Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kapan Terlambat Datang Bulan


__ADS_3

 Setelah sampai di rumah kami semua turun dari dalam mobil. Liora langsung merentangkan kedua tangannya dihadapan Mas Sadam. Aku hanya terkekeh saja melihat tingkahnya yang menagih janji Mas Sadam untuk menggendongnya.


“Sayang, maaf aku tidak bisa membantu kamu berjalan,” bisik Mas Sadam didekat telingaku.


“Tidak masalah, Mas aku bisa berjalan sendiri,” sahutku pada Mas Sadam dengan senyuman manis.


“Papa, ayo-ayo gendong Liora.” Aku melihat Liora melompat-lompat kecil sembari masih merentangkan kedua tangannya dihadapan Mas Sadam.


“Baiklah, Papa akan gendong tapi cium dulu,” pinta Mas Sadam sembari menyodorkan pipinya di depan wajah Liora.


“Akan Liora cium,” usai bicara Liora langsung mengecup pipi Mas Sadam beberapa kami. “Ayo-ayo sekarang gendong Liora,” ucap Liora sembari menghentikan loncatannya itu.


Aku dan juga yang lain terkekeh. Mama Elsa membantuku masuk kedalam rumah. Aku sungguh senang sekali berada di rumah ini suasana rumah yang selalu terlihat hangat dan semua orang yang.saling menjaga satu sama lain membuat kehidupan ini sempurna sekali. Aku dan juga Anggun melangkah menuju lantai atas sedangkan Mama dan juga Papa duduk di ruang tengah rumah ini masih berbincang. Sebenarnya tadi aku ingin ikut duduk diruang tamu bersama dengan kedua mertuaku akan tetapi mereka meminta aku untuk istirahat saja dan akhirnya aku mengiyakan.


Sepanjang hari aku hanya berbaring di atas ranjang karena Mas Sadam melarang ku turun untuk membantu Mama Elsa membuat makan siang. Aku sudah merasa lebih baikan akan tetapi Mas Sadam tidak mau perduli dengan kicauanku dan masih kekeh meminta aku berbaring di atas ranjang.


“Mas, ini sudah waktunya makan siang, ayo kita turun untuk makan siang,” pintaku pada Mas Sadam.


“Sayang, kamu disini saja biar aku yang mengambilkan makan siang untukmu!” titah Mas Sadam padaku.


“Baiklah,” sahutku padanya.

__ADS_1


Aku tahu ini bentuk perhatian Mas Sadam padaku dan aku sangat menghargainya. Mas Sadam selalu menatapku dengan sendu bahkan beberapa kali kami jalan bersama tidak sekalipun aku pernah melihatnya melirik wanita lain padahal diluar sana banyak sekali wanita yang lebih cantik dan juga memiliki tubuh yang molek dari pada aku. Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Mas Sadam kembali masuk kedalam ruangan ini tangannya membawa nampan yang berisikan makanan.


“Mas, apakah Liora dan juga Anggun sudah makan?” tanyaku pada Mas Sadam yang baru saja mendudukkan tubuhnya di sampingku.


“Sudah, mereka berdua bilang selesai makan akan datang kemari,” sahut Mas Sadam sembari mengambil piring yang ada di atas nakas.


Akhir-akhir ini aku makan dengan lahap sekali jika disuapi oleh suamiku padahal dulu Aku malah malu ketika disuapi olehnya. Perasaan ini sangat nyaman sekali tapi aku suka melihat wajah tampan suamiku.


“Hoek,” aku yang sedang asik mengunyah langsung membulatkan mata melihat Mas Sadam tiba-tiba mual lelaki itu berlari masuk kedalam ruangan kamar mandi setelah menaruh piring berisikan nasi di atas meja.


Aku menjejakkan kaki ini di atas lantai kemudian berlari menuju kamar mandi mengikuti langkah kaki suamiku barusan kulihat Mas Sadam sedang mencoba mengeluarkan isi perutnya. Lelaki itu berdiri di depan wastafel dan aku bergegas menghampirinya dan membantunya memijat tengkuknya. Selang beberapa waktu Mas Sadam sudah selesai ritual mengeluarkan isi perutnya dan kini sedang membasuh wajahnya menggunakan kucuran air dari kran, ia kumur dengan air dari kran itu agar rasa pahit di bibirnya hilang.


