Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
bab 2


__ADS_3

Di sebuah rumah besar.


"Mamiii, Nara ikut …."


Rengekan gadis kecil itu seakan menggema di rumah besar itu.


"Nara, sama Mbak Nani dulu, mami kerja sayang."


"Mami selalu kerja, kapan mami punya waktu main buat Nara."


"Cup! Cup! Cup! Anak cantik papi nggak boleh sedih."


Gadis kecil itu langsung digendong oleh seorang laki-laki bertubuh tegap.


"Papi … Nara mau ikut mami …."


"Mami kerja sayang, nanti ya kalau mami sudah libur."


"Kapan mami pernah libur pi?"


"Nanti, pasti ada waktunya sayang."


"Nara mau main sama papi …."


"Pi, bukannya kamu harus menghadiri rapat hari ini? Buruan sana!"

__ADS_1


"Rapat ku tunda saja Mar, kamu sudah tidak punya waktu buat Nara, setidaknya aku yang menyisihkan waktuku untuk anak kita."


"Biarkan Nara mandiri! Jangan terlalu manjakan dia!" Maki Marta.


"Aku bukan memanjakan, tapi aku menyayanginya."


"Aku curiga padamu, Kaizen, apa kamu sengaja membatalkan rapat, biar punya waktu tebar-tebar pesona?"


"Otakmu selalu kotor, Marta!"


"Mami, papi, jangan berantem, Nara sama mbak Nani aja nggak apa-apa." Gadis kecil itu menangis dan masuk kedalam pelukan pelayan yang ada di dekatnya.


"Marta, bisa bicara sebentar?"


"Mau bicara apa?" Marta langsung melontarkan pertanyaan pada suaminya.


"Marta, aku mohon. Jaga bicaramu di depan anak kita, tidak baik bagi pertumbuhan Kinara kalau kedua orang tuanya terus berantem di depan matanya."


"Owh, kamu berani melawanku?"


"Aku tidak pernah takut padamu, aku tunduk padamu karena aku menyayangimu, Marta."


"Hilih, bilang saja kamu takut jadi gembel kalau ku ceraikan!"


"12 tahun kita menikah, pemikiranmu tentangku tidak pernah berubah, Marta."

__ADS_1


"Karena itu adanya bukan? Kamu menikahiku karena harta yang aku miliki!"


Tanpa menunggu jawaban putrinya, Kaizen langsung menggendong Nara dan mereka berdua segera masuk kedalam mobil.


Selama perjalan, Kayzen sesekali membelai rambut putrinya. Setiap memandang wajah putrinya, hatinya mencelos, mengingat bagaimana pertumbuhan Nara kecil.


Bagi Marta, karir, pekerjaan, dan ketenaran diatas segalanya, saat hamil Nara pun, dia selalu bekerja, sehingga Marta harus melahirkan secara prematur karena kelelahan. Beruntung Tuhan menghendaki Nara berumur panjang, walau sejak bayi keadaannya sangat mengkhawatirkan, tapi dia bisa tumbuh jadi anak yang normal.


Sejak bayi, hanya Kayzen yang memperhatikan Nara, dibantu oleh para pelayan. Sedang Marta, tidak pernah peduli pada Nara maupun Kayzen. Hamil Nara pun karena ingin memenuhi surat wasiat dari almarhum kakeknya. Di mana, Marta baru bisa mewarisi semuanya, jika dia memiliki anak dalam pernikahannya dengan Kayzen.


Kayzen diberi satu perusahaan oleh kakek Marta, sampai sekarang Perusahaan itu terus berkembang, tapi itu tidak pernah dilihat oleh Marta, karena penghasilannya jauh lebih besar dari penghasilan Kayzen.


Di rumah, mengetahui Kayzen pergi dengan Nara, Marta marah besar, karena Zen memilih membatalkan rapat hanya untuk menemani putrinya. Berulang kali Marta menelepon Zen, memintanya untuk kembali, tapi Zen malah mengabaikan panggilan teleponnya.


Dengan perasaan kesal, Marta menyetir mobilnya sendiri. Sial! 15 menit lagi pertemuanku dengan para Investor luar negri, aku harus segera ke hotel itu!"


Kesabaran Marta semakin menipis, waktunya semakin mepet, sedang jalanan begitu macet.


Ntin! Ntin!


Berulang kali Marta menekan klakson mobilnya, tetap saja roda dua di depannya terus menutup jalannya. Marta sangat kesal, berulang kali dia memukul setiran mobilnya.


Belum cukup drama para roda dua yang terus menyerobot, kini Marta semakin kesal, di depannya sebuat mobil tua yang jalannya ndut-ndutan.


"Arrggggttt!" Marta menjerit, karena waktu lampu hijau akan segera berakhir.

__ADS_1


__ADS_2