihatlah, Mbak Sifa memenuhi janji, Mbak yang akan membawa kamu ke rumah yang mirip dengan negeri dongeng,” ujarku sembari menatapnya. Aku ingin mengabadikan air muka Anggun yang bahagia dalam memori internal otakku.
Anggun menarik pandangannya padaku. “Mbak Sifa, terima kasih karena sudah memenuhi janji itu,” sahutnya padaku. Aku melihat Anggun meneteskan air mata bahagia.
“Liora kamu jangan berlari, nanti jatuh.” Suara Mama Elsa langsung terdengar ketika mobil ini baru saja berhenti. Ya, Liora berlari menuju mobil kami karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anggun.
__ADS_1
“Nenek, jangan Tarik Liora dong. Liora ingin berkenalan dengan Mbak Anggun.” Aku hanya menggelengkan kepala melihat sikap Liora yang tidak sabaran itu.
Mas Sadam mengendong Anggun turun dari dalam mobil lalu menaruh Anggun perlahan di kursi roda. Liora berlari semakin kencang karena ingin berkenalan dengan Anggun secara langsung maklumlah Liora adalah anak tunggal jadi dia pasti sangat senang sekali jika memiliki Kakak.
“Papa, minggir Liora mau berkenalan dengan Mbak Anggun.” Aku melihat Liora menarik tangan Mas Sadam agar tidak menghalanginya agar bisa dekat dengan Anggun.
“Sayang, jangan seperti itu, Papa baru saja menaruh mbak Anggun di kursi,” ucapku pada Anggun sembari mengusap puncak kepalanya.
“Ma, Liora sudah nggak sabar,” jawabnya dengan wajah antusias sekali.
“Ya, sudah kamu boleh berkenalan dengan Mbak Anggun,” jawabku padanya.
“Mbak Anggun, nama Aku Liora,” ucap Liora dengan polos. Aku bahkan melihat gadis kecil itu mengulurkan tangannya pada Anggun dengan tersenyum kuda menunjukkan deretan giginya yang rata.
“Kita sekarang bersaudara jadi, Mbak Anggun akan panggil Liora dengan sebutan Dedek, apakah Liora suka?” tanya Anggun.
“Suka-suka, Liora suka sekali. Aku melihat Liora memeluk Anggun dengan senyuman lebar.
“Papa, kok sudah pulang kerja jam segini?” tanyaku pada Papa Damar.
“Papa langsung pulang lebih awal ketika mengetahui Anggun akan keluar dari rumah sakit,” sahut papa Damar.
__ADS_1
Ya Tuhan, terima kasih karena kau limpahkan kebahagiaan tanpa henti padaku.