“Sayang, apakah kamu sakit?” tanyaku pada Mas Sadam sembari mengarahkan punggung tangan ini ke jidat suamiku. Suhu padannya normal akan tetapi kenapa wajahnya pucat seperti ini.


“Mas, kamu rebahan saja di atas ranjang,” pintaku padanya.


“Sayang, maaf karena kamu malah merawat aku sekarang, sudah kamu jangan hiraukan aku dan kamu lekas istirahat saja,” pinta Mas Sadam padaku. Mana mungkin aku bisa beristirahat jika melihat orang yang aku cintai sedang sakit seperti ini.


“Mas, ini kamu minum air hangatnya,” ucapku pada Mas Sadam. Mas Sadam tadi membawakan aku satu piring nasi dan juga air hangat dan kini aku memberikan air hangat itu padanya agar perutnya terasa membaik.


“Tidak, itu tadi aku bawakan untuk kamu,” ucap Mas Sadam menolak meminum air yang aku berikan.

__ADS_1


“Kalau begitu kita minum separuh-separuh saja biar adil,” pintaku padanya.


Mas Sadam langsung mengganggukkan kepalanya setuju, aku melihat wajah suamiku yang pucat pasih. Aku mengambil piring yang ada di atas meja kemudian menyuapinya awalnya Mas Sadam tentu saja menolak akan tetapi aku berkata padanya jika kita berdua akan bergantian menyuapi jadi Mas Sadam setuju dengan ide ku itu. Lagi pula aku tidak berselera makan jika tidak disuapi olehnya.


Cklek!


Aku menatap kearah pintu yang barusan dibuka terlihat Mama Elsa, Papa Damar , Anggun dan juga Liora masuk kedalam ruangan kamar ini. Mama Elsa dan juga Papa Damar mengerutkan kening mereka melihat aku yang sedang menyuapi Mas Sadam. Mereka pasti bingung melihat akan hal ini karena yang mereka tahu, aku yang sakit dan bukan mas Sadam. Aku melihat wajah cemas mulai nampak dari air muka kedua mertuaku ketika mereka baru menyadari jika kini wajah Mas Sadam sedang pucat pasih.


“Sifana, apakah Sadam juga sakit?” tanya Mama Elsa padaku.


“Iya, Ma. Aku tidak tahu apa yang terjadi ketika Mas Sadam sedang menyuapi aku tiba-tiba Ia merasa mual,” sahutku pada Mama Elsa.


“Sejak kapan kamu merasa seperti ini Sadam?” tanya Mama Elsa.


“Baru sekali ini, Ma,” sahut Mas Sadam.


Kini Mama Elsa beralih melihat kearah ku dengan wajah nampak bahagia sekali. Melihat aku dan juga Mas Sadam sakit kenapa Mama Elsa malah bahagia membuat kuberpikir negatif saja.


“Sifana, sejak kapan kamu ingin disuapi terus oleh suami kamu?” tanya Mama Elsa. Tapi tunggu, ini bukan sekedar pertanyaan saja menurutku sepertinya dibalik ucapan Mama Elsa barusan ada hal besar yang coba wanita paruh baya itu selidiki dari kami berdua.


“Sejak di rumah sakit, Sifa ingin makan disuapi oleh Mas Sadam,” sahutku jujur. Sebenarnya aku malu tapi dari pada berbohong toh itu tidak melanggar hukum dan hal yang wajah karena kami berdua sudah menikah. Ucapku membela diri sendiri sembari mengalihkan rasa malu.

__ADS_1


“Kapan kamu terakhir datang bulan?” tanya Mama Elsa lagi.


Aku berpikir sesaat dan aku baru sadar jika sudah sekitar satu bulan lebih aku tidak mens. Eh tunggu apa pertanda ini semua berhubungan dengan senyuman Mama Elsa?


__ADS_2