Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Akhirnya Mengalah Demi Anak Dan Istri Tercinta


__ADS_3

Setelah mendengarkan suara ketukan pintu dari luar ruangan ini, Mas Sadam langsung menyudahi pungutannya. Aku menahan tawa melihat wajahnya yang langsung berubah menjadi masam.


“Mas, kamu kenapa?” tanyaku pura-pura tidak tahu apa yang sedang suamiku pikirkan saat ini.


“Sudah sana, buka pintu.” Selesai bicara Mas Sadam langsung menjatuhkan tubuhnya di sampingku kemudian menutup wajahnya menggunakan bantal.


Aku tersenyum kecil melihat tingkahnya, Mas Sadam seperti Anggun jika sedang marah. Adikku itu juga suka menutupi wajahnya dengan bantal bahkan beberapa kali aku lihat Liora juga sama seperti itu.


“Kenapa masih menatapku, sana buka pintu.” Mas Sadam berbicara tanpa mau melihatku.


“Kau sungguh mirip Liora,” ucapku padanya kemudian Aku melangkah mendekati pintu.


Cklek!


“Mama, lama sekali kalau membuka pintu,” keluh Liora setelah melihat Aku berdiri dihadapannya.


“Mama, tadi ada dikamar mandi,” bohongku padanya.


“Mama, ayo kita sarapan pagi. Liora dan juga Mbak Anggun sudah mandi,” ucapnya padaku. Aku melihat kearah Liora dan juga Anggun secara bergantian dan benar saja mereka berdua sudah berganti baju dan Liora juga sudah di kucir kuda rambutnya. Aku percaya pasti Anggun yang sudah membantunya.


“Tadi Anggun yang membantu, Dedek mengunakan baju dan juga menkucir kuda rambutnya.” Ternyata benar apa yang Aku pikirkan tadi.


“Kalian tunggu di luar sebentar nanti, biarkan Mama mandi dahulu,” ucapku pada Liora dan juga Anggun.


“Anggun, akan menunggu sembari menonton tv,” ucap Anggun padaku dan aku langsung mengganggukkan kepala setuju.


“Liora, mau membangunkan papa saja,” ujar Liora sembari langsung masuk kedalam kamar.


“Mama, akan mandi dahulu,” ujarku pada Liora.

__ADS_1


“Baik, Ma.”


Aku melihat Liora mulai melepaskan sandalnya kemudian Ia naik keatas tempat tidur. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Mas Sadam kemudian membuang bantal yang menutupi wajah tampan papanya itu.


“Papa, ayo bangun kita sarapan pagi, Papa kenapa malas sekali sih kalah sama anak kecil. Liora saja sudah bangun dari tadi.” Aku yang hendak menutup pintu kamar mandi langsung mengurungkan niatku ketika mendengarkan celotehan Liora yang lucu sekali. Dia berbicara dengan sangat polos.


Aku melihat Mas Sadam mendudukkan tubuhnya di ranjang kemudian menarik Liora masuk kedalam dekapannya. Ia mencium pipi Liora kemudian berkata, “Sayang, ini masih sangat pagi tapi kamu sudah cerewet sekali.” Aku melihat Mas Sadam berbicara sembari mencubit kedua pipi Liora tapi tanpa menyakitinya tentunya.


“Liora, sudah lapar.” Aku melihat Liora menatap ke arahku. “Mama, cepat mandi lalu kita sarapan pagi,” ucapnya padaku dengan wajahnya yang menggemaskan sekali bahkan dengan sangat jelas Aku bisa melihat satu tangannya mengusap perutnya yang keroncongan.


“Mama, akan mandi sekarang.” Setelah bicara aku langsung menutup pintu kamar mandi ini.


“Ma, yang cepat kalau mandi.” Ucapan Liora masih bisa Aku dengar, tapi aku tidak menyahutinya dan memilih langsung membersihkan tubuhku saja.


***


Liora dan juga Anggun duduk di meja makan, kami semua makan di restoran yang ada di puncak hotel ini.


“Anggun, apakah kamu menyukainya?” tanyaku padanya.


Anggun menatapku kemudian mengatakan, “Mbak Sifa, aku sangat menyukainya ini mirip seperti yang pernah kita lihat di film,” ucap Anggun sembari menatapku dengan senyuman manisnya.


“Anggun, Mbak Sifa juga memikirkan hal itu ketika melihat keindahan ini untuk kali pertama,” ucapku padanya.


“Mama, Ayo kita foto bersama,” pinta Liora sembari menggenggam tanganku.


“Tentu saja,” sahutku padanya.


Aku merogoh saku celanaku,

__ADS_1


akan tetapi ponselnya tidak ada di sana, aku langsung menepuk pelan jidatku ternyata aku lupa meninggalkannya didalam kamar. Aku melihat Mas Sadam masih


sibuk memainkan ponselnya, pun aku langsung mendekatinya.


“Mas, bisakah aku pinjam ponsel,” pintaku padanya. Mas Sadam langsung menarik pandangannya kearah ku.


“Ponsel kamu dimana?” tanyanya padaku.


“Aku lupa meninggalkannya di dalam kamar,” sahutku pada Mas Sadam.


Mas Sadam langsung memberikan ponselnya padaku lalu berkata, “Ini kamu pakai,” ucapnya sembari


menyodorkan ponselnya padaku.


“Mas, ayo kita foto bersama,” pintaku pada Mas Sadam.


Liora menarik ujung bajuku lalu berkata, “Ma, papa tidak suka berfoto,” ucap Liora padaku.


“Papa pernah foto satu kali dahulu, waktu kita berjalan-jalan ke mall,” sahutku padanya.


“Mas Sadam, ayo kita berfoto bersama,” pintaku padanya.


“Kalau kita semua foto, lalu siapa yang akan mengambil gambarnya.” Aku tahu jika inilah cara Mas Sadam


lolos dari jepretan kamera.


“Mas, kita bisa meminta bantuan pada pengunjung hotel yang lain.


Aku melihat Mas Sadam seperti orang yang sedang berpikir akan tetapi sesaat kemudian Ia langsung menggangukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


Wah ... wah ... Mas Sadam benar-benar melakukan apapun untuk anak dan juga istrinya, ya sungguh manis sekali.


__ADS_2