Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Mengintip Seperti Maling Saja


__ADS_3

"Sifa, ingin sekali bertemu dengan Mbak Tasya. Dia masih istri sah Mas Sadam dan akan sangat kasihan sekali jika tidak ada yang menjenguknya," ucapku memohon pada Mama Elsa. Aku sudah pernah berjanji pada diriku sendiri agar membenci wanita itu tapi kenyataannya hal itu tidak bisa Aku lakukan.


"Baiklah, besok Mama Akan mengajak kamu untuk menjenguk Tasya, biar Liora dan juga Anggun ikut ke perusahaan bersama Sadam saja, nanti pulang menjenguk Tasya kita mampir ke perusahaan.


"Terima kasih, Ma." Aku bicara dengan tersenyum manis.


"Jangan berlebihan, Mama melakukan ini karena terpaksa." Aku terkekeh melihat wajah Masam Mama Elsa. Aku tahu Mama Elsa tidak akan menolak keinginanku meskipun keinginan ini bertentangan dengan akalnya.


"Ma, siang ini Sifa mau membuat brownies lumer karena Anggun dan juga Liora sangat menyukainya," ucapku pada Mama Elsa.


Mama Elsa mengambil wadah di sampingku yang nantinya akan digunakan untuk tempat adonan kue. "Sifa, kamu sangat pandai sekali memasak dan juga membuat kue. Mama saja tidak bisa, yang Mama bisa hanya memasak saja," ucap Mama Elsa padaku. Aku menatap kearahnya dan wanita paruh baya itu terlihat sangat antusias sekali membantu Aku membuat kue brownies lumer.


"Ma, Sifa dulu hidup susah jadi harus bisa melakukan banyak hal supaya bisa makan setiap hari." Aku tersenyum getir membayangkan betapa susah kehidupanku dimasa lalu.


"Sayang, anggap saja semua itu sebagai pelajaran hidup, sekarang semua rasa pahit dan perjuangan kamu telah berbuah manis," ucap Mama Elsa sembari mengusap pelan punggung ku.


Setelah perbincangan itu Aku dan juga Mama Elsa membuat kue bersama, Aku juga menceritakan tentang pertemuan dengan Kiera di warung dan tentang semua perdebatan yang terjadi. Mama Elsa ikut senang mendengar jika Kiera telah menyadari kesalahannya dan orang sepertinya pantas diberikan kesempatan kedua. Mama Elsa juga mengatakan satu hal yang membuatku terkejut, selama ini Mas Sadam tidak pernah memaafkan orang lain bahkan lelaki itu terlalu angkuh dan menjunjung harga dirinya, aku mengerutkan kening mendengarnya ucapan Mama Elsa barusan antara percaya dan tidak percaya.


"Nanti jika kita berkunjung ke perusahaan, sebaiknya mampir ke kantin. Mama ingin mencoba nasi pecel yang kata kamu rasanya sangat lezat itu." Mama Elsa bicara sembari menatap ke arah Mikser yang sedang berputar otomatis di wadahnya.


"Tentu saja, Ma," sahutku antusias.


Mama Elsa melihat Aku membuat kue brownies, sesekali dia juga membantu dan bertanya apa yang perlu Ia lakukan agar kue itu lekas matang. Sebenarnya aku sangat malu sekali menyuruh mertuaku akan tetapi ketika melihat antusias Mama Elsa untuk bisa membuat Kue akhirnya aku menerima bantuan dan meminta Mama Elsa untuk memasukkan bubuk coklat ke dalam adonan yang sudah mengembang sempurna ini.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama akhirnya Kue brownies lumer ini siap di masukkan ke kulkas.


“Nenek.” Aku dan juga Mama Elsa langsung menatap kearah pintu dapur ini.


Aku tersenyum manis melihat kearah Liora yang kini tengah membeku di posisinya, manik mata gadis kecil itu membulat penuh seakan Ia tidak percaya jika melihatku berada di dalam dapur ini. Liora mengusapkan perlahan tangannya ke pelupuk mata untuk mengusir bayanganku tapi sepertinya Ia tidak berhasil melakukannya dan senyuman manis itu membuatnya sadar jika kini yang Ia lihat memanglah Aku dan bukan imajinasinya saja.


“Mama Sifana, ayo-ayo tangkap Liora,” ucap Liora sembari merentangkan tangannya dengan berlari kecil dan anak itu juga tidak lupa merentangkan kedua tangannya.


