Terpaksa Jadi Pelakor

Terpaksa Jadi Pelakor
Ketakutan Terbesar


__ADS_3

Aku dan juga semua orang langsung mengedarkan pandangan ke seluruh lorong rumah sakit ini, akan tetapi tidak bisa menangkap sosok yang tadi sempat Liora katakan. Aku melihat Mas Sadam dan juga Papa Damar saling menatap dengan sorot tidak terbaca. Mama Elsa mengatakan jika Liora pasti salah melihat karena untuk apa Tasya berada di rumah sakit ini? Papa Damar juga mencoba meyakinkan aku jika itu pasti bukan Tasya sedangkan Liora sendiri merasa yakin jika dia tidak salah lihat tadi namun, Mama Elsa memberikan penjelasan padanya hingga akhirnya Liora diam. Setelah berpamitan denganku dan juga Mas sadam mereka bertiga beranjak menjauh dari kami untuk pulang ke rumah.


Ketika bayangan Liora, Mama Elsa dan juga Papa Damar sudah menghilangkan dari pandanganku segera Aku melangkah menuju pintu untuk melihat kondisi Anggun dari kaca transparan ini. Rasa takut kembali merayapi hatiku saat melihat Anggun masih terbaring dengan selang oksigen menempel di hidungnya, Aku bisa kehilangan semua yang ada di dunia ini tapi, jangan Anggun. Suara langkah kaki terdengar mendekat tanpa menoleh Aku bisa mengerti jika itu adalah Mas Sadam. Kini lelaki itu berdiri di belakangku ikut melihat kedalam ruangan Anggun berada, Dia menaruh kedua tangannya di pundak ku kemudian membalikkan posisiku berdiri hingga kamu saling berhadapan.


"Ayo kita duduk dahulu, kamu pasti lelah," ucapnya sembari mengusap air mata yang sudah lolos di kedua pipiku.


"Mas, aku ingin tetap berada di sini agar bisa melihatnya setiap waktu," sambungku dengan nada suara terdengar parau.


"Anggun tidak akan suka kalau Dia bangun dan melihat kondisi kamu seperti ini," ucapnya penuh keyakinan padaku.


Mas Sadam benar, Anggun tidak pernah suka melihat Aku menangi.

__ADS_1


***


Pukul 22.00,


Aku masih duduk sembari menyandarkan kepalaku di kursi stainless ini, aku tidak sabar menunggu esok untuk melihat Anggun bangun dari tidurnya dan disaat itu akan Aku peluk tubuh kecilnya lalu mengecup puncak kepalanya. Aku sudah menyiapkan rentetan pertanyaan yang nanti harus di jawab olehnya namun, ketika ucapan Dokter kembali menggema di telinga ini aku mengurungkan niatku untuk mengatakan semua hal yang membuat hatiku tidak tenang ketika gadis kecilku itu bangun nanti.


“Sayang, ayo kita makan malam.” Mas Sadam duduk di sampingku sembari membuka satu bungkus nasi goreng yang tadi sempat ia beli dari depan rumah sakit ini.


“Nanti kamu akan sakit, Sayang sebaiknya kita makan bersama,” pintanya padaku. Aku langsung menatap wajah Mas sadam yang terlihat lelah lalu Aku teringat jika sejak pulang dari kantor lelaki itu belum makan apapun, Dia pasti lapar sekali dan Aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri.


“Baiklah,” sahutku sembari membenarkan posisi duduk ini. Mas sadam menyuapi aku dengan satu sendok nasi goreng bercampur ayam yang telah di iris tipis oleh sang penjual. Sesudah memastikan jika nasi goreng ini telah dingin barulah Mas Sadam menyuapi aku. Kulihat manik matanya menatap sendu dan juga pilu melihat kondisiku yang acak-acakan, mata ini pasti terlihat bengkak dengan mata panda yang semakin membuat suram air mukaku sekarang, sungguh Aku merasa lelah sekali tapi entah kenapa masih juga belum bisa memejamkan mata.

__ADS_1


Mas Sadam menyuapi Aku lalu Aku bergantian menyuapinya sampai makanan ini habis tanpa sisa, Mas Sadam memberikan satu bungkus es teh lalu ia juga membantu aku meminumnya, Aku menghabiskan setengah plastik es teh itu, dan tanpa Aku sangka jika Mas Sadam meminum sisanya dengan santai bahkan lelaki itu juga tidak keberatan meminum sisa istrinya. Setelah perut ini terisi aku mulai merasakan rasa kantuk mengelayuti mataku, tapi sebisa mungkin aku membuka mata ini lebar agat tidak sampai tertidur. Mas sadam melihat aku menguap beberapa kali lalu lelaki itu menyuruh aku untuk menaruh kepala di pahanya agar aku bisa tidur, Aku menolaknya sembari menggelengkan kepala pelan namun, Mas Sadam tidak perduli dia menarik tanganku kemudian memegang kepala ini dan mendaratkannya di pahanya.


“Tidurlah, Aku akan menjaga Anggun. Kamu tidak perlu merasa cemas.” Aku melihat Mas Sadam menatapku serius bahkan tangan lelaki itu juga mengusap lembut rambutku.


Aku menatap lurus ke depan dengan air mata yang masih menetes meskipun sudah mulai jarang jatuh, lambat-laun pandangan ini mulai kabur dan Aku merasakan jika pelupuk mata ini mulai terasa berat hingga Aku mulai masuk kedalam alam mimpi membiarkan Mas Sadam menjaga Liora sendirian.


Aku mulai mengerjapkan mata ketika mendengarkan suara isak tangis seorang wanita yang menendang masuk kedalam gendang telingaku membuat Aku terbangun dari alam mimpi, aku mengucek mata sembari masih menaruh kepala dipangkuan suamiku. Aku melihat seorang wanita paruh baya yang usianya masih lebih tua dari Mama Elsa menangis sembari berjalan di belakang ranjang pasien yang kini tengah di dorong eh dua suster. Aku melihat wanita paruh baya itu terus saja menyerukan nama seorang pria yang aku yakini adalah nama seseorang yang tengah berada didalam selimut putih yang membungkus sekujur tubuhnya-lelaki itu sudah meninggal.


Deg!


Aku menggenggam erat kedua tanganku rasa takut yang sempat sirna kini kembali menjalar di sekujur tubuhku bagaimana jika sampai Anggun seperti itu? Lalu apa yang aku lakukan?

__ADS_1


__ADS_2