
Aku tidak ingin jika sampai Liora membenci wanita yang telah melahirkannya itu jadi aku memberikan pengertian padanya jika Mbak Tasya memiliki caranya sendiri untuk menyayanginya. Mas Sadam melangkah menghampiri kami berdua lalu lelaki itu mengatakan jika apa yang aku ucapkan adalah benar.
Liora mengganggukkan kepalanya mengerti lalu kami melakukan sarapan pagi bersama. Aku mengambilkan nasi dan juga lauk untuk suamiku kemudian mengambilkan hal yang sama untuk Liora barulah setelah itu aku mengambil makanan untuk diriku sendiri. Sekarang selain Anggun, Liora dan juga Mas Sadam adalah prioritas utamaku. Mama Elsa dan juga Papa Damar tersenyum bahagia dan aku membalas senyuman mereka dengan tidak kalah bahagianya.
Selesai melakukan sarapan pagi, aku dan juga Liora bergandengan tangan mengantarkan Mas Sadam sampai dihalaman rumah. Setelah kami
berada di halaman rumah Mas Sadam mengecup keningku dan juga Liora secara bergantian dan dia juga mengatakan jika aku boleh pergi kemanapun termasuk menjenguk anggun sesuka hatiku, tapi aku tidak boleh pergi sendirian karena nanti akan ada supir yang siap mengantarkan aku-aku langsung mengerutkan kening tidak mengerti kenapa harus dengan supir? Mas Sadam mengatakan karena aku adalah istrinya dan dia tidak setuju jika aku naik angkutan umum lagi, aku sudah membuka mulut hendak protes namun, Mama Elsa mendukung apa yang Mas Sadam lakukan sebab itu untuk kebaikanku akhirnya aku hanya bisa pasrah dan setuju dengan keinginan keduanya. Aku melihat kearah Papa Damar yang kini sedang mengecup kening Mama Elsa dengan sayang, aku menghembuskan nafas perlahan berharap pada, Tuhan agar aku dan juga Mas Sadam bisa bersama sampai tua seperti mereka
berdua.
Setelah mobil yang dikemudikan oleh kedua lelaki yang kami sayangi itu pergi aku dan juga Mama Elsa masuk kedalam rumah sedangkan Liora
bermain sepedah dihalaman rumah. Mama Elsa mengajak aku duduk di ruang tamu rumah ini sebab sudah tidak ada kerjaan lain di dapur. Mama Elsa bisa menyewa koki untuk membuat makanan akan tetapi wanita itu sama seperti diriku dia suka memasak.
“Sayang, apakah Sadam bersikap baik pada kamu?” aku melihat manik mata Mama Elsa menatap aku dengan penuh tanya.
“Ma, sejak malam mengerikan itu, Mas Sadam sudah tidak pernah lagi bersikap kasar padaku bahkan dengan sangat jelas aku melihat
penyesalan dan juga ketulusan terpancar jelas dari manik matanya namun, aku masih belum bisa memaafkannya dengan sangat mudah,” aku menundukkan kepala
tidak berani menatap manik mata Mama Elsa. Pasti sekarang wanita paruh baya itu sedang menatapku dengan marah karena aku tidak memperlakukan putranya dengan baik.
__ADS_1
“Mama, bisa mengerti kenapa kamu tidak memaafkannya dengan sangat mudah, bahkan jika Mama menjadi kamu, mungkin saja akan melakukan
hal lebih dari itu,” aku langsung mengangkat kepala ketika mendengarkan jawaban dari Mama Elsa. “kamu bahkan masih menutupi kebodohan yang dilakukan oleh
putraku waktu itu, Mama dan juga Papa begitu tersentuh dengan kebaikan hati kamu yang tidak mau mengatakan masalah kalian pada kami.”
“Ma, Sifana tidak ingin jika sampai Mama dan juga Papa marah pada Mas Sadam,” sahutku apa adanya.
Mama Elsa menganggukkan kecil kepalanya lalu berkata, “Karena
itulah kami menyukai kamu dan memilih kamu menjadi menantu.”
