Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kebenaran Tentang Liora


__ADS_3

"Perempuan kurang ajar itu benar-benar tidak punya hati, ibu macam apa dia sudah tahu putrinya sedang kritis malah tidak perduli." Aku melihat Mama Elsa menangis histeris dalam pelukan Papa Damar.


"Mbak Sifa, ambil darah Anggun saja," ucap Anggun dengan menangis terisak. Aku mengusap cairan bening yang membasahi kedua pipinya.


"Darah kita berbeda dengan Dedek jadi tidak bisa." Aku sudah tidak bisa membendung Isak tangis ini lagi akhirnya aku ikut menitihkan air mata, dadaku terasa sesak sekali ketika mengingat kondisi anak yang sangat aku sayangi berada di dalam ruangan itu sedang bertarung antara hidup dan mati


Tuhan, kenapa dulu tidak kau taruh saja Liora di dalam rahimku, aku akan menjaganya dengan senang hati. Aku hanya bisa diam melihat Papa Damar sedang mondar-mandir dengan menghubungi seseorang sedangkan Mas Sadam sendiri mencoba untuk menenangkan Mama Elsa yang terus saja menangis.


"Mama," teriakku ketika mengetahui Mama Elsa pingsan dalam dekapan Mas Sadam.


Papa Damar langsung mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri kami semua. Seorang perawat datang dan menyuruh membawa Mama Elsa ke ruangan pasien, aku melihat wajah Mama Elsa yang pucat pasih, dia pasti tertekan melihat Cucu yang sangat Ia sayang dalam kondisi hidup dan mati. Dokter menancapkan jarum ke urat nadi Mama Elsa guna untuk mengalirkan cairan infus ke tubuh Mama Elsa.


"Ibu Elsa sangat tertekan melihat kondisi Liora, saya sudah menyuntikkan obat tidur bersama cairan infus agar beliau bisa beristirahat," ucap dokter Heru.


"Terima kasih dokter," sahut Papa Damar.


"Kita biarkan pasien sendirian agar dia bisa beristirahat," pinta Dokter Heru pada kami semua langsung mengganggukkan kepala.


Di luar ruangan.


"Apakah kita sudah menemukan pendonor darah itu?" tanya Dokter Heru pada Mas Sadam.


"Kami sedang berusaha." Mas Sadam berbicara sembari mengusap kasar wajahnya. Aku bisa melihat kecemasan di wajah tampan itu.

__ADS_1


"Kami pihak rumah sakit juga sedang berusaha yang terbaik semoga lekas ada ke pendonor darah bagi Liora." Setelah bicara Dokter Heru langsung melangkah masuk kedalam ruangan Liora berada.


"Tidak bisakah kita membujuk Mbak Tasya untuk datang?" ucapku pada Mas Sadam dengan air mata yang sudah berderai.


Mas Sadam hanya diam sibuk dengan pemikirannya sendiri. Aku melihat Papa Damar membaca pesan di ponselnya lalu menatap kearah kami sembari berkata.


"Tasya akan datang, kepala polisi memaksanya." Seperti menemukan oase yang ada di gurun pasir setelah kami mendengarkan ucapan Papa Damar barusan.


Aku dan juga Anggun saling berpelukan, Mas Sadam langsung memelukku dan juga Anggun untuk meluapkan kebahagiaannya. Kami semua masih belum bernafas lega karena kondisi Liora bisa menurun sewaktu-waktu. Kami semua duduk di kursi stainless yang ada di depan ruangan UGD. Kami semua diam sibuk berdoa agar Tuhan berbelas kasih kepada keluarga ini untuk tidak mengambil gadis kecil yang sangat kami semua sayangi.


Selang beberapa waktu.


pukul 09.00, Kami semua menatap kearah lorong rumah sakit ini. Aku melihat Mbak Tasya berada di antara kedua polwan, tangan wanita itu di borgol ke depan dengan masih menggunakan baju tahanan. Aku melihat Mbak Tasya menatapku tajam jarak diantara kami mulai terkikis kedua polwan yang berada disampingnya langsung menggenggam lengan tangan Mbak Tasya.


Mbak Tasya menarik salah satu senyuman devil si bibirnya, entah apa arti dari senyuman itu tapi aku merasa ada hal yang tidak beres sedang Ia rencanakan. Semoga saja ini semua hanya prasangka buruk ku saja.


Suster masuk kedalam salah satu ruangan dan kedua polwan ikut masuk kedalam ruangan itu untuk menjaga Mbak Tasya.


"Lihatlah, Dedek kesayangan kamu akan segera sembuh," ucapku pada Anggun sembari mencium puncak kepalanya.


"Mbak Sifa benar, Dedek akan sembuh," sahut Anggun sembari memelukku dengan sangat erat.


Aku menatap Anggun dan tiba-tiba adikku itu mendongakkan kepalanya menatapku lalu berkata, "Apakah ini yang Mbak Sifa rasakan ketika mengetahui Anggun sakit waktu itu?" tanya Anggun padaku. Aku melihat kedua bola matanya bergerak kesana-kemari mencoba mencari tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang.

__ADS_1


"Itu semua sudah berlalu dan kamu sudah sembuh. Liora juga akan sembuh sama seperti kamu dulu," ucapku padanya dengan tersenyum manis.


"Anggun tidak akan sakit lagi, Anggun tidak ingin melihat air mata kesedihan tumpah membasahi kedua pipi Mbak Sifa." Aku membalas ucapan itu dengan tersenyum manis.


Mas Sadam dan juga Papa Damar beberapa kali melihat jam yang ada di ponselnya masing-masing. Kami semua mulai merasa cemas karena para perawat dan juga Mbak Tasya belum juga keluar dari ruangan itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, aku akan melihatnya," ucap Mas Sadam kemudian hendak melangkah mendekati ruangan Mbak Tasya berada.


Baru saja Mas Sadam berjalan beberapa langkah, Aku melihat suster keluar dari ruangan itu dengan wajah terlihat cemas sekali. Aku memiliki firasat jika ada hal yang tidak beres.


"Anggun, kamu duduk di sini saja, Mbak Sifa mau kesana sebentar," ucapku pada Anggun dan dia langsung mengganggukkan kepala setuju.


"Seperti ada yang tidak beres." Aku mendengarkan suara lirih Papa Damar ternyata dia juga merasakan hal yang sama denganku.


"Apakah ada masalah yang terjadi?" tanya Mas Sadam pada suster dihadapannya.


"Darah Ibu Tasya tidak sama dengan darah Liora." Waktu seakan bergerak melambat ketika kami mendengarkan ucapan Suster dihadapan kami. Bahkan ucapan itu seakan berputar terus di telingaku seperti kaset yang sengaja di putar ulang.


"Suster, kamu jangan bercanda, Tasya adalah ibu kandung dari Putriku." Mas Sadam berteriak dengan lantang sampai membuat wanita yang berada dihadapannya gemetar ketakutan.


"Kami sudah mengecek golongan darahnya dan berbeda dengan Liora," ucap dokter itu lagi.


"Tasya ... Tasya .... Tasya. Aku akan membunuhmu." Mas sadam berbicara dengan suara penuh penekanan. Nafasnya seperti seekor banteng yang sudah siap menghabisi Siapapun yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya ya? komentar yukk yang banyak


__ADS_2