
Aku menangis sembari memeluk Anggun. Aku melihat kearah Mama Elsa yang kembali menitihkan air matanya di dekapan Papa Damar. Liora anak kecil yang sangat ceria dan juga murah senyum, Aku kembali mengingat ketika Liora membelaku saat Mbak Tasya waktu itu memarahiku bahkan Dia juga mengendap-endap untuk bisa bertemu denganku dan Dia memberikan coklat untukku meskipun akhirnya coklat itu di injak oleh Mbak Tasya sebab ketahuan olehnya. Liora sangat baik sekali dan Aku percaya Tuhan akan membantu pemulihannya hingga akan cepat sembuh. Semoga saja.
“Ma, Pa. Sebaiknya kalian pulang ke rumah, Liora sudah sadar.” Kudengar Mas Sadam berbicara pada kedua orangtuanya.
“Mama, masih ingin tetap di sini.” Mama Elsa menangis dengan tersedu-sedu. Wajah wanita paruh baya itu yang terlihat kacau semakin menunjukkan garis halus yang ada disudut matanya.
“Mama, nanti bisa sakit. Sebaiknya Mama pulang lebih dahulu untuk istirahat dan besok pagi Mama kembali sekalian membawa baju ganti untuk saya dan juga Mas Sadam,” bujuk ku pada Mama Elsa.
“Ma, apa yang dikatakan oleh Sifa dan juga Sadam itu benar, Mama dan juga Anggun bisa sakit jika kurang istirahat jadi biarkan saja mereka yang menjaga Liora,” sambung Papa Damar mencoba membujuk istrinya,
“Apa yang Papa katakan itu benar, nanti jika ada perkembangan lebih lanjut maka Sadam pasti akan mengabari Mama dan juga Papa, jadi kalian jangan cemas.” Aku mengganggukkan kepala setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh suamiku.
“Baiklah, tapi kalian harus janji akan memberikan kabar pada kami,” pinta Mama Elsa sembari menatap kearah aku dan juga Mas Sadam secara bergantian.
“Kami akan memberikan kabar, Sadam tidak akan berbohong,” sahut Mas Sadam sembari mengusap cairan bening yang terus menetes dari pelupuk mata Mama Elsa.
“Sifa, kamu hati-hati ya. Mama dan juga Papa pulang dahulu,” pamit Mama Elsa padaku.
“Iya, Ma. Tolong jaga Anggun,” ucapku pada Mama Elsa. “Jika sudah sampai rumah jangan lupa memberikan kabar pada kami,” pintaku pada Mama Elsa.
“Tentu saja.” Mama Elsa menyahut singkat.
“Mbak Sifa, Anggun pulang dahulu ya, Mbak jangan lupa istirahat juga disini,” pinta Anggun sembari memelukku. Aku membalas pelukan itu sembari mengecup beberapa kali puncak kepalanya.
“Jangan merepotkan, Nenek dan juga Kakek,” pesanku pada Anggun. Adikku itu hanya mengganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang barusan Aku katakan.
__ADS_1
Setelah melihat Mama dan juga yang lain menjauh dari lorong rumah sakit ini, Aku dan juga Mas Sadam duduk di kursi stainless lalu aku menaruh kepalaku di bahu suamiku, Entah mengapa Aku merasa mata ini berat sekali mungkin karena tidak hentinya menangis sejak dari pagi bahkan Aku juga belum mandi dan mencuci wajah ini. Akhirnya Aku menarik kembali kepalaku dari bahu Mas Sadam.
“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Mas Sadam ketika Ia melihat Aku bangkit dari kursi yang sempat ku duduki.
“Aku mau ke kamar mandi untuk membasuh wajah ini, seluruh tubuhku terasa lengket sekali, Mas.” Ucapku pada Mas Sadam.
“Baiklah,” sahut Mas Sadamnsembari mengganggukkan kepala.
Di dalam kamar mandi aku langsung membuka kran air dan membasahi wajahku dengan air tersebut, Aku merasakan dingin dan tubuhku yang lelah mulai terlihat segar sekali. Mataku bengkak sampai membuat mata ini sipit. Aku menyeka tubuhku yang bisa Aku jangkau dengan air tanpa melepaskan baju yang Aku gunakan, aku ingin sekali mandi akan tetapi tidak ada baju ganti dan sabun juga tidak ada, gigi ini pun terasa kurang nyaman karena belum sikap gigi dari tadi siang. Setelah menyelesaikan ritual bersih-bersih ala kadarnya Aku melangkah keluar dari kamar mandi yang ada di rumah sakit ini.
