Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Kondisi Tasya


__ADS_3

Aku bersandar pada dinding rumah sakit dengan perasaan cemas entah sudah berapa kali aku menatap kearah pintu bercat putih tulang itu namun, siapapun yang sedang berada didalam sana seakan betah berlama-lama membuat kehawatir kami semakin bertambah besar setiap detiknya. Sedangkan Papa Damar duduk di kursi stainless sembari menaruh kedua tangannya bertumpu di lutut lalu menutup wajahnya mengunakan telapak tangan. Aku tahu lelaki paruh baya itu pasti juga cemas jika mengingat selama ini Dia selalu menyayangi istriku.


Cklek!


Aku bergegas menarik punggung ini dari dinding lalu bergegas melangkah mendekati Dokter Heru yang baru saja keluar dari ruangan Istriku berada, Papa Damar langsung menyusul di sampingku.


“Dokter Heru, bagaimana dengan kondisi Istri saya?” tanyaku pada dokter tersebut. Jantungku berpacu dengan sangat cepat sekali, Aku bahkan sampai menahan nafas karena tegang.


“Istri, Anda baik-baik saja. Luka tusukan itu tidak terlalu dalam jadi kami tidak perlu melakukan operasi, tapi terdapat banyak jahitan didalam perutnya, untuk beberapa hari ke depan pasien baru bisa pulang,” jelas Dokter tersebut.


Aku menghembuskan nafas lega ketika mengetahui jika kondisi Istriku baik-baik saja. Terima kasih Tuhan karena Kau telah menjaga istriku agar tetap berada di bumi ini. Aku benar-benar tidak sanggup hidup tanpanya.


“Terima kasih, Dokter Heru.” Ya ini adalah Doker yang biasanya membantu memeriksa Anggun ketika masih berada di rumah sakit ini.


“Sebenarnya, Ibu Sifa sudah boleh pulang, tapi kami tetap menahannya di rumah sakit ini sebab takut jika sampai Anggun mengetahui kondisinya lebih lagi wajah pasien masih terlihat pucat dan mungkin akan shock dengan kejadian yang menimpanya. Bolehkan saya memberikan saran?” tanya Dokter Heru padaku sebelum berbicara.


“Ya, tentu saja,” sahutku cepat.


“Jangan sampai membuat Anggun merasa stres akan banyak hal, Anggun masih dalam masa pemulihan dan kondisinya bisa drop sewaktu-waktu,” tutur Dokter Heru.

__ADS_1


“Ya, Dokter saya tahu,” sahutku sopan.


“Terima kasih karena telah membantu keluarga kami selama ini.” Aku menoleh kearah Papa Damar yang ikut angkat bicara.


“Itu sudah menjadi tugas saya, Pak Damar, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan,” sahut Dokter Heru. “Saya sarankan jika ingin menjenguk pasien usahakan bergantian karena pasien masih dalam pengaruh obat bius.”


“Baik, Dokter,” sahutku padanya.


“Saya, permisi pergi dahulu,” pamit Dokter Heru padaku dan juga Papa Damar. Aku mengganggukkan kepala kemudian Dokter Heru mulai berlalu pergi.


“Sadam, kamu masuk saja lebih dahulu, Papa akan memberikan kabar pada Mama Elsa agar Dia tidak merasa cemas lagi.”


Aku mengarahkan tangan ini untuk memutar handle pintu, diayunkan tangan ini membuka pintu bercat putih dengan perlahan Aku masuk kedalam ruangan ini, dan aroma obat langsung menyeruak masuk kedalam indra penciumanku. Aku memusatkan pandangan melihat kearah ranjang rumah sakit ini. Di sana istriku tercinta sedang terbaring lemah dengan selang infus menancap di salah satu punggung tangannya, Aku tahu kondisinya baik-baik saja tapi entah mengapa Aku masih merasa cemas.


Aku menarik kursi yang berada di dekat ranjang itu lalu mendudukkan tubuh di sana dengan perlahan, Hatiku merasa sangat sakit sekali melihat kondisinya sekarang, wajahnya masih terlihat pucat seakan tidak ada darah yang mengaliri wajah cantik itu. Miris sekali. Sifana biasanya akan tersenyum manis ketika melihat kedatanganku tapi kali ini senyuman itu tidak nampak lagi dan membuatku sangat tergganggu.


“Sayang, apakah Kau tahu, Aku tidak bisa bernafas dengan lancar saat melihat kamu dibawa masuk oleh para Dokter dan juga Suster tadi. Aku baru menyadari jika Kamu sangat berarti di hidupku dan Akan Aku pastikan wanita itu mendekam di penjara.” Air mata ini kembali menetes perlahan dari pipi bersamaan dengan rasa nyeri yang menusuk dada. “Sayang, Aku harus pergi sebentar untuk memastikan suatu hal, Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena berani melukai kamu." Aku mengecup puncak kepalanya lebih lama dari biasanya.


Aku sudah melangkah namun kembali Aku arahkan pandanganku padanya, istriku yang cantik masih memejamkan mata.

__ADS_1


Di luar ruangan.


"Pa. Aku akan ke kantor polisi untuk menemui wanita itu," ucapku setelah berada di hadapan Papa Damar.


"Kamu mau apa?" tanya Papa Damar padaku.


"Aku akan melakukan yang seharusnya." Aku benar-benar merasa kesulitan bernafas karena menahan emosi yang sudah memuncak sejak dari tadi.


"Pergilah, tapi jangan sampai melakukan hal yang fatal, Papa akan menjaga Sifana di sini." Papa Damar memelukku.


"Terima kasih, Pa. Sadam titip Sifa," ujarku padanya.


Kantor polisi.


Seorang polisi membimbing langkah kakiku untuk menuju sel dimana Tasya berada. Aku meminta pada Polisi untuk membiarkanku menemuinya sendiri, dan Pak Polisi tidak keberatan akan hal itu.


"Kau itu anak baru di sel ini, jangan coba berani-beraninya membentukku." Suara itu membuat langkah kakiku terhenti, arah suara itu berasal dari Sel dimana Tasya berada.


Aku melihat seorang wanita bertubuh gemuk usianya setengah baya sedang menjambak seorang wanita yang duduk di sel tersebut, wanita itu mendongakkan kepalanya dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah, kedua mataku langsung membola penuh ketika menyadari jika itu adalah Tasya. Ya, Tasya di siksa oleh tahanan lain padahal kurang dari 3 jam wanita itu masuk kedalam sel tersebut.

__ADS_1


Apakah Sadam Akan membebaskan Tasya karena tidak tega melihat istrinya itu di siksa oleh tahanan lain. Sadam dan juga Tasya belum resmi bercerai jadi mereka masih suami istri.


__ADS_2