Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Perubahan Sadam


__ADS_3

Andai saja, Mas Sadam tidak ada di dalam ruangan kamar ini pasti aku sudah pergi ke dapur untuk mengambil minum, aku mulai merasakan dehidrasi ketika suamiku menatapku dengan sorot mata gelap-segelap langit di luar sana yang sedang turun hujan begitu lebatnya.


“Kenapa kamu tidak membalas apa yang telah Tasya lakukan padamu,” satu kali lagi lelaki ini bertanya padaku dan aku hanya bisa


menundukkan kepala sembari meneguk saliva yang seakan sudah mulai mengering di tenggorokan ini.


“Mbak Tasya, tidak salah karena saya yang salah sebab sudah masuk kedalam kehidupan kalian,” ujarku dengan tahu diri. Mungkin kata-kata ini sedikit tidak adil pada diriku karena tidak ada hubungan Mbak Tasya memukulku dengan alasan pernikahanku dengan Mas Sadam hanya saja aku lebih suka menggangap ini semua salahku dari pada harus memperkeruh keadaan sebab penggoda tidak akan pernah ada benarnya, ya begitulah sugesti yang aku tangkap di hari masyarakat umum terutama kaum ibu-ibu.


“kamu tahu dengan sangat jelas jika ini semua tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita,” lelaki ini seakan baru saja membaca isi


hatiku. “Kenapa kamu tidak melawan?” tanya Mas Sadam untuk kali kedua.


“Karena melawan tidak akan menyelesaikan masalah malah membuat aku semakin terlihat salah.” Ku ucapkan kata yang mungkin akan membuat lelaki ini mengerti jika melawan kejahatan bukanlah solusi yang benar.


Sekilas aku mengangkat pandangan kearah Mas Sadam, kulihat kening lelaki itu kini sedang berkerut dalam pasti dia mengerti dengan apa yang


aku maksud barusan. Tapi kenapa dia masih belum pergi juga aku merasa sangat haus sekali dan ingin pergi ke dapur untuk mengambil air. Dengan meneguk sisa saliva di tenggorokan aku menatap kearah gelas yang masih kosong entah mengapa aku


berharap gelas itu ada isinya untuk mengobati tenggorokanku yang sudah mengering ini.


“Tunggu di sini,” aku langsung mendongak menatap Mas Sadam


yang berlalu pergi begitu saja.


Kenapa dia menyuruhku untuk menunggu di dalam ruangan kamar


ini, apakah dia marah padaku dan mencoba untuk mengurungku di dalam kamar ini? Aku melihat punggungnya mulai lenyap di balik pintu yang tertutup rapat. Ingin

__ADS_1


sekali aku melanggar perintahnya untuk tetap tinggal di dalam kamar ini, akan tetapi aku juga ingat jika tidak baik melanggar perintah suami pun aku memutuskan untuk membaringkan badan sembari berharap rasa kering di tenggorokan


lekas hilang ketika aku masuk kedalam alam mimpi, ku pejamkan erat mataku lalu mensugesti diriku untuk membayangkan jika aku telah meneguk dua gelas air mineral.


“Minum,” aku dengar suara Mas Sadam menyelinap masuk kedalam


imajinasi ku, tapi aku sedang tidak membayangkan lelaki itu mungkin saja karena aku masih teringat akan suaranya hingga tanpa sadar seperti mendengarnya.


“Bukankah kamu haus, minumlah,” aku mulai membuka mata ketika mendengarkan suara Mas Sadam untuk kali kedua.


Ya, ternyata ini benar Mas Sadam. Aku langsung menyentak tubuhku untuk bangkit dari posisi tidur akan tetapi aku langsung merintih


kesakitan ketika kepalaku merasa berdenyut-denyut nyeri di bagian yang terbentur pinggiran meja tadi pagi. Tanpa disangka Mas Sadam langsung membantuku mendudukkan tubuh bahkan lelaki ini juga membantu aku minum satu gelas air


putih. Aku tidak tahu apa yang sedang lelaki ini pikirkan sekarang, apakah dia mulai merasa iba padaku? Atau mungkin dia mulai menganggap aku sebagai istrinya, rasanya tidak mungkin dan aku tidak mau terlalu banyak berharap. Setelah aku kembali berbaring di atas ranjang mas Sadam langsung keluar dari pintu kamar ini namun dia tidak mematikan sakral lampu mungkin karena dia tahu aku takut gelap.


