Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Ketakutan Sifana


__ADS_3

Mas Sadam dan juga Liora sudah lebih dahulu masuk kedalam rumah. Aku dan juga Mama Elsa berdiri di depan rumah menatap kearah Mbak Tasya yang kini tengah berjalan kaki menghampiri kami berdua.


Biasanya Mbak Tasya selalu saja menggunakan barang bermerek di setiap tubuhnya tapi sekarang semua itu tidak nampak lagi. Mbak Tasya terlihat seperti wanita biasa bahkan tas mahal yang bisanya tidak pernah.lupa ia bawah kini tidak terlihat lagi. Mbak Tasya keluar dari rumah ini tanpa membawa apapun kecuali baju yang ia kenakan waktu itu.


“Untuk apa kamu datang kemari.” Sembur Mama Elsa ketika Mbak Tasya sudah berada dihadapannya saat ini.


“Ma, saya ingin melihat Liora, saya sangat merindukan Liora,” ucap Mbak Tasya dengan air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Entah mengapa aku merasa jika Mbak Tasya sedang berpura-pura saja.


“Kau merindukan Liora ketika mengetahui, jika kekasih gelap kamu itu sudah mencampakkan kamu.” Mama Liora bicara dengan nada suara tertahan agar ucapannya tidak sampai terdengar masuk kedalam rumah.


“Sifana, tolong bujuk Mama untuk membiarkan Aku bertemu dengan Liora,” pinta Mbak Tasya padaku. Dia bahkan memegang tanganku akan tetapi aku menepisnya perlahan.


“Mbak Tasya, bicara saja sendiri. Mama ada di sampingku,” sahutku sembari menatapnya dengan wajah datar. Bisa Aku lihat dengan sangat jelas jika kini wanita itu mengeraskan rahangnya seakan menahan emosinya padaku.


“Sifana, ayo kita tinggalkan masuk saja wanita sepertinya, dia pasti kekurangan uang mangkanya baru datang ke rumah ini setelah hampir dua minggu keluar dari rumah ini.” Mama Elsa langsung menarik tanganku masuk kedalam rumah.


“Sifana … Sifana, tolong biarkan aku bertemu dengan Liora,” ucap Mbak Tasya dengan tangis sesenggukan.


Entah mengapa hatiku seakan membeku ketika mengetahui Anggun hampir kehilangan nyawanya karena wanita itu. Andaikan tempo hari kamu tidak nekat untuk melibatkan Anggun dalam masalah kita, bisa aku pastikan jika dengan sukarela diriku sendiri yang akan membawa kamu kembali ke rumah ini Mbak Tasya.

__ADS_1


“Liora, Liora. Ini Mama, Nak. Liora keluarlah Mama ingin bertemu, Mama sangat rindu dengan kamu.” Aku dan juga Mama Elsa saling menatap satu sama lain ketika mendengarkan teriakan Mbak Tasya barusan.


Suara langkah kaki terdengar menghampiri kami, ya itu adalah Liora yang berlari setelah mendengarkan suara Mbak Tasya yang memanggilnya. Mungkin Liora dulu begitu tertekan ketika berada di dekat Mbak Tasya akan tetapi ketika Mbak Tasya pergi gadis kecil itu juga pasti sangat merindukannya.


“Sayang kamu mau kemana?” tanya Mama Elsa sembari menangkap tubuh kecil Liora yang hendak melewatinya begitu saja.


“Nenek, itu suara Mama Tasya. Mama pasti sangat merindukan Liora mangkanya dia berteriak memanggil nama Liora,” ucap Liora dengan manik mata yang sudah berair mungkin karena ia merasa rindu pada Mamanya.


“Ma, biarkan saja Liora menghampiri Mbak Tasya, dia pasti sangat merindukan wanita yang telah melahirkannya itu.” Melihat air mata yang sudah memenuhi wajah Liora, Aku tidak tega melihatnya. Mungkin benar apa yang Mas Sadam katakan jika Liora akan terkena imbas karena perpisahan mereka.


