
Aku mulai merasakan jika Mas Sadam membalas pelukanku lalu lelaki itu mengecup leherku sembari berbisik. “Sayang, maafkan Aku jika sikap posesif ini tidak bisa Aku kendalikan, entah mengapa bayangan Tasya yang bersama lelaki lain terus saja menghantuiku.”
Aku melepaskan perlahan pelukan ini. “Mas, Aku mohon kendalikan emosi kamu karena itu bisa menghancurkan segalanya,” ucapku padanya sembari menatap lekat binar mata terluka itu.
“Aku akan selalu mencobanya,” ucap Mas Sadam.
“Aku percaya kamu pasti bisa, Mas.” Aku tersenyum padanya sembari mengusap lembut pipinya.
“Sekarang kita akan keluar dari ruangan ini dan menemui kedua bocah itu,” ucap Mas Sadam padaku.
“Ayo kita keluar dan melihat apa yang akan dilakukan kedua bocah itu sekarang.”
Aku dan juga Mas Sadam bergandengan tangan kemudian kami melangkah menuju ke balkon. Di sana Anggun dan juga Liora sedang berdiri dan keduanya menatap pemandangan yang ada di bawah.
“Dedek, pemandangan ini sangat indah sekali mirip seperti yang ada di film. “Aku mendengar Anggun berbicara sembari menyisir pemandangan yang ada di bawah sana.
“Nanti malam, kita akan makan di restoran yang berada di atas hotel ini, pemandangan di sana jauh lebih indah.” Aku mendengar Liora berbicara.
“Benar apa yang Dedek kamu katakan.” Aku dan juga Mas Sadam melangkah mendekati keduanya.
“Mama, nanti siang kita makan di mana?” tanya Liora sembari melangkah mendekatiku.
“Terserah Papa saja,” sahutku sembari melirik kearah Mas Sadam.
“Bagaimana jika sekarang kita pergi ke taman hiburan,” ucap Mas Sadam.
__ADS_1
Aku melihat ekspresi Anggun dan juga Liora saling beradu pandang lalu satu detik kemudian keduanya langsung meloncat bahagia. Sudah lama Aku tidak mengajak Anggun pergi ke taman hiburan jelas saja Ia sangat senang sekali mendengarkan akan hal ini. Liora meminta berangkat ke taman hiburan sekarang dan Mas Sadam langsung menganggukkan kepalanya setuju.
“Mas, Aku kira kita hanya akan beristirahat di hotel ini saja selama dua hari,” ucapku padanya.
“Sejak dari awal aku memang sudah berniat mengajak kalian jalan-jalan lagi pula selama menikah aku belum mengajak kamu berlibur kemanapun bahkan kita saja masih belum bulan madu,” bisik nya padaku. Dan aku langsung memberikan tatapan sengit padanya.
“Mas, bisakah satu hari saja kau tidak memikirkan akan hal itu,” ledekku padanya.
“Tidak bisa,” sahut Mas Sadam sembari menatapku dengan mesum.
Aku mendekatkan bibirku padanya lalu mengigit telinganya. “Auch,” rintih nya tanpa sadar.
Liora dan juga Anggun yang hendak masuk kedalam lift langsung mengurungkan niatnya dan menatap kearah kami berdua.
“Papa, ada apa?” tanya Liora pada Mas Sadam.
“Papa, kalah sama anak kecil di gigit nyamuk saja mengadu kesakitan,” ledek Liora dengan wajah polosnya.
“Sudah, ayo kita masuk kedalam lift,” pintaku dan mereka bertiga langsung mengganggukkan kepalanya setuju.
Ketika pintu lift itu hampir tertutup tidak sengaja aku melihat Gerry berdiri menatapku, sepertinya ia melihat semuanya dan tepat sebelum pintu Lift ini tertutup rabat Gerry tersenyum padaku sembari melambaikan tangannya ke arahku. Aku melirik kearah Mas Sadam yang sibuk berbicara dengan Liora dan juga Anggun. Aku membalas senyumannya sembari melambaikan tangan dengan gerakan pelan hingga Mas Sadam tidak menyadari apa yang Aku lakukan.
Hubungan kita dimasa lalu sama seperti pintu lift ini, tertutup rapat tanpa cela. Kisah ku dengan Gerry sudah berakhir dan anggap saja itu adalah ketidak beruntung kami dimasa lalu atau Tuhan memang merencanakan Aku untuk Mas Sadam dan begitu juga sebaliknya tapi dari pengalaman hidup yang aku jalani, takdir tidak salah memilih dan semua rencana Tuhan sangat indah, yanbegitulah adanya.
***
__ADS_1
Kami semua turun dari dalam mobil setelah sampai di taman bermain. Mas Sadam membeli tiket masuk untuk kami semua, setelah Ia mendapatkan tiket kami semua melangkah menuju penjaga dan Ia mengambil semua tiket kemudian
menyuruh kami semua masuk kedalamnya. Liora dan juga Anggun melihat sekitarnya kedua anak ini pasti bingung mereka ingin menaiki yang mana dulu.
“Mbak Anggun, aku ingin naik rollercoaster.” Aku melihat Liora
menunjuk kearah permainan kereta yang geraknya sangat cepat sekali.
“Dedek, kita tidak bisa menaikinya, hanya orang dewasa saja yang bisa menaikinya,” ucap Anggun sembari mengusap punggung tangan Liora. Aku dan juga Mas Sadam hanya bisa melihat keduanya.
“Bagaimana kalau kita naik yang lain saja?” tanya Anggun.
“Iya ayo, kita main mandi bolo.” Aku melihat Lioranmeloncat-loncat kegirangan. Bahkan sejak masuk kedalam taman bermain Ia tidak
melepaskan tangan Anggun sedikitpun.
“Ayo, biar Mbak Anggun temani.” Manik mataku tidak lepas
memandangi keduanya karena Aku takut mereka hilang darinpandanganku jikanmengingat begitu banyak pengunjung taman hiburan ini, sekarang adalah malam
minggu jadi sangat wajar sekali jika banyak orang yang mengajak anaknya bermain.
"Sayang, kamu ingin main apa?" tanya Mas Sadam padaku.
"Aku tidak ingin bermain," sahutku pada Mas Sadam.
__ADS_1
"Kalau begitu nanti malam bermain denganku saja."
Wah ... wah Mas Sadam ini benar-benar ya.