
3 bulan berlalu.
Hari sidang kelima, dan sidang putusan terakhir. Marta tidak pernah menghadiri persidangan, hanya kuasa hukumnya saja. Mengingat proses persidangan sebelumnya, semua saksi bayaran yang bicara, Mauren tidak berharap menang, bahkan adik dari Ayahnya sendiri bersaksi memburukkan Ayahnya.
Uang, uang, uang. Itu telah membeli harga diri mereka, mereka rela memberikan kesaksian palsu demi segepok uang, bahkan tidak takut pada kitab suci yang mereka berjanji bahwa hanya akan mengatakan kebenaran. Kenyataannya, uang juga berbicara.
Kasus pun dimenangkan oleh Marta. Bukti yang dimiliki Mauren dianggap lemah, bahkan saksi yang dulu siap bersaksi untuknya, malah tidak datang ke pengadilan.
Mauren dan Laila pulang dengan kesedihan.
"Aku tidak merelakan dia begitu saja La," ucap Mauren.
"Kita harus bagaimana Ren? Kita sudah berusaha, tapi kita tidak punya apa-apa untuk memenangkan kasus ini."
"Dia telah mengambil hal yang sangat berharga dalam hidupku, akan ku buat wanita itu merasakan bagaimana kehilangan hal yang sangat berharga di hidupnya," ucap Mauren begitu mantap.
"Dengan apa?" Tanya Laila.
"Mengambil suaminya, aku akan lakukan apa saja demi mencari celah untuk mendekati suaminya."
Laila tidak setuju dengan tujuan Mauren, apa daya dia juga sangat kesal dengan Marta. Akhirnya Laila meminta bantuan kekasihnya yang bekerja sebagai cleaning servis di perusahaan suami Marta, untuk mencari tahu tentang bosnya.
***
Laila mendapat info, kalau suami Marta tengah berada di sebuah pesta, Mauren dan Laila menerobos pesta itu dengan bantuan Ciyo, kekasih Laila. Dari kejauhan mereka memantau gerak gerik suami Marta.
"Menurut info, namanya Kayzen, akrab dipanggil Zen."
Mauren berulang kali menghela napasnya. "Apa aku bisa La? Jangankan menggoda, pacaran aja aku nggak pernah."
__ADS_1
Keduanya terdiam dan saling tatap.
"Eh minggir! Jangan menghalangi jalanku!" ucap seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu berjalan mendekati target Mauren, seketika nyali Mauren ciut.
"Udah keduluan orang La," ucap Mauren lemas.
Mereka berdua belum beranjak dari posisi semula, tiba-tiba pemandangan di depan sana membuat kedua mata mereka terbelalak. Di mana gadis cantik yang berusaha menggoda Kayzen di dirong oleh laki-laki itu.
"La," panggil Mauren.
"Hmm …."
"Kabur yukk!"
"Hayuk!"
***
Sesampai di rumah Mauren, keduanya langsung menggantung gaun yang sebelumnya mereka kenakan.
"Besok pagi kamu yang antar ini gaun ya La," ucap Mauren.
"Iya."
Keduanya berbaring di tempat tidur reot milik Mauren. Mereka memandangi langit-lagit rumah Mauren. Keduanya sama-sama membayangkan kejadian memalukan yang dialami wanita penggoda sebelumnya.
"Untung itu bukan kamu Ren," ucap Laila.
__ADS_1
"Hu'um, andai aku ya ampun rasanya aku pengen bunuh diri."
"Suami Nyonya Marta laki-laki setia, menggodanya dengan bentuk tubuh nggak mempan," gerutu Laila.
"Terus, aku harus melakukan dengan cara apa?"
"Nanti kita pikirkan caranya, semoga niat buruk kita dimudahkan," ucap Laila.
***
1 bulan berlalu.
Mauren terus mencari tahu tentang Kayzen, catatan laki-laki itu bersih dari wanita, dia dikenal sebagai ayah dan suami yang baik.
"Mauren!"
Suara teriakan Laila membuyarkan konsentrasi Mauren.
Laila terus berlari kedalam rumah Mauren, saat sampai di kamar wanita itu, terlihat Mauren memandangi majalah yang terpampang wajah Kayzen.
"Jangan dilihat terlalu lama, nanti kamu jatuh cinta," goda Laila.
"Ni orang kayak gak punya celah gitu, kenapa susah banget ya deketin ini orang," gerutu Mauren.
"Tenang Ren, jalan kita di permudah, kini ada penerimaan babysitter baru untuk anaknya Kayzen." Laila memperlihatkan sebuah tawaran di majalah yang dia pegang.
"Sulit kayaknya," keluh Mauren.
"Setiap kemauan keras, pasti ada jalan!"
__ADS_1
Mauren setuju dengan rencana Laila, dia segera mendaftarkan dirinya.