Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Menjauh Dari Keluargaku


__ADS_3

Melihat Liora yang sudah masuk kedalam kamar mandi Aku segera mengambil koper dan memasukkan baju Anggun dan juga Liora kedalam koper warna pics ini. Setelah Aku rasa semua baju yang di perlukan berada di dalam koper pintu kamar mandi di buka dari dalam. Aku membantu Liora menggunakan baju dan juga menyisir rambutnya.


“Mama, kita akan menginap berapa hari di sana?” tanya Liora padaku.


“Kita akan menginap dua hari, Sayang,” sahutku padanya.


“Yeee, nanti Liora dan juga Mbak Anggun akan mengambil banyak foto di sana,” ucapnya sembari meloncat kegirangan.


“Sayang, jangan lompat-lompat begitu nanti tidak selesai-selesai menyisir rambut panjang kamu,” ujarku padanya.


“Iya, Ma.” Liora kini duduk di pangkuanku dan dia hanya diam.


“Nah, ini sudah selesai,” ucapku padanya sembari menaruh sisir ini di atas meja rias.


“Mbak Anggun, ayo kita pergi untuk sarapan pagi, semakin


cepat menghabiskan sarapan kita akan semakin cepat berangkat.” Aku hanya bisa menggelengkan kepala ini melihat sikap Liora yang sudah tidak sabaran.


Aku melihat Liora dan juga Anggun yang sudah menuruni anak tangga rumah ini, Aku melangkah menuju ke kamarku untuk melihat apakah suamiku tercinta sudah bangun dari tidurnya apa belum. Aku mendengarkan suara gemericik air dari dalam kamar mandi itu tandanya jika suamiku sudah bangun dari tidurnya Aku bergegas membersihkan ranjang dan juga seluruh kamar ini kemudian menyiapkan baju untuk suamiku, Aku memilih celana jeans hitam dan juga kaus warna hitam panjang, entah mengapa Aku sangat suka sekali melihat suamiku menggunakan baju hitam karena menurutku Ia akan terlihat sangat tampan sekali.


Di dapur.


“Nenek, ayo cepat kita sarapan pagi, Liora dan juga Mbak Anggun akan di ajak oleh Papa dan juga Mama pergi liburan.” Aku terkekeh melihat tingkahnya yang selalu tidak sabaran.


“Liora, kamu itu jangan membuat Nenek gugup, nanti kalau kuah ini tumpah ke lantai bagaimana.” Aku melihat Mama Elsa membawa mangkuk berisikan sup hangat di dalamnya. Sedangkan Liora sendiri terus saja mengikutinya dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh.


“Dedek, jangan begitu ayo sini duduk sama Mbak Anggun.” Aku melihat Anggun mengandeng tangan Liora kemudian menarik salah satu kuris dan menyuruh adiknya itu duduk di sana.


“Mbak Anggun, Liora sudah tidak sabar.”


“Mama, ayo cepat duduk,” ucap Liora ketika melihat aku ada di dekat meja makan.

__ADS_1


“Sifana, cepat kamu katakan sesuatu padanya agar dia tidak berhenti mengoceh,” gerutu Mama Elsa yang sudah mulai gemas melihat sikap cucunya ini.


“Liora, lihat itu Nenek sampai berkeringat karena membuatkan kita sarapan pagi, apakah kamu tidak kasihan?” tanyaku padanya.


“Liora, tentu saja kasihan,” jawabnya polos sembari mengamati wajah lelah Mama Elsa.


“Kalau Liora, kasihan sebaiknya jangan membuat kegaduhan dan duduk diam saja,” pintaku padanya. Aku bicara dengan suara lembut agar Liora tidak salah paham dengan ucapanku barusan.


“Baik, Ma.” Aku tahu Liora ini anak yang cerdas Dia akan mengerti dengan apa yang barusan Aku katakan.


“Ada apa ini?” tanya Papa Damar setelah memasuki pintu dapur ini.


Aku melihat Mas Sadam berada dibelakangnya dan lelaki itu memakai baju yang Aku pilihkan tadi, Dia baru saja mencukur bulu halus di sekitar rahangnya dan itu membuatnya semakin kelihatan tampan-dan dia suamiku.