“Sayang.” Aku mendengarkan suara yang tidak asing memanggilku dari arah belakang dan langsung aku putar tubuh ini menghadap ke asal suara tersebut.
Aku melihat Mas Sadam yang tadi sempat menyandarkan tubuhnya pada dinding langsung melangkah menghampiriku sembari membawa paper bag di tangannya.
“Kamu dapat ini dari mana, Mas?” tanyaku pada Mas Sadam.
“Tadi aku menyuruh Asistenku untuk membelikan. Aku tahu kamu merasa tidak nyaman memakai baju sejak dari tadi pagi, sudah sana bersihkan tubuh kamu karena Aku juga akan membersihkan tubuhku.” Aku langsung mengganggukkan kepala setuju dan kembali masuk kedalam kamar mandi.
Selang beberapa waktu.
“Mas, aku minta uang 10.000,” ucapku pada Mas Sadam. Aku tidak membawa uang saat keluar dari rumah tadi.
“Untuk apa uang itu?” tanya Mas Sadam padaku.
“Aku sangat haus sekali, Mas jadi ingin membeli air minum,” ucapku pada Mas Sadam.
__ADS_1
“Sayang, kamu duduk saja di sini biar aku yang membelikan kamu,” sahut Mas Sadam.
“Mas, jangan lupa belikan Aku roti rasa coklat dan juga keju,” pintaku pada Mas Sadam.
“Baiklah, Sayang,” sahut Mas Sadam kemudian berlalu pergi.
Entah mengapa Aku merasa sangat lapar sekali padahal tadi sudah makan malam, pasti karena Aku terlalu lelah dan juga banyak berpikir jadi membuat semua energi di tubuhku lebih banyak terbuang hari ini. Selang beberapa waktu Mas Sadam melangkah menghampiriku sembari membawa kresek di tangannya. Aku tersenyum kecil melihat suamiku mulai terbiasa dengan makanan orang biasa, dulu waktu awal kenal Ia tidak mau menyentuh makanan sembarangan terutama makanan yang ada di pinggir jalan tapi sekarang Dia lebih merakyat dan hal itu membuatku semakin cinta padanya.
“Sayang, ini roti yang kamu minta,” ucap Mas Sadam sembari memberikan kresek itu padaku.
“Terima kasih Mas,” ucapku sembari mengambil kresek putih dari supermarket. Entah mengapa Aku malas sekali membuka bungkusan roti ini padahal Aku sangat menginginkan isi makanan yang ada didalamnya. Aku melirik kearah Mas Sadam yang kini sedang meneguk air dalam kemasan, aku melihat jakun lelaki itu naik turun dan membuatku meneguk saliva.
Apa yang terjadi padaku, kenapa aku malah melihatnya seperti itu. Aku ingin makan roti ini dari tangan suamiku dan aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang, Liora sedang sakit di dalam sana tapi kenapa Aku malah memikirkan masalah ini, aku tidak biasanya manja tapi kali ini entah mengapa ada perasaan yang berbeda.
“Sayang, kenapa masih tidak memakan roti itu?” tanya Mas Sadam padaku.
Aku menundukkan kepala sesaat tidak menyahuti ucapannya. Mas Sadam langsung mengambil roti yang ada di tanganku kemudian membuka bungkusnya. Mas Sadam menyodorkan roti itu padaku.
“Ayo buka mulut kamu, biar aku suapi,” ucap Mas Sadam setelah menyodorkan roti itu dihadapan ku.
Aku langsung mendongakkan kepala dan tersenyum manis. Langsung saja aku lahap roti itu dengan perasaan lega. Dia lelaki yang sangat sempurna dan juga peka sekali terhadap keinginan istrinya.
Apakah reader semua sudah ikuti akun mangatoon Author? Jangan lupa berikan like, favorit, komentar serta vote yang banyak untuk mendukung karya remahan author ini. Jangan lupa follow juga IG khairin-junior untuk mengetahui Nisa menulis di aplikasi mana saja.
Apakah kalian sudah membaca novel saya yang berjudul Obsesi Tuan Massimo? Ceritanya dijamin seru dan juga bikin ngakak loh, sudah gitu bacanya gratis lagi di fi*zo kalian mampir ya, sudah 60 episode dan akan update rutin setiap hari insyaallah.
__ADS_1