
Selang beberapa waktu. Dokter dan juga Suster memindahkan Liora keruangan VVIP yang sudah Papa Damar pesan untuk cucu kesayangannya itu. Kami semua masih belum bisa mengunjungi Liora karena dia masih dalam pengaruh obat bius akan tetapi Dokter mengatakan semuanya akan baik-baik saja setelah Liora sadar. Mas Sadam membelikan kami nasi bungkus lalu membagikan pada kami semua, Ini sudah waktunya makan malam tapi salah satu dari kami masih belum ada yang menganti baju bahkan Mas Sadam dan juga Papa Damar masih menggunakan piyama tidur dari tadi pagi. Aku dan juga Mas Sadam sudah meminta pada Papa Damar dan juga Mama Elsa untuk pulang ke rumah menganti baju akan tetapi mereka tidak mau dan mengatakan jika baru akan pulang setelah melihat Liora sadar. Akhirnya Aku dan juga Mas sadam menyerah untuk menyuruh keduanya pulang sebab kami tahu keduanya sangat menyayangi Liora.
Andaikan Papa dan juga Mama setuju untuk pulang ke rumah, aku percaya jika keduanya tidak akan merasa tenang melihat cucu kesayangannya masih belum sadar.
“Pa, aku tadi sudah menyuruh seseorang untuk memeriksa kejadian 4 tahun silam dan mereka mengatakan jika Ibu kandung Liora sudah meninggal dunia dan Liora tidak memiliki kerabat lain sebab ayah kandung Liora sudah meninggal ketika Liora masih berada di dalam kandungan.” Kami semua mendengarkan apa yang coba Mas Sadam jelaskan. Sebelum mendengarkan ucapan Mas Sadam Aku lebih dahulu menyuruh Anggun menjauh karena Ia masih sangat kecil dan belum waktunya mengetahui semua ini.
“Apakah cucuku benar sudah meninggal?” tanya Mama Elsa. Aku melihat cairan bening kembali membasahi pipi Mama Elsa dan Papa Damar langsung memeluknya ketika melihat Mas Sadam mengganggukkan kepala.
“Dimana, anak kamu dimakamkan?” tanya.Papa Damar pada Mas Sadam. Aku ikut sedih mengetahui kenyataan ini.
Aku melihat binar mata terluka nampak di mata Papa Damar akan tetapi lelaki paruh baya itu mencoba untuk tetap bisa mengendalikan dirinya. Jika melihat Papa bersedih, maka Mama akan semakin terpuruk.
“Ada di makan umum,” sahut Mas Sadam. “Dan Aku sudah mengetahui makam itu,” sambungnya lagi sembari mengusap sudut matanya.
“Kita semua akan kesana setelah melihat kondisi Liora stabil.” Aku melihat tangisan Mama Elsa semakin keras. Wanita paruh baya itu pasti bersedih karena Ia belum sempat memeluk cucunya sendiri.
__ADS_1
Mbak Tasya kamu sangat kejam sekali melakukan semua ini pada anak kandung kamu sendiri, Selama ini Aku berpikir jika yang jahat hanyalah ibu tiri akan tetapi Aku salah karena pada kenyataannya, ada juga ibu kandung gang jahat dan lebih mementingkan harta dari pada buah hati mereka. Sungguh miris sekali hidup memang kejam apa lagi jika seseorang sudah masuk kedalam gemerlap dunia maka kebanyakan dari mereka akan melakukan segala macam cara untuk bisa tetap bertahan didalam gemerlap dunia yang sangat menyilaukan mata.
“Bisakah kita merahasiakan hal ini dari Liora, Dia masih sangat kecil dan belum waktunya mengetahui semua
kenyataan ini,” ucapku sembari menatap kearah Mas Sadam, Papa Damar dan juga Mama Elsa secara bergantian.
“Kita akan menelan semua.kenyataan ini bersama, Liora tetap cucuku dan anak kandung Sadam. Tasya tidak akan membuka mulutnya karena Ia berada di penjara.” Papa Damar ikut angkat bicara.