Ina sudah nampak menghiasi Bumantara, gradasi warnanya


bangkit dari posisi tidur perlahan kemudian masuk kedalam kamar mandi setelah terlebih dahulu membersihkan ruangan kamar ini.


Aku melangkah keluar dari kamar, tapi langkahku terhenti ketika berpapasan dengan Mama Elsa. “Sifana, kamu mau kemana?” tanya wanita paruh baya itu padaku.


“Sifana, kalau pagi kan selalu membuat sarapan,” sahutku dengan


mengulas senyuman manis.


“Kamu itu masih sakit, dan dokter juga kemarin mengatakan jika kamu harus beristirahat untuk beberapa hari ke depan,” ujar Mama Elsa sembari mengusap rambutku lembut dengan jari tangannya.

__ADS_1


“Ma, Sifana tidak pa-pa, lagi pula ini juga sudah menjadi tugas, Sifana di dalam rumah ini,” sambungku lagi dengan memegangi kedua tangan


Mama Elsa. Aku juga memberikan tatapan penuh keyakinan jika semua akan baik-baik saja.


“Sayang, kamu bukan pelayan di dalam rumah ini, kau harus ingat itu,” tagasnya padaku. “kamu itu adalah istri kedua dari Sadam, menantu


kesayangan, Mama.” Wanita paruh baya ini berbicara dengan salah satu tangan mengusap pelan wajahku seakan diriku adalah anak kandungnya sendiri.


Sekilas aku melihat bayangan Mbak Tasya turun dari anak tangga rumah ini, tapi wanita itu tidak sendirian karena ada Mas Sadam di


sampingnya. Jantungku berdetak semakin kencang ketika pandangan kami bertemu, entah mengapa aku merasakan hangat di hati ketika mengingat perhatian Mas Sadam


padaku kemarin malam, bolehkah aku menganggap itu perhatian sebab dia adalah suamiku walaupun lelaki itu tidak mau mengakui aku sebagai istri keduanya.


Mbak Tasya dan juga Mas Sadam melangkah mendekati Mama, aku


langsung menundukkan kepala tidak berani bertatapan dengan Mbak Tasya ataupun Mas Sadam, tadi aku memang bertatapan dengan Mas Sadam tapi hanya bertahan satu


detik saja lalu aku memutuskan pandangan itu.


Tidak aku sangka jika Mama Elsa menyuruh Mbak Tasya untuk membuat sarapan pagi, aku melirik kearah kuku tangan Mbak Tasya yang sepertinya baru saja di rawat ke salon karena terlihat cak kuku yang masih baru dan begitu bagus, pastilah mahal begitu pikirku. Mbak Tasya tidak langsung menjawab dan aku


mulai penasaran sehingga mengangkat pandangan satu detik dan jelas aku lihat jika Mbak Tasya sedang menatap Mas Sadam. Mungkin saja Mbak Tasya memohon pada Mas Sadam agar lelaki itu membantunya lolos dari masalah dapur.


“Sadam, bukankah semenjak menikah kamu tidak pernah merasakan masakan, Tasya bukankah sudah seharusnya jika sesekali seorang istri


itu membuat makanan untuk suaminya walaupun hanya satu kali saja,” kudengar Mama Elsa seakan dengan meyakinkan Mas Sadam untuk mengikuti perintahnya.

__ADS_1


“Sayang, benar apa yang Mama bilang. Aku juga ingin merasakan masakan buatan kamu,” Aku langsung membulatkan kedua bola mata dengan posisi kepala yang masih tertunduk tidak bisanya Mas Sadam akan mengikuti apa perintah Mama Elsa Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Entahlah aku juga tidak tahu pastinya.


'Karena penggoda akan selalu salah. Bukankah seperti itu, Mas Sadam?'


__ADS_2