Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Aku Tidak Akan Meninggalkan Kamu


__ADS_3

Alur Nisa buat cepat ya takut kalian bosan.


7 bulan kemudian.


Kini bentuk tubuhku yang indah dan juga langsing sudah tidak terlihat lagi, tubuhku mulai gemuk dan perutku membuncit. Aku hampir mirip seperti badut andaikan ditambah riasan make up di wajah ini. Mas Sadam sudah tidak pernah lagi merasa mual seperti bisanya semenjak usia kehamilanku semakin membesar sekarang. Semua orang yang ada di rumah ini semakin posesif dalam menjagaku bahkan kini kamarku juga berada dilantai bawah sejak usia kehamilanku menginjak 4 bulan paling tepatnya Mas Sadam memindahkan semua barang-barang kami ke lantai bawah untuk menjaga hal yang tidak diinginkan. Sedangkan untuk si kecil Liora, dia masih sering bertanya kapan adiknya akan keluar bahkan ia juga sering membagikan makanan untukku dengan dalih ia ingin berbagi makanan itu dengan adiknya yang masih berada didalam perutku ini. Sikapnya sungguh lucu dan sangat polos sekali adiknya masih berada didalam perut akan tetapi ia sudah sangat menyayangi dan membagi makanan dengan adiknya ini, aku sungguh tidak sabar menunggu calon bayiku lahir nanti pasti Liora akan terus menjaganya dan entah celotehan polos apa lagi yang akan anak itu katakan ketika melihat adik kesayangannya sudah lahir.


“Sayang, kamu sedang memikirkan apa?” tanya seseorang yang sekarang sedang berdiri di belakangku.


Aku memutar tubuh ini lalu menatap kearah suamiku yang sangat tampan dan juga begitu pengertian sekali. Aku menyentuh janggutnya yang baru tumbuh dan aku menatap manik mata gelap yang selalu membuatku terperangkap didalam cintanya. Mas Sadam mengarahkan tangannya untuk mengusap perutku lalu aku melihat lelaki itu berjongkok dan mengecup perutku seakan ia sedang mencium bayinya yang masih berada didalam sana.


“Sayang, apakah kamu akan berangkat bekerja pagi ini?” tanyaku.


“Iya, kenapa?” tanya Mas Sadam balik.


“Perkiraan aku akan melahirkan sekitar 1 minggu kedepan,” ujarku padanya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku akan membawa kamu kemanapun aku pergi, biar jika kamu merasakan kontraksi aku langsung sigap membawa kamu ke rumah sakit,” ujar lelaki itu mulai posesif dan mengatakan hal yang tidak mungkin.


“Mas, kamu tidak perlu melakukan hal itu karena di rumah ada Mama Elsa yang akan selalu menjagaku jadi kamu tidak perlu merasa khawatir seperti itu.” aku bicara sembari mendudukkan tubuh perlahan di atas ranjang.


Mas Sadam membantuku duduk, lalu ia mengusap bagian punggungku perlahan mencoba membuat aku merasa nyaman. Ya, sejak perutku membesar aku sering sekali mengeluh sakit perut dan sekarang juga aku lebih sering buang air kecil namun, kata dokter itu hal yang sangat wajah jika kondisi janin sudah mulai membesar. Janin yang sedang berada di dalam rahimku ini adalah seorang jagoan, ya aku mengandung bayi lelaki yang tumbuh dengan sehat dan juga kuat seperti Mas Sadam.


“Kalau begitu aku tidak akan berangkat ke kantor, aku akan bekerja dari rumah sampai menunggu kamu habis lahiran,” ujar Mas Sadam sembari menatapku dengan wajah terlihat serius.


“Mas, kamu jangan begitu sebaiknya kamu tetap pergi ke kantor. Nanti jika aku mengalami kontraksi maka akan aku beri tahu,” pintaku padanya.


“Sayang, ako mohon jangan bernegosiasi denganku karena masalah ini. Aku tidak akan meninggalkan kamu barang satu menit saja.” Selesai bicara suamiku langsung melangkah masuk kedalam ruangan ganti kemudian ia menganti jas kerjanya dengan baju yang lebih santai.


“Duduklah!” Perintah Massimo.


Enak saja mau memerintah diriku. “Kalau Aku tidak mau lalu kau akan melakukan apa.” Tantang Emine sembari menaruh kedua tangannya bersedekap di dada. Emine menatap Massimo tidak kalah tajam, ia bahkan tidak berkerdip sama sekali hanya untuk menunjukkan jika lelaki itu tidak bisa mengintimidasi dirinya melalui tatapan matanya itu.

__ADS_1


“Kau yang memaksaku.” Massimo menarik Emine kedalam pangkuannya lalu melingkarkan kedua tangannya memegangi pinggang gadis itu.


“Halit, lihatlah tingkah Tuan Massimo. Dia sangat agresif sekali.” Bisik Alker lirih di telinga Halit sembari mencondongkan sedikit tubuh kearahnya.


“Tutup mulut kamu itu, jika kau tidak ingin terkena masalah,” sahut Halit sembari melirik kearah Alker dengan tatapan tajamnya.


“Kau selalu saja tidak seru jika diajak bicara,” keluh Alker sembari kembali duduk dengan tegap.


“Lepaskan Aku, apa yang kamu lakukan kau berani sekali menyentuh Aku seperti ini,” teriak Emine dengan darah yang berdesir dalam tubuhnya. Emine terus saja bergerak meminta untuk di lepaskan tapi Massimo masih saja diam tanpa ekspresi seakan apa yang Emine lakukan tidak melukai tubuhnya.


“Diam lah!” ucap Massimo dengan menahan sesuatu yang sudah menegang di tubuhnya. Sikap Emine ini malah membangunkan sesuatu yang tadinya sedang tertidur di bawah sana.


“Lepaskan Aku dulu, baru Aku akan diam,” sahut Emina masih berusaha berdiri dari pangkuan lelaki itu. Tapi belum sempat ia berdiri Massimo sudah menariknya duduk kembali sampai beberapa kali. Halit dan juga Alker menatap keduanya dengan wajah bengong.


Alker yang merasa lapar semakin tersiksa entah kapan kedua orang itu akan diam lalu membiarkan mereka menyantap semua hidangan lezat di atas meja ini.

__ADS_1


“Apa ini yang bergerak di bawah sana? Kenapa terasa keras,” batin Emine sembari membeku di posisi duduknya.


Massimo mendekatkan bibirnya di dekat telinga Emine lalu berkata, “Kau sudah membangunkannya, Sayang.”


__ADS_2