“Nenek akan menemani kamu untuk menemui, Mama Tasya,” ucap Mama Elsa mengalah. “Sifana, kamu pergi ke kamar saja siapkan keperluan suami kamu karena dia baru saja pulang bekerja.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh Mama Elsa.


Aku menatap kearah Liora dan juga Mama Elsa yang baru saja keluar dari pintu rumah ini. Kini aku berbalik arah kemudian melangkah menuju ke kamar.


Liora ikut menangis bahkan terlihat dengan sangat jelas beberapa kali gadis kecil itu mendaratkan kecupan di kedua pipi Mbak Elsa. Adegan ini terlihat memilukan sekali, terlihat dengan sangat jelas air muka rindu terpancar tulus dari kedua manik mata Liora.


“Mas Sadam, kenapa masih belum mandi juga?” tanyaku untuk kali kedua. Mas Sadam tadi melamun sampai ia tidak menyadari keberadaan ku disampingnya.


“Aku hendak mandi tadi namun ketika mendengar suara teriakan itu ….,” ucapan Mas Sadam langsung terhenti ketika ia menyadari apa yang baru saja akan ia katakan. Aku tahu lelaki itu pasti takut jika sampai aku sakit hati sebab dia menyebutkan nama Mbak Tasya, jangankan kamu menyebutkan namanya, Mas Bahkan kamu menatapnya saja sudah membuat hatiku sangat sakit sekali.

__ADS_1


“Aku tahu apa yang sedang Mas Sadam rasakan. Mungkin Aku merasa kurang nyaman ketika melihat Mbak Tasya, tapi aku juga sadar jika wanita itu juga masih istri sah Mas Sadam,” ucapku dengan memaksakan senyuman di bibir ini.


Mas Sadam memelukku dengan erat sembari berkata, “Sayang, Aku sangat senang sekali karena memiliki istri pengertian seperti kamu,” ucapnya padaku.


“Mas, aku akan siapkan air hangat dahulu,” ucapku sembari melepaskan perlahan pelukannya,


“Aku akan menunggu sembari duduk di sofa,” sahut Mas Sadam sembari melangkah di sampingku ikut masuk kedalam kamar.


Di dalam kamar mandi. Aku menyalakan kran air hangat lalu duduk di samping bathtub. Entah ada perasaan takut yang tiba-tiba merambat di seluruh tubuh ini lalu berhenti di dada seakan memberikan rasa nyeri yang teramat sangat disana. Aku sangat takut sekali jika Mbak Tasya sampai kembali merayu Mas Sadam mengunakan Liora. Lalu apa yang harus aku lakukan jika hal itu sampai terjadi? Apa lagi sekarang lelaki yang Mbak Tasya cintai telah meninggalkannya bersama wanita lain.


“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Mas Sadam. Entah sejak kapan lelaki itu sudah berada didalam kamar mandi ini, Aku melamun hingga tidak menyadari kehadirannya.


“Mas, Aku sedang menyiapkan air hangat untuk kamu,” ucapku padanya.


Mas Sadam menyentil pelan jidatku sembari berkata, “Lihatlah air itu sampai tumpah dari tempatnya dan membasahi baju kamu,” ujarnya padaku.


Aku baru merasakan jika bagian bawah tubuh ini sudah basah terkena air kran hangat tersebut. “Maaf, Mas Sadam. Aku tidak menyadarinya.”


Aku beranjak berdiri dari posisi duduk kemudian hendak melangkah pergi namun, Mas Sadam langsung menarik aku masuk kedalam dekapannya.

__ADS_1


"Sayang, Aku tahu apa yang sekarang sedang mengganggu pikiran kamu," ia menatapku dan mengunci tatapan kami. "Percayalah satu hal, hanya kau saja yang aku cintai. Hubunganku dengan Tasya sudah berlalu ketika Aku mengusirnya dari rumah ini." Lelaki itu menangkup kedua wajahku mencoba untuk meyakinkan Aku.


"Mas, Aku ingin percaya dengan apa apa yang barusan kamu katakan akan tetapi hati ini masih merasa ragu," batinku dalam diam.


__ADS_2