
Aku melihat suamiku yang kini sedang sibuk memangku laptopnya sembari duduk di atas sofa, aku bisa melihat air muka serius di wajahnya yang tampan itu. Ia semakin terlihat penuh kharisma ketika sibuk bekerja seperti ini karena tidak ingin mengganggunya aku berniat untuk keluar dari ruangan kamar ini, tapi baru saja tangan ini hendak memutar kenop pintu kamar rasa sakit yang teramat sangat langsung merajai sekujur tubuhku dan rasa sakit ini berasal dari perut. Aku merasakan keningku mulai basah oleh keringat dingin dan seluruh tubuhku juga kini langsung diselimuti oleh keringat dingin yang membuat wajahku pucat pasih.
“Auch … sakit,” rintihku sembari memegangi perut ini. Aku merasakan seperti ingin buang air kecil dan juga ingin buang air besar dalam waktu yang bersamaan, ini semua karena efek rasa sakit yang luar biasa dari perutku sekarang.
“Sayang, ada apa?” aku dengar suara panik suamiku. Dan langkah kaki lelaki itu lebar menghampiriku dengan air muka cemas. Aku masih diam dengan mengigit bibir bagian bawahku untuk meredam rasa sakit ini.
“Mama … Mama,” teriak suamiku dengan lantang dan juga wajah semakin cemas.
Tangan halus lelaki itu menyeka peluh di jidatnya lalu ia membantuku berjalan perlahan, aku tahu ia ingin mengendongku akan tetapi ia takut jika sampai aku terjatuh dari gendongannya dan ia memilih untuk menggandengku saja. Aku memegangi punggung ini yang terasa nyeri sekali. Mas Sadam menyuruhku untuk mengatur nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan dari mulut dan aku mengikuti interupsinya, lelaki itu juga memintaku tetap tenang dan ia selalu mengatakan kalau dia akan berada di sampingku jadi apa yang perlu aku takutkan lagi.
“Ada apa?” tanya wanita paruh baya itu sembari melangkah mendekatiku.
“Ma, sepertinya aku akan melahirkan sekarang,” ujarku dengan nafas yang tersengal-sengal.
__ADS_1
“Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang,” ujar Mama Elsa sembari membantu memapah tubuhku menuju mobil.
Aku melihat Liora dan juga Anggun menangis tersedu melihat kondisiku sekarang. Anggun yang sudah mengetahui gejala wanita yang akan melahirkan sebab beberapa waktu yang lalu aku telah memberitahunya secara langsung semua itu aku lakukan bukan tanpa alasan agar ketika Liora melihatku Anggun bisa menenangkan adiknya dan tidak ikut histeris.
“Kak Anggun, Mama kenapa?” tanya Liora yang menangis di dalam pelukan Anggun.
“Mama, tidak pa-pa itu hanya karena adik yang kamu tunggu-tunggu akan segera lahir ke dunia ini,” jelas Anggun.
“Liora, Anggun ayo ikut masuk kedalam mobil,” ujar Mama Elsa.
Aku merasakan sakit yang teramat sangat sedangkan suamiku kini sedang sibuk marah-marah pada Dokter Hera sebab wanita paruh baya itu salah prediksi hingga membuat aku kesakitan seperti ini. Aku melirik kearah Mama Elsa yang sejak dari tadi masih sibuk memberikan kata-kata penenang dan juga motivasi agar aku tidak ketakutan maklumlah ini kali pertama aku melahirkan.
“Ma, tolong suruh Suamiku keluar dari ruangan ini, aku tidak mau jika sampai semua Dokter merasa tertekan dan tidak leluasa melakukan pekerjaannya jika suamiku masih berada didalam ruangan ini,” pintaku sembari menggenggam tangan Mama Elsa.
__ADS_1
“Baik, Sayang. Kamu tunggu sebentar ya,” pinta Mama Elsa sembari mengecup keningku. “Kenapa aku bisa melahirkan putra menyebalkan sepertinya,” gerutuan wanita paruh baya itu masih bisa aku dengarkan dengan sangat jelas sekali.
“Sadam, keluar dari ruangan ini dan biarkan para Dokter menyelesaikan tugasnya.” Aku hanya bisa melihat apa yang sedang coba Mama Elsa katakan.
“Ma, mereka semua hampir membuat istriku celaka,” gerutu Mas Sadam. Aku hanya bisa melihat apa yang terjadi dari posisiku berbaring sekarang sungguh sekarang aku semakin kesal melihat tingkah kekanakan suamiku, ya aku tahu lelaki itu sedang mengkhawatirkan kondisiku akan tetapi tidak dengan cara seperti ini.
“Mereka tidak salah, tapi kamu yang salah,” ujar Mama Elsa. “Prediksi Dokter tidak selalu benar,” sambung Mama Elsa pada putranya.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Mas Sadam.
“Karena mereka bukan Tuhan,” ketus Mama Elsa. “Sekarang kamu keluar dari ruangan ini jangan sampai Mama meminta Papa masuk untuk menyeret kamu,” ujar wanita paruh baya itu yang sudah kehilangan kesabaran.
“Sayang, keluarlah ada Mama Elsa di sini yang akan menemaniku,” pintaku pada Mas sadam.
__ADS_1
Lelaki itu menatapku kemudian mengganggukkan kepalanya dan berlalu keluar dari ruangan ini. Aku tahu ia merasa cemas membiarkan aku berjuang sendiri untuk melahirkan calon pewaris keluarga Erlanga akan tetapi aku juga tidak bisa memberikannya berada didalam ruangan ini sebab akan kasihan pada para petugas medis. Aku melihat Dokter Hera menggenggam kedua tangan Mama Elsa dengan mengulas senyuman manis dan jika aku tidak salah menebak wanita paruh baya itu sedang mengucapkan terima kasih sebab menyuruh suamiku keluar dari ruangan ini.
Cerita ini akan tamat dan silahkan baca karya Nisa yang lain di Fi*zo gratis. Oh ya novel Obsesi Tuan Massimo sudah sampai 150 episode lebih loh yakin nggak mau baca? cerita Romens, Action dan juga komedi yang Nisa kemas apik dalam satu novel sehingga tidak akan membuat kalian merasa bosan.