“Sayang, sudah Mama bilang berkali-kali kamu jangan berlari,” ucapku sembari menangkap tubuh kecilnya itu lalu mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Aku mencium kedua pipi Liora beberapa kali, bau manis parfum bercampur shampoo menyeruak masuk kedalam indra penciumanku. Aroma parfum Liora selalu membuat Aku merindukannya.


“Mama, kenapa Pulang tidak memberitahukan dulu pada Liora dan juga Mbak Anggun, andaikan kami tahu pasti tadi Liora dan juga Mbak Anggun akan menunggu di teras rumah,” ucap Liora setelah Aku melepaskan pelukan ini.


Aku menangkup wajah mungilnya dengan mengunakan kedua tangan lalu berkata, “Sayang, Mama dan juga Papa memang sengaja tidak memberitahukan pada kalian karena ingin memberikan kejutan,” sahutku padanya sembari mengecup puncak kepalanya.


“Mama tidak membawa oleh-oleh. Tapi Mama membuatkan brownis lumer untuk Liora dan juga Mbak Anggun,” ucapku pada si kecil sembari menunjuk kearah kulkas.


“Yeee! Liora sangat suka coklat.” Aku melihat Liora langsung berlari menuju ke kulkas kemudian melihat kue ke sukaanya itu dengan binar mata bahagia sekali.


“Ma, ayo kita ke kamar Mbak Anggun, Dia pasti senang ketika mengetahui Mama sudah datang.”


“Liora, Mama mau membereskan meja dapur lebih dahulu,” ucapku pada Liora. Gadis kecil itu tidak mau tahu dan masih menyeret tanganku agar mengikutinya.


Aku menatap kearah Mama Elsa meminta agar wanita paruh baya itu menghentikan Liora.

__ADS_1


“Sudah, sana pergi saja biar Mama yang bereskan,” pinta Mama Elsa sembari mengibaskan tangannya di udara seakan mengusirku keluar dari dapur ini.


“Maaf, Ma,” ucapku padanya dengan wajah sedih.


“Jangan di pikirkan,” sahut Mama Elsa dengan senyuman manisnya. Senang sekali rasanya memiliki mertua rasa orangtua kandung benar-benar membahagiakan sekali.


“Mama nanti tunggu di luar kamar dulu, setelah Liora panggil baru nanti Mama masuk,” jelas Liora padaku ketika kami baru saja memijakkan kaki di anak tangga rumah ini.


“Kenapa Mama harus melakukan itu?” tanyaku pada Liora berpura-pura tidak mengerti maksud ucapannya padahal Aku sudah tahu jika Liora ingin memberikan surprise untuk Anggun.


“Liora ingin membuat Mbak Anggun terkejut sama dengan apa yang Liora rasakan tadi ketika melihat Mama Sifa ada di dapur.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju dengan apa yang di katakan oleh si kecil barusan.


“Ma, tunggu di sini Liora mau masuk,” ucapnya lirik.


“Oc! Tuan putri kecil,” sahutku dengan tidak kalah lirih.


“Mbak Anggun, tebak surprise apa yang akan Liora berikan pada Mbak Anggun sekarang,” ucap Liora pada Anggun dari dalam ruangan kamarnya. Pintu kamar ini tidak.tertutup jadi aku dengan mudah bisa mendengarkan perbincangan mereka.


"Mbak Anggun tidak tahu, ayo coba katakan," pinta Anggun. Aku melihat tubuh Anggun sedikit gemuk. Dan aku sangat bahagia sekali.


Aku mengintip dari depan pintu, untung saja Liora tidak mengunci pintunya jadi Aku bisa melihat ke dalam ruangan kamar ini dengan sangat mudah sekali. Tiba-tiba pundak ku di tepuk oleh seseorang dan hal itu membuat wajahku langsung pucat pias karena terkejut. Hampir saja Aku berteriak karena kaget namun segera aku menutup mulut ini dengan tangan. Aku menoleh ke arah orang yang menepuk pundak ku tadi dan ternyata Ia adalah Mas Sadam.


"Kenapa mengagetkan Aku," ucapku kesal.

__ADS_1


"Sedang apa di depan kamar Liora Sudah begitu mengintip seperti maling saja." Mas Sadam benar-benar tidak peka kalau untuk masalah ini.


__ADS_2