
Entah sejak kapan Mas Sadam melangkah mendekati Putra. Kini Putra terhuyung kebelakang karena tidak siap dengan serangan yang di hunjamkan oleh Mas Sadam barusan. Aku lekas menaruh troli yang Aku bawah di pinggir kemudian memeluk Mas Sadam agar lelaki itu tidak kembali memukul Putra.
“Mas Sadam, tolong jangan bertengkar,” ucapku sembari melepaskan pelukan ini di tubuhnya, aku melihat mata tajam lelaki itu berkilat membunuh seakan ia ingin sekali menghabisi Putra sekarang juga.
Dada Mas Sadam naik turun karena emosi yang sudah membuncah. Sekilas Aku menatap wajah Mbak Tasya yang terlihat pucat pasih karena kaget. Pasti wanita itu tidak menyangka jika kami berada di tempat ini sekarang dan memergokinya bertengkar dengan kekasihnya.
Bukankah seharusnya sekarang Mbak Tasya dan juga Putra hidup bahagia bersama lebih lagi Aku yakin jika nominal yang diberikan oleh Mas Sadam waktu itu jelas tidak sedikit, tapi entah bagaimana caranya mereka bisa menghabiskan uang itu hanya dalam kurun waktu kurang dari dua Minggu saja.
“Berani sekali kau menginginkan istriku.” Suara Mas Sadam terdengar berat seakan lelaki ini sedang mencoba menahan emosinya agar tidak semakin parah.
“Istri kamu yang mana!” ledek Putra sembari mengangkat satu alisnya. Tatapan lelaki itu terlihat menantang dan sungguh menyebalkan sekali.
Aku melihat rahang Mas Sadam berkedut seakan dia mencoba meleburkan tulang rahangnya sendiri. Ia meraih baju Putra lalu mencengkeramnya kuat sampai lelaki itu kini terpojok ke rak panjang di belakangnya. “Kau jangan mencoba mencari masalah denganku! Atau kau akan menyesal.” Selesai bicara Mas Sadam langsung menghempaskan tubuh Putra di lantai begitu saja.
Aku hendak melangkah mendekati mas Sadam, tapi Aku segera menghentikan langkah ini ketika melihat Mbak Tasya mendahului Aku untuk mendekati Mas Sadam. Aku merasakan ada tonjokan keras yang langsung mengenai jantung ini ketika melihat Mbak Tasya memeluk Mas Sadam dari belakang sembari menangis tersedu-sedu. Aku merasakan hati ini langsung sakit, rasa sakit itu mulai merambat naik ke tenggorokan sampai membuat dada ini merasa sesak karena menyempitnya rongga di dada hingga membuat sirkulasi udara tidak bekerja dengan baik.
__ADS_1
“Apakah istri yang Mas Sadam maksud tadi adalah Mbak Tasya? Ya, mungkin seperti itu lalu untuk apa Aku masih di sini! Apakah kebahagiaan yang aku rasakan bisa melebur begitu saja bagaikan hembusan angin,” batinku menjerit, Aku hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi dan tetap melihat pemandangan menyakitkan itu dalam diam bahkan tubuh ini membeku.bagaikan di selimuti oleh balok es sampai Aku tidak bisa bergerak walau satu jengkal saja.
“Sayang, maafkan aku karena tidak setia pada kamu. Sekarang Aku sudah sadar jika lelaki itu tidak pernah menginginkan Aku, hanya kamu saja.yang mencintai Aku selama ini tapi entah mengapa Aku terlalu bodoh dan terlambat mengetahui semuanya.” Suara tangis Mbak Tasya mengusik hatiku. Akankah Mas Sadam kembai padanya dan mencampakkan Aku begitu saja? Aku takut sekali menghadapi kenyataan ini, Tuhan bantu Aku agar tetap berada di hati suamiku.
“Jika kamu bersama dengan Tasya, maka biarkan aku mengambil istri kamu yang lainnya.” Aku hanya bisa diam ketika Putra menyinggungku dalam kata-katanya.
