Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
100. Sopir Baru


__ADS_3

Kejadian menghilangnya Daniah di waktu pesta ulang tahun ibu menjadi titik balik perubahan hubungan Daniah dan Saga. Saat ini Saga sudah memakai panggilan sayang untuk Daniah jauh lebih sering. Sudah jarang berteriak padanya, sudah jarang menuding kening Daniah dengan kesal. Terkadang mereka sudah bicara layaknya manusia normal. Walaupun hubungan mereka belum bisa disebut wajar, namun setidaknya sudah tidak seekstrem dulu lagi.


Seminggu berlalu, ibu belum kembali menampakan diri di rumah. Jen mengatakan kalau Ibu pergi untuk menghindari pertengkaran dengan Kak Saga.


Kenapa? Memang salah ibu apa?


“Kak Saga marah pada ibu karena bukannya memperkenalkan Kakak Ipar malah memperkenalkan Helena waktu di pesta.”


Jadi karena itu, tapi seharusnya Tuan Saga tidak perlu sampai semarah itu kan. Aku saja sudah memaafkan ibu kok.


Daniah sekali mengungkit masalah ibu pada Saga, agar suaminya itu mau membuka hatinya. Tapi alhasil, dia bahkan tidak tidur semalaman meladeni kekesalan Saga. Akhirnya dia pun tidak pernah mengungkit perihal perginya ibu. Biarkan semua berjalan dengan normal dengan sendirinya.


“Berikan aku waktu, aku akan memaafkan ibu nanti.” Cuma itu yang di ucapkan Saga.


Karena pada akhirnya keluarga akan selalu saling memaafkan. Apa pun kesalahan yang di lakukan.


...*** ...


Malam yang belum larut, beberapa pelayan masih terlihat menyelesaikan pekerjaan.


Sehabis makan malam Tuan Saga menghabiskan waktu di ruang kerjanya bersama Pak Mun. Daripada Daniah menunggu sendirian di dalam kamar dia memilih pergi ke rumah belakang. Dia bertemu dengan beberapa pelayan laki-laki yang langsung bergerak menghindarinya. Maya mendekatinya saat dia datang.


“Nona ada apa? bukankah tuan muda ada di rumah.”


“Aaa, dia senang bekerja. Aku hanya bosan. Mau makan es cream?” Daniah mengangkat satu cup besar es cream di tangannya. “Ayo makan di sana.” Daniah menunjuk sebuah kursi kosong tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


Mereka duduk di dekat taman, sambil menikmati pemandangan malam dan semilir angin yang menerbangkan rambut mereka. Taman yang indah, yang mungkin nyaris tidak pernah di nikmati pemilik rumah ini. Bahkan Daniah hanya sekedar melewatinya di pagi hari.


“Jen sudah mulai magang, jadi setiap pulang ke rumah dia selalu mengeluh kelelahan dan akhirnya langsung ambruk tidur, Sofi juga demikian, kuliahnya sedang padat-padatnya.” Daniah mulai bercerita, mengeluh sebenarnya. Karena dia kehilangan teman yang bisa di ajak bicara di rumah ini.


“Nona Jenika dan Nona Sofia memang pekerja keras.” Maya mengatakan pujiannya.


“Benar, padahal Jen magang di perusahaan kakaknya, tapi aku dengar dia tidak mendapatkan keistimewaan apa-apa. Bahkan tidak ada yang tahu kalau dia adik dari pemilik perusahaan.” Satu hal ini membuat Daniah takjub pada Jen, padahal dia sempat berfikir kalau Jen termasuk anak manja yang akan memanfaatkan posisinya sebagai adik Tuan Saga. Toh dia memang adik yang di sayangi Tuan Saga. Tapi ternyata tidak, Jen bekerja keras dengan namanya sendiri.


Eh magang ya, apa Jen dan Raksa pernah bertemu ya. Tapi tidak mungkinlah, perusahaan Antarna Group itu kan banyak sekali. Entah mereka ada di perusahaan yang mana.


“Tuan muda memang mendidik Nona Jenika dan Nona Sofia dengan disiplin yang ketat.” Maya menutup mulutnya merasa apa yang dia bicarakan sudah lancang. “Maafkan saya Nona, saya sudah lancang.” Aturan rumah ini melarang para pelayan membicarakan apa pun yang terjadi di rumah ini, bahkan dengan sesama pelayan sekalipun. Apalagi sampai membicarakan keluarga Tuan Saga.


Aku ingat, waktu para pelayan membandingkan aku dan Helen, dan saat itu Sekretaris Han menghukum mereka.


“Nggak papa, bicaralah santai padaku. Ayo makan lagi.” Sesuap es cream masuk ke mulut, lumer, dingin, lembut dan manisnya menyatu di dalam mulut. “Jangan bersikap sungkan padaku” Maya hanya tersenyum.


