Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Liora Kecelakaan


__ADS_3

Hari sudah mulai larut dan semua tamu undangan mulai meninggalkan acara ini satu-persatu. Aku melihat Mama Elsa dan juga Papa Damar sedang sibuk berbicara dengan. rekan bisnisnya yang hendak meninggalkan acara ini. Anggun dan juga Liora melipat kedua tangannya di atas meja kemudian mereka membenamkan kepalanya di lipatan tangan itu dan aku percaya jika kedua bocah itu pasti sudah masuk kedalam alam mimpi karena sekarang sudah hampir pukul 11 malam.


"Mas, lihatlah itu kasihan mereka," ucapku sembari menunjuk kearah Liora dan juga Anggun yang masih menutup mata mereka.


"Kita akan pulang lebih dahulu," sahut Mas Sadam.


Mas Sadam menautkan kedua jari-jemari kami kemudian melangkah bersama menghampiri Mama Elsa dan juga Papa Damar.


"Ma, Pa. Sadam dan juga Sifa pulang dahulu kasihan Liora dan juga Anggun yang sudah kelelahan." Aku melihat Papa Damar langsung mengganggukkan kepalanya setuju.


"Ma, maaf Sifa pulang lebih dulu," pamitku pada Mama Elsa dan wanita paruh baya itu langsung mengganggukkan kepala setuju.


"Mas, kamu gendong Liora saja, biar aku bangunkan Anggun." Pintaku pada Mas Sadam dan lelaki itu mengganggukkan kepalanya.


"Anggun, Sayang. Ayo kita pulang acaranya sudah selesai," ucapku pada Anggun sembari mengusap pelan pipinya.


Aku melihat Anggun mulai mengerjapkan matanya lalu gadis kecil itu menarik kepalanya pelan dari lipatan kedua tangannya. Aku membenahi rambutnya yang berantakan.


"Maaf, Mbak Sifa karena Anggun ketiduran tadi," ucap Anggun sembari mulai berdiri dari posisi duduknya.


"Tidak masalah, Mbak Anggun tahu kamu pasti lelah," sahutku padanya sembari mengandeng tangannya.


***


"Kakiku sakit sekali," keluhku sembari memijat sendi betisku yang terasa keras.


Aku tidak terbiasa menggunakan sepatu hills jadi sangat wajah sekali jika Aku merasakan kaki ini sangat capek. Padahal Aku sudah membersihkan tubuh akan tetapi rasa lelah ini tidak kunjung hilang namun sedikit berkurang.


Aku meminta Mas Sadam keluar dari kamar mandi dengan mengunakan kimono handuk. Aku menata bantal dan menaruh kepalaku di sana, tidak butuh waktu lama Aku langsung masuk kedalam alam mimpi. Aku mulai mengerjapkan mataku ketika merasakan ada seseorang yang memijat kaki ini. Aku mengarahkan tangan untuk mengucek mata dan melihat Mas Sadam sedang memijat kakiku.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanyaku pada Mas Sadam sembari menarik kaki ini menjauh dari tangannya.


"Sayang, aku tahu kamu pasti lelah jadi Aku mencoba meringankan kaki kamu saja, sekarang kamu kembali tidur lagi," pinta Mas Sadam padaku.


"Tidak perlu Mas besok pagi kalau sudah bangun tidur juga akan hilang rasa lelahnya," ucapku pada Mas Sadam.

__ADS_1


"Sayang, sudah tidur jangan bicara lagi." Mas Sadam mengecup keningku kemudian kembali melihat kaki ini.


Aku merasakan mataku mulai terasa berat dan tidak butuh waktu lama aku langsung masuk kedalam alam mimpi.


Seperti biasa aku bangun di pagi hari yang cerah ini. Selesai membersihkan tubuhku aku langsung melangkah keluar dari rumah menuruni anak tangga rumah ini. Aku langsung menuju dapur dan menyiapkan bahan yang nantinya akan aku gunakan untuk membuat sarapan pagi.


"Sayang, maaf Mama baru bangun." Aku menarik padangan ku kearah Mama Elsa yang baru saja masuk dari pintu dapur ini.


"Aku tahu, Mama Elsa pasti lelah," sahutku dengan menaruh mangkuk terakhir di atas meja ini.


"Mama kemarin malam pulang jam berapa?" tanyaku pada Mama Elsa.


"Mama sampai di rumah pukul 02.00 dini hari," sahut Mama Elsa.


"Mama pasti lelah sekali, setelah sarapan pagi sebaiknya kembali beristirahat," pintaku pada Mama Elsa.


"Mama." Aku dan juga Mama Elsa saling menatap ketika mendengarkan suara Liora yang berteriak cukup nyaring.


"Liora," ucapku dan juga Mama Elsa panik.