Aku melihat Mama Elsa dan juga Mas Sadam saling menatap satu sama lain. “Aku setuju, meskipun Liora bukan putri kandungku akan tetapi Aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri dan sampai kapanpun Liora tetap Akan menjadi Anakku,” ucap Mas Sadam mantap dan Aku langsung menganggukkan kepala setuju dengan apa yang barusan lelaki itu katakan.
“Mama, juga setuju. Liora tidak bersalah akan hal ini. Lebih lagi dia anak yatim-piatu yang tidak memiliki keluarga dan mulai sekarang kita adalah keluarganya,” sambung Mama Elsa. AKu melihat Mama Elsa mengusap Kristal bening yang sudah terburai di kedua pipinya.
Dokter mengatakan jika kami semua bisa menjenguk Liora akan tetapi pasien masih belum bisa banyak bicara karena masih dalam masa pemulihan. Kami semua mengganggukkan kepala mengerti. Aku dan yang lain masuk kedalam ruangan bercat putih tulang, ini aroma obat langsung menyeruak masuk kedalam indra penciumanku. Aku melihat Liora membuka mata dengan wajahnya yang pucat. Kepalanya di perban dan selang infus menancap di salah satu punggung tangannya. Aku ikut merasakan sakit melihat gadis kecil yang sangat Aku sayangi terbaring lemah seperti sekarang.
Tiba-tiba Aku merasa Dejavu akan hal ini, ya dulu aku pernah melihat Anggun di kondisi ini dan hal itu sungguh menyayat hatiku. Aku mengigit bibir bagian bawah ini agar tidak menangis karena jika sampai Aku menangis maka Liora akan sedih dan hal itu tidak baik untuk pemulihannya.
__ADS_1
“Dedek, apakah kamu sudah baik-baik saja?” tanya Anggun dengan suara ceria. Aku tahu Anggun sedang mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipi dan hal itu tentu tidak mudah.
“Mbak, Anggun kepala Liora sakit,” ucapnya pada Anggun dengan suara gemetar.
Aku dan juga semua orang langsung mengalihkan wajah kearah lain. Kami benar-benar tidak tega mendengarkan ucapan Liora, andaikan bisa aku rela mengantikan posisinya.
“Mbak Anggun tahu bagaimana rasanya, karna dulu Mbak Anggun juga pernah sakit seperti ini bahkan sampai berbulan-bulan lamanya,” ucap Anggun mencoba memberikan motifasi untuk Liora. “Lihatlah sekarang, Mbak Anggun bisa sembuh dan tidak sakit lagi, jadi kamu harus kuat dan percaya jika kamu akan sembuh.” Aku melihat suara Anggun mulai gemetar sekarang dan itu tandanya jika Ia sudah tidak sanggup menahan air matanya lebih lama lagi.
“Mbak Anggun, Dedek akan sembuh dan kita akan bermain lagi,” ucap Liora dengan suara yang putus-putus.
Cklek!
Aku melihat Dokter Heru dan juga Suster mulai masuk kembali kedalam ruangan ini. Mereka menyuruh kamu keluar karena pasien masih butuh banyak istirahat. Aku melihat Liora yang hanya diam melihat kamu semua keluar dari ruangan itu.
"Mbak Sifa, Anggun nggak tega lihat Dedek kayak gitu," ucap Anggun sembari memelukku persis setelah kami baru saja keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
Aku langsung memeluk tubuh Anggun lalu berkata, "Dedek akan sembuh seperti kamu dulu, jadi jangan khawatir Dia akan pulang bersama dengan kita," ucapku pada Anggun sembari melepaskan pelukannya dan aku mengusap kedua pipinya yang sudah dibasahi oleh air mata.
"Anggun, kamu jangan bersedih Dedek kamu pasti akan sembuh dan beberapa hari lagi dia akan pulang bersama kita," ucap Mas Sadam ikut menimpali kata-kata ku tadi.