Siang hari ini Mama Elsa meminta aku untuk mengantarkan makan siang untuk Mas Sadam, aku tidak tahu dimana kantor suamiku berada sebab aku belum pernah sekalipun kesana. Mama Elsa mengatakan jika supir baru itu akan membawa aku kesana. Aku sudah membawa rantang disalah satu tangan, seorang
mengganggukkan kepalanya mengerti. Aku berpamitan dengan Mama Elsa dan juga Liora, kemudian masuk kedalam mobil. Sebenarnya aku ingin mengajak Liora ikut akan tetapi Mama Elsa melarangnya karena tidak ingin di rumah sendirian padahal aku tahu apa maksud Mama Elsa yang sebenarnya-dia tidak ingin jika si kecil menjadi pengganggu aku dan juga Mas Sadam saat melakukan makan siang bersama nanti.
Aku memakai celana jeans biru dipadukan dengan kaos oblong
berwarna putih dengan gambar tengkorak dan aku juga mengunakan sepatu ket berwarna putih senada dengan baju yang aku gunakan, seperti biasa aku tidak mengunakan make up namun, aku mengaplikasikan lipstik warna merah jambu di bibir ini agar tidak terlihat pucat. Entah mengapa aku nyaman
saja jika mengunakan baju seperti ini ya, mungkin karena jika mengunakan dress akan terlihat ribet menurutku. Selama berada didalam mobil aku sibuk melihat kearah jalanan ada seorang wanita paruh baya berjalan sembari membawa payung di tangannya payung itu ia gunakan agar kulit putihnya tidak sampai di jamah
__ADS_1
oleh sinar matahari secara langsung. Aku juga melihat seorang wanita sedang duduk di halte bus sembari membaca buku di tangannya pasti wanita itu mencoba untuk menghilangkan rasa bosan karena menunggu bis terlalu lama. Tanpa terasa mobil ini mulai berhenti di halaman perusahaan milik suamiku. Aku hendak membuka handle pintu akan tetapi tanganku seakan membeku ketika manik mata ini melihat sosok yang tak asing di ingatanku.
"Bukankah lelaki yang kini sedang berdiri di depan itu, putra-kekasih mbak Tasya," aku bergumam lirih agar suaraku tidak dapat di dengar oleh Pak Rokim.
Aku melihat Putra sedang menyilangkan satu kakinya ke depan sembari menyandarkan punggungnya di mobil berwarna hitam dan kini lelaki itu sedang menikmati satu batang rokok. Aku mengalihkan pandangan kearah pintu perusahaan selang beberapa waktu aku melihat Mbak Tasya keluar dari dalam sana lalu berlari menghampirinya Putra yang langsung menyambut aku wanita itu dengan senyuman manisnya. Dengan sangat jelas aku melihat Mbak Tasya menunjukkan selembar kertas pada Putra lalu lelaki itu merampasnya dan melihat sesuatu di kertas tersebut dengan senyuman masih tidak luntur di bibirnya-senyuman licik dan merampas. Keduanya masuk kedalam mobil dengan senyuman bahagia.
"Pak Rokim, tunggu saja di parkiran," pintaku pada supir ini sebelum membuka pintu mobil.
"Baik, Mbak Sifana."
"Terima kasih, Pak sudah mengantar saya," aku kini sudah menjejalkan kaki di aspal lalu keluar dari dalam mobil.
Kenapa Mbak Tasya berada di sini? Jika aku tidak salah menebak pasti apa yang dia pegang adalah cek karena binar mata keduanya terlihat sangat bahagia sekali seperti baru saja memenangkan lotre ratusan juta. Dari pada aku terus berpikir yang macam-macam lebih baik segera melangkah menuju resepsionis lalu bertanya langsung pada Mas Sadam.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita cantik setelah aku berdiri dihadapannya.
"Saya ingin bertemu dengan, Pak Sadam," sahutku cepat. "nama saya Sifana," sambungku lagi memperkenalkan diri sebelum diminta.
"Oh ... Mbak Sifana, baru saja Ibu Elsa menelepon dan meminta kami langsung mengantarkan Mbak Sifana menuju ruangan Pak Sadam," aku melihat senyuman ramah terukir manis di bibir resepsionis ini. Tidak aku sangka jika Mama Elsa sampai memperhatikan hal sekecil ini.
"Mari saya antarkan," aku langsung mengganggukkan kepala setuju.
__ADS_1
Apakah Mas Sadam akan menjawab pertanyaan aku nanti mengenai Mbak Tasya? Tapi aku merasa tidak yakin apakah mungkin Mas Sadam diam-diam menjalin hubungan dengan Mbak Tasya di luar rumah agar tidak ketahuan oleh Papa dan juga Mama. Kenapa hatiku sakit hanya dengan membayangkannya saja.