Aku dan juga Mama Elsa langsung berlari menuju asal suara dan kami langsung membuatkan mata ketika melihat Liora sudah tergeletak di kaki anak tangga dengan cairan merah mengalir dari luka di kepalanya.


Aku memeluk tubuh kecil yang kini sedang terkulai lemas. "Mama panggil, Mas Sadam dan juga Papa," pintaku pada Mama Elsa dengan air mata yang sudah membanjiri wajahku.


"Dedek," aku mendengar suara Anggun yang panik mengetahui adik kesayangannya berdarah-darah seperti ini.


"Anggun, apa yang terjadi kenapa Dedek bisa sampai jatuh?" tanyaku pada Anggun.


"Tadi Dedek bilang mau makan lebih awal karena dia lapar dan Anggun masih memakai baju jadi, Anggun biarkan Dedek menuruni anak tangga rumah ini sendirian," jelas Anggun padaku. Aku melihat air mata sudah membasahi wajah Anggun dan tubuh adikku gemetar Dia pasti tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi pada Liora.


"Liora," teriak Mas Sadam sembari berlari menghampiri kami.


"Mas, ayo kita bawah Liora ke rumah sakit sekarang." Ucapku dengan usai tangis semakin kencang, aku benar-benar tidak kuasa menahan air mata ini melihat anak yang sangat Aku sayangi pucat pasih seperti ini.


Mas Sadam langsung mengendong Liora sedangkan Papa Damar sendiri segera melangkah menuju pintu untuk menyiapkan mobil.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Aku dan juga semua orang sedang menunggu di depan ruangan UGD. Aku memeluk tubuh Anggun yang masih gemetar, sebisa mungkin Aku mencoba menenangkan diriku agar tidak membuat Anggun semakin cemas.


"Kamu tenang saja, Dedek adalah anak yang kuat dia akan sembuh," ucapku pada Anggun sembari mengusap kepalanya.


"Cucuku sedang di dalam sana, apa yang dilakukan oleh semua dokter kenapa mereka masih juga belum membuka pintu ruangan itu." Aku mendengarkan Isak tangis Mama Elsa terdengar memilukan sekali.


"Mama, bersabarlah mereka akan menyelamatkan Liora, cucu kita akan sembuh." Aku mendengar suara Papa Damar yang mencoba untuk menenangkan Mama Elsa.


Aku melihat Mas Sadam berjalan mondar-mandir kesana-kemari dengan sesekali mengusap wajahnya yang kelihatan cemas sekali. terlihat beberapa orang berlalu-lalang menjenguk keluarga mereka sembari membawa makanan ditangannya. Entah sudah berapa kali Aku melihat kearah pintu rumah sakit ini, akan tetapi pintu bercat putih tulang itu tidak kunjung terbuka juga.


Cklek!


Setelah mendengar suara pintu yang di buka dari dalam. Kami semua langsung mengerumuni Dokter Heru.


"Dokter bagaiman dengan kondisi anak saya?" tanya Mas Sadam pada Dokter Heru.


"Liora banyak mengeluarkan darah akhibat benturan keras kepalannya dan kebetulan sekali golongan darahnya AB dan stok darah tersebut di bang darah rumah sakit ini sedang kosong. Dan darah ini termasuk golongan darah yang langka," jelas Dokter Heru dengan panjang lebar.


"Dokter bisa tes darah saya, kemungkinan cocok," pinta Mas Sadam.


"Baiklah," sahut Dokter Heru cepat.


Selang beberapa waktu aku melihat Mas Sadam keluar dari ruangan pasien dengan wajah masih keliatan cemas sekali.


"Mas, bagaimana?" tanyaku padanya. Mama Elsa dan juga Papa Damar terlihat tegang menunggu Mas Sadam menjawab ucapanku.


"Golongan darahku berbeda dengan Liora," sahut Mas Sadam sembari memijat pelopor yang pusing.


"Tidak ada cara lain, kita harus meminta bantuan polisi untuk membawa Tasya ke rumah sakit karena jika darah kamu tidak cocok maka milik Tasya pasti cocok dengan Liora," ucap Papa Damar.


"Sadam akan menghubungi kantor polisi dan meminta bantuan pada mereka." Setelah bicara Mas Sadam langsung mengarahkan tangannya untuk merogoh saku celana mengambil ponsel.


Mas Sadam melangkah menjauh dari kerumunan, karena terdengar suara bising dari beberapa penghuni rumah sakit yang sedang menitihkan air mata ketika mengetahui kelautan kritis. Jantungku berpacu dengan kencang sekali dan Aku takut sesuatu terjadi pada Liora, tapi aku masih mengajak otakku untuk berpikir positif, Liora anak yang kuat dan pintar dia akan sembuh.

__ADS_1


"Sadam bagaikan?" tanya Papa Damar ketika mengetahui Mas Sadam sudah selesai menghubungi kantor polisi.


"Tasya menolak datang ke rumah sakit."


__ADS_2