“Kakek, nanti Liora dan juga Mbak Anggun akan liburan sama Papa dan juga Mama,” jelas Liora tanpa diminta. Aku melihat wajahnya sangat antusias sekali.


“Benarkan itu?” tanya Papa Damar sembari menatap Mas Sadam.


***


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya Aku dan juga Mas Sadam tiba di hotel ini. Liora dan juga Anggun turun dari dalam mobil. Aku melihat Anggun yang nampak senang sekali melihat hotel megah yang ada dihadapannya saat ini, adikku tidak pernah pergi ke hotel sebelumnya jadi sangat wajar jika Ia ingin mengabadikan setiap detail luar hotel ini ke memori internalnya.


“Mbak Sifa, bagus sekali hotel ini,” puji Anggun sembari menatapku.


“Iya, memang sangat bagus dan Mbak Sifa tahu kamu pasti akan menyukai kamar hotelnya,” sahutku padanya.


“Liora sudah pernah ke sini dua kali,” jelas Liora sembari melihat kearah Mas Sadam. Aku hanya tersenyum karena Aku sudah tahu itu.


“Apakah Liora ingin ke hotel yang lain?” tanya Mas Sadam.


“Tidak, di sini saja Mbak Anggun belum pernah ke sini,” jawab Liora mantap.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu kita masuk kedalam,” sahut Mas Sadam.


“Ayo-ayo kita masuk,” sahut Liora dengan sangat antusias. Liora melompat-lompat kecil karena senang dan itu sangat lucu sekali.


Aku, Anggun dan juga Liora duduk di sofa yang ada di ruangan tunggu hotel ini sedangkan Mas Sadam melangkah mendekati resepsionis untuk memesan kamar presidential Suite. Aku melihat seorang lelaki tampan dengan setelan jas berwarna hitam melekat di tubuhnya yang kekar, lelaki itu tersenyum kearah ku dan aku tahu itu adalah Gerry.


“Sifa, kau di sini,” tanya Gerry padaku. Lalu Aku melihat Ia menatap kearah Anggun.


“Sifa, apakah dia si kecil Anggun yang selalu merengek padaku minta di gendong?” tanya Gerry padaku tanpa mengalihkan pandangannya pada Anggun.


“Ya, dia Anggun si kecil yang selalu menangis minta kamu gendong,” jawabku padanya. Waktu itu Anggun masih berusia sekitar lima tahun ketika Aku baru duduk di bangku SMA.


“Hei, cantik kamu sudah besar sekarang,” ucapnya sembari mengusap kepala Anggun.


“Mas Gerry juga tampan sekali,” sahut Anggun dengan tersenyum manis lalu memeluk tubuh Gerry.


Gerry mengalihkan pandangannya kearah Liora yang kini duduk di sampingku. “Siapa dia?” tanya Gerry padaku.


“Dia anakku,” sahutku padanya sembari mengelus kepala Liora lembut.


Aku melihat perubahan air muka Gerry yang nampak sedih dan Aku berharap itu hanya firasat ku saja. “Dia cantik tapi tidak mirip seperti kamu,” sahut Gerry dengan tatapan penuh selidik melihat kearah Aku dan juga Liora secara bergantian.


“Dia anak dari suamiku,” jawabku jujur. “Tapi Aku sangat menyayanginya,” sambungku lagi memperjelas.


“Oh begitu,” sahut Gerry sembari mengganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang Aku ucapkan.


“Mas Gerry, kita sudah lama tidak bertemu, dan Anggun sangat rindu,” ucap Anggun sembari menatap wajah Gerry setelah Ia melepaskan pelukannya.


Aku melihat Gerry mencubit gemas kedua pipi Anggun. “Mas Gerry sempat kuliah di luar negeri dan sekarang memilih untuk menetap lagi di kota ini.” Aku melihat Gerry merapikan rambut Anggun yang tadi sempat Ia acak-acak.


“Menjauh dari keluargaku.” Aku dan juga Gerry yang sempat saling menatap langsung terjingat kaget setelah mendengarkan suara penuh penekanan itu.

__ADS_1


Wah … wah … Sadam mulai cemburu lagi nih.


__ADS_2