Aku melihat Mas Sadam melepaskan kedua tangan Mbak Tasya yang melingkar di pinggangnya dengan kasar dan dia memukul Putra dengan membabi buta, sampai beberapa orang yang melintas memisahkan keduanya bahkan kini satpam di mall ini juga ikut turun tangan karena Mas Sadam masih tidak bisa berhenti memukul Putra. Mbak Tasya sudah mencoba untuk mencegah hal itu agar berhenti tapi Mas Sadam tidak mau mendengarkan ucapannya. Dengan air mata yang nanar aku mengedarkan padangan ke sekitar lalu melihat banyak sekali orang yang sudah berbisik melihat kearah keributan itu.
“Kita panggil polisi.” Aku mendengar salah satu satpam mengatakan itu.
Aku mulai merasakan jika gerakan Mas Sadam berhenti lalu lelaki itu membalikkan tubuhnya memelukku dengan sangat erat seakan dia tidak mau melepaskan ku. “Jangan menangis, Sayang. Aku tidak suka melihat air mata kamu.”
“Jangan bertengkar lagi, Aku tidak suka melihatnya,” sahutku lirih dengan air mata yang semakin terburai di pipi ini, tangisanku mulai terisak-isak.
“Sayang, Aku tidak akan bertengkar lagi. Kamu jangan menangis.” Aku merasakan deru nafasnya yang.memburu sepertinya Mas Sadam masih mencoba menekan emosinya yang belum menyurut.
__ADS_1
“Pak, bawa lelaki itu pergi dan bubarkan semua orang.” Mas Sadam berbicara pada salah satu satpam yang ada di sana.
Kini hanya ada kita bertiga di sudut ruangan ini. Di tempat yang agak sepi.
“Sayang, aku mohon maafkan Aku. Aku berjanji akan berubah sungguh.” Mbak Tasya menjatuhkan lututnya di lantai dengan kepala tertunduk meminta pengampunan dari Mas Sadam.
“Semua sudah terlambat, Tasya.” Mas Sadam menjawab dengan lugas. Aku bisa melihat bicara mata kecewa dan juga benci memenuhi seluruh pandangan lelaki itu saat menatap Mbak Tasya.
“Kamu bisa memaafkan semua kesalahan Sifana, tapi kenapa tidak dengan diriku? Sifana adalah pengganggu kehidupan kita dan kamu malah membelanya sekarang.” Aku hanya diam tidak berani membuka suara tapi manik mata ini bergantian menatap Mas Sadam dan juga Mbak Tasya yang masih duduk di lantai, wanita itu kini sedang menengadahkan wajahnya melihat Mas Sadam.
“Sifana mengganggu kehidupan kita demi bisa membayar biaya adiknya!” tegas Mas Sadam sembari memberikan tatapan tajam pada Tasya. “Namun, kamu dengan tega malah mencoba menghasut gadis kecil itu dengan kata-kata yang menjijikan sekali dan apakah kau tahu karena kelakuan kamu gadis kecil itu hampir saja kehilangan nyawanya.” Aku melihat wajah Mas Sadam merah padam, Dia melangkah mendekati.Tasya yang masih menatapnya dengan air mata belum menyurut juga. Aku tidak ingin Mas Sadam melakukan kesalahan dengan memukul Mbak Tasya jadi aku berinisiatif untuk memegangi tangannya supaya bisa membantu mengontrol emosi lelaki itu.
“Huh!” hembusan nafasku keluar dengan kasar seakan Aku sedang mencoba mengusir emosi di hati ini lalu membuangnya lewat hembusan nafas tadi.
Mbak Tasya mulai berdiri dari posisi duduknya lalu menatap Aku dengan tajam seakan ia ingin mencakar wajah ini dengan kuku-kuku tangannya yang panjang itu. “Sayang, Aku tidak pernah mengetahui jika Sifana mempunyai Adik dan Aku juga tidak akan pernah tega melukai anak kecil yang tidak bersalah itu,” elak Mbak Tasya dengan mengusap air matanya.
__ADS_1
'Tasya kau sangat pandai berbohong.'