
1 bulan berlalu.
Mauren terus mencari tahu tentang Kayzen, catatan laki-laki itu bersih dari wanita, dia dikenal sebagai ayah dan suami yang baik.
"Mauren!"
Suara teriakan Laila membuyarkan konsentrasi Mauren.
Laila terus berlari kedalam rumah Mauren, saat sampai di kamar wanita itu, terlihat Mauren memandangi majalah yang terpampang wajah Kayzen.
"Jangan dilihat terlalu lama, nanti kamu jatuh cinta," goda Laila.
"Ni orang kayak gak punya celah gitu, kenapa susah banget ya deketin ini orang," gerutu Mauren.
"Tenang Ren, jalan kita di permudah, kini ada penerimaan babysitter baru untuk anaknya Kayzen." Laila memperlihatkan sebuah tawaran di majalah yang dia pegang.
"Sulit kayaknya," keluh Mauren.
"Setiap kemauan keras, pasti ada jalan!"
Mauren setuju dengan rencana Laila, dia segera mendaftarkan dirinya.
Seminggu berlalu, akhirnya Mauren mendapat panggilan dari Marta. Saat dia bertemu Marta lagi, Mauren berusaha pura-pura tidak kenal dengan wanita itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Marta.
"Kalau saya sering lihat Nyonya di TV, kalau Nyonya pernah lihat saya, rasanya tidak mungkin, kecuali Nyonya sering datang ke kantor jasa penyelia babysitter, foto saya terpampang di sana," kilah Mauren.
"Pernah bekerja menjadi babysitter?"
"Pernah, cuma 3 bulan," sahut Mauren.
__ADS_1
"Kenapa? Di pecat?"
"Bapaknya anak yang saya jaga, ganjen, ya saya takut, lebih baik saya kehilangan pekerjaan, daripada kehilangan kepercayaan Nyonya saya."
"Kamu diterima!"
"Apa?" Mauren tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kalau kamu ingin bekerja, besok pagi datang lagi ke sini, dan menginap di sini."
"Siap Nyonya."
"Ada tapi," ucap Marta.
"Tapi apa Nyonya?
"Kalau anak saya tidak suka padamu, maka kamu akan saya pecat."
"Tidak masalah, Nyonya.
***
Keesokan harinya, jam 06.30 Mauren sudah sampai di kediaman Marta. Dia beridiri di depan pintu rumah itu sambil menenteng tas jinjingnya.
Ting! Tong!
Tidak berselang lama, daun pintu terbuka.
"Selamat pagi bu, saya Mauren, babysitter baru di rumah ini."
"Ayo masuk dulu."
__ADS_1
Saat Mauren memasuki rumah itu lagi, pemandangan yang sangat indah menyapa kedua matanya, di mana seorang laki-laki sangat asyik bermain dengan putrinya. Hal itu membuat Mauren seketika merindukan Ayahnya.
"Apa yang kamu lihat!?"
Pertanyaan tegas itu membuyarkan lamuman Mauren. "Eh Nyonya."
"Jangan bilang kamu tergoda suami saya!"
"Bukan bu, melihat asyiknya Nona kecil dan Tuan bermain, membuat saya merindukan Ayah saya, dulu Ayah saya juga sangat sering bermain bersama saya seperti itu."
"Ratmi! Antar babysitter baru menuju kamarnya, setelah mengganti pakaianmu, segera lakukan tugasmu!" perintah Marta.
"Siap Nyonya."
***
Hari pertama bekerja tidaklah mudah, gadis kecil yang Mauren jaga terlihat tidak suka padanya, apalagi saat Ayahnya ingin pergi bekerja, Mauren extra kerja keras mengalihkan perhatian gadis kecil itu.
Apapun yang Nara lakukan, Mauren tetap diam, dan membiarkan gadis kecil itu melakukan apa yang dia mau.
"Mbak, kenapa nggak marahin aku?" tanya Nara.
"Kenapa harus marahin Nona? Nona anak baik, anak cantik, anak manis, masa dimarahin?"
"Mama selalu marahin aku kalau aku berantakin rumah, katanya aku nakal."
"Masa berantakin gini dibilang nakal? Mbak bisa beresin lagi kok." Mauren mulai membereskan mainan Nara yang tersebar di segala penjuru.
"Nara, Nara sangat sayang sama Ayah ya?" Mauren berusaha mengajak gadis kecil itu bicara.
"Iya, cuma Papi yang sayang sama Nara. Kalau mami cuma kerja, kerja, kerja, marahin papi, kadang marahin aku."
__ADS_1
Satu hal yang Mauren dapat di hari pertama bekerja, Kayzen termasuk kelompok suami takut istri, penilaian Mauren.
Mauren mencoba menepikan misinya, saat ini dia ingin fokus pada pekerjaannya. Target Mauren, mengambil perhatian Nara, kemudian perhatian Ayahnya. Rasanya hukuman yang luar biasa bagi Marta, kalau dia bisa merampas dua hal berharga dari hidup Marta.