
Aku melihat tubuh Tasya langsung jatuh ke lantai usai mendengarkan suara Mas Sadam, wanita itu kini semakin menangis dan mengajak kedua tangannya untuk memeluk kaki Mas Sadam, aku sungguh tidak tega melihatnya ingin aku membantunya tapi Mama Elsa menarik balik tanganku sembari mengelengkan
kepala tidak memperbolehkan aku membantu.
“Biarkan dia mempertanggung jawabkan semua kesalahannya,”
aku hanya bisa mengganggukkan pelan menuruti permintaan Mama Elsa. Mbak Tasya memang sangat jahat padaku dan juga tidak segan memukulku tapi entah kenapa aku
merasa kasihan sekali melihatnya seperti ini, aku tidak tega hingga. Suara langkah kaki mulai terdengar masuk kedalam dapur dan aku melihat Papa Damar yang baru saja masuk melalui pintu itu.
Papa Damar melihat Tasya yang kini masih duduk lantai sembari memeluk salah satu kaki Mas Sadam. “Sadam, apakah kamu sekarang sudah bisa melihat wajah istri kamu yang sebenarnya, dia hanya berpura-pura baik dihadapan kamu selama ini, kau harus meninggalkannya sebab wanita seperti ini tidak pantas dikasihani.” Aku melihat Mama Elsa langsung menghambur kedalam pelukan Papa Damar ketika jarak lelaki itu sudah dekat dengannya.
“Pa, Ma. Tolong maafkan Tasya, Tasya berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi dan Tasya juga akan menjadi menantu yang baik,”
aku melihat air mata tidak berhenti berproduksi di manik mata itu.
“Kami sudah memberikan kamu kesempatan tapi tidak pernah kau
hiraukan bahkan kamu sampai berani menyakiti hati, Mama-istriku. Dan aku tidak bisa memberikannya,” aku melihat Papa Damar menatap Tasya tajam jika saja kini yang berada dihadapannya bukanlah seorang wanita pasti Papa Damar sudah bisa
melampiaskan semua amarahnya dengan sangat mudah.
__ADS_1
“Sadam, tinggalkan dia dan jangan sampai kamu kembali padanya,” Mama Elsa menatap Mas Sadam dengan air mata yang kembali jatuh di pipinya.
“Sayang, aku mohon jangan lakukan itu. Kasihan Liora jika sampai kita berpisah bukankah kamu dari dulu tidak mau jauh darinya,” aku melihat wajah memohon dan juga air mata yang tidak henti di pipinya itu sangat
memilukan sekali.
Mas Sadam mundur beberapa langkah kebelakang hingga membuat
tangan Tasya jatuh menyentuh lantai. “Kau keluarlah dari rumah ini dan kemasi semua barang-barang kamu!” suara itu terdengar lantang sampai membuat Tasya terjingkat dan begitu juga dengan aku. Sebelumya aku tidak pernah melihat Mas Sadam semarah itu pada Tasya.
“Apakah semua ini karena dia, karena wanita penggoda itu kamu menyuruh aku keluar dari rumah ini bahkan kau juga melepaskan cincin pernikahan
mengatakan jika hanya aku saja istri kamu tapi kenapa semua berubah? Kenapa kamu malah dekat dengannya dan mengabaikan aku?” aku melihat wanita itu mulai beranjak berdiri dari posisi duduknya lalu menatap aku nyalang, aku mundur
menjauh takut melihat sorot matanya itu bahkan kini dia menatap kearah jari manis ku yang terdapat cincin sama dengan milik Sadam.
Mbak Tasya sudah berdiri dengan tegap dan kini tengah menatap
Sadam dengan tajam seakan tidak terima jika dia harus keluar dari rumah ini karena sejak dari awal wanita itu ingin sekali jika aku yang keluar dari rumah ini dan bukan dirinya.
“Kau jangan pernah menyalahkan wanita lain atas kesalahan yang telah kamu perbuat, kau seharusnya malu karena wanita yang kau bilang telah menjual harga dirinya pada lelaki hidung belang ternyata masih gadis
__ADS_1
tidak seperti dirimu,” berarti Mbak Tasya menikah dengan Mas Sadam sudah tidak gadis lagi? Apakah benar yang aku pikirkan sekarang. “aku sangat menyesal telah percaya padamu selama ini, benar apa yang kedua orangtuaku bilang selama ini
jika wanita seperti kamu memang tidak pantas untuk dipertahankan.”
“Sayang, aku terpaksa berbohong karena tidak ingin kalau sampai kau meninggalkanku dan memilihnya. Ternyata apa yang aku takutkan memang benar adanya,” tasya mencoba memeluk Sadam akan tetapi lelaki itu menghindar dan
aku hanya bisa diam tidak bicara hanya melihat saja seperti apa yang Mama Elsa dan juga Papa Damar lakukan.
“Sejak dari awal kamu memang tidak pernah mencintai aku, kau hanya menginginkan hartamu saja dan dengan kejam kau selalu mengambil uangku lalu kau berikan pada kekasih kamu. Tasya aku mengira kamu adalah wanita yang baik karna kita berteman sejak dari kecil tapi tidak aku sangka kau malah mempermainkan kepercayaan ku, kau menyalahgunakan semua uang yang aku berikan tapi aku masih diam namun aku tidak bisa diam lagi ketika mengetahui kamu sudah memfitnah Sifana dengan kejam dan juga tidak memiliki belas kasihan. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan hal itu pada wanita lain sedangkan kamu sendiri juga seorang wanita."
"Baiklah, aku akan keluar dari rumah ini, tapi aku tidak sendirian karena aku akan membawa Liora bersama denganku."
Mbak Tasya sudah menyerah mungkin karena wanita itu tahu jika usahanya akan sia-sia bertahan di rumah ini. Selama ini Mbak Tasya tetap berada di rumah ini karena Mas Sadam saja, tapi kini lelaki yang selalu membelanya sudah tidak bisa mempertahankannya lagi jadi dia harus menyerah dan pergi. Aku seharusnya senang melihat wanita kejam itu pergi tapi bukan itu yang aku rasakan sekarang, aku malah sedih karena dia akan membawa Liora ikut serta dengannya.
"Tasya," aku melihat Mbak Tasya menghentikan langkah kakinya yang hendak mencapai pintu dapur ini. Lalu wanita itu memutar tubuhnya menghadap kamu semua, terlihat senyuman samar di bibirnya menandakan jika wanita itu berhasil mengancam semua orang dengan menyebutkan nama Liora-dia tahu jika semua orang sangat menyayangi gadis kecil itu.
"Aku, tidak akan pergi dari rumah ini jika kamu meminta aku tinggal, Sayang bahkan aku juga akan dengan mudah melupakan semua hinaan yang telah kau lontarkan di hari ini."
Tasya sungguh gila sekali dengan tidak tahu malu dia mengatakan hal itu.
Jangan lupa berikan komentar ya,
__ADS_1