Anda adalah nona muda kami, bagaimana aku bisa tidak sungkan. Pak Mun saja sering kali mengingatkanku untuk menjaga sikap. Tidak boleh menyapa Anda duluan jika Anda tidak menyapa.


“Maya punya hari libur kapan?”


Pelayan mendapatkan jatah libur seminggu sekali, yang jadwalnya berbeda setiap orang, semua disusun sesuai jadwal oleh Pak Mun. Ternyata pekerjaannya banyak sekali ya, Daniah menghitung jumlah pelayan yang ada di rumah ini, entah  jumlahnya berapa. Dia pun tidak terlalu hafal wajah mereka.


“Dua hari lagi saya libur nona. Lusa.”


“Lusa ya, berarti pas akhir pekan, baiklah, nanti aku atur jadwal dengan yang lainnya ya. Kamu kosongkan jadwal liburan kamu ya, aku ingin kita pergi.”


“Nona.” Sudah merasa khawatir karena kebaikan Daniah sudah melebihi batas kewajaran.


“Jangan menolak ya.” Menepuk bahu Maya. “Ayo berteman dengan tulus denganku.”


Pak Mun muncul dari rumah utama. Maya langsung menggeser posisi duduknya agak menjauh. Pak Mun Menghampiri Daniah dan Maya di dekat taman.


“Nona, tuan muda meminta Anda ke ruang kerjanya sekarang.” Pak Mun memperhatikan, mencari tahu apa yang sedang dilakukan Daniah dan Maya. Dia melihat satu cup besar es cream dengan dua sendok di sana. Lalu dia terlihat menatap Maya yang kemudian menundukkan kepalanya.


“Eh, kenapa Pak? Apa dia sudah selesai?”


“Silahkan ikuti saya Nona.” Hanya mempersilahkan Daniah dengan tangannya tanpa menjawab pertanyaan Daniah.

__ADS_1


Selalu deh, tidak menjawab kalau urusannya perintah Tuan saga. Kalau Sekretaris Han lewat sorot matanya pasti mengatakan. Sudahlah, jangan banyak bicara dan ikuti saja saya. Begitu pasti kalau dia.


“Aku pergi dulu ya. Habiskan es creamnya. Selamat malam Maya.”


Maya bangun dari duduknya dan menganggukkan kepala.


“Selamat malam Nona.”


Daniah memasuki ruang kerja Saga. Pak Mun hanya mengantarkan sampai di depan pintu. Laki-laki itu sedang duduk di sofa. Di dekatnya berdiri seorang wanita. Dia memakai stelan rapi dan celana panjang, sepertinya bukan pelayan wanita di rumah ini. Karena seragam pelayan tidak seperti itu. Sepertinya ini pertama kalinya Daniah melihatnya juga.


“Sayang.” Mendekat.


“Kemarilah!” Saga mengulurkan tangannya agar Daniah mendekatinya. Mau tidak mau Daniah menerima uluran tangan itu dan duduk rapat di samping Saga. “Kau habis makan apa?” Mengusap bibir Daniah, sepertinya masih ada sisa es cream di sana. Kecupan lembut di bibir Daniah. Membuat gadis itu menolak secara spontan, lebih-lebih karena di samping Saga sedang berdiri seseorang.


“Sayang, aku habis makan es cream.” Malu sendiri.


“Sepertinya enak, aku juga mau.” Satu kecupan  lagi.


Hei, makan sendiri sana, kenapa merasai dari bibirku.


“Sayang, hentikan. Dia siapa?” Daniah menunjuk wanita yang sedang berdiri, wanita itu menganggukkan kepalanya sopan.


“Ahh, dia. Perkenalkan dirimu!” Saga menoleh padanya.


“Selamat malam Nona, nama saya Leela. Silahkan panggil saya senyaman Anda,” katanya memperkenalkan diri dengan sopan.


Hei, kau tidak sedang memberiku pelayan pribadi kan. Memang untuk apa? aku tidak butuh pelayan pribadi atau sejenisnya. Memang aku ini putri apa. Jen saja tidak mendapatkan pelayan pribadi.


“Selamat malam, senang berkenalan denganmu. Tapi sayang dia siapa?” beralih mencari jawaban pada Saga.


“Sopir untukmu.”


Langsung tercipta kepanikan dalam diri Daniah. Waspada. Tentang rencana apa di balik ini semua.


“Sayang, kita kan sudah sepakat waktu kamu memberiku mobil, kalau aku boleh membawa mobil sendiri tanpa supir.“


Kalau aku pergi dengan sopir itu sudah seperti mengawasiku 24 jam full.


“Ini bukan penawaran, ini perintah.” Tegas.


“Tapi sayang.” Memohon dengan lembut sambil menyentuh tangan Saga.


“Kalau tidak mau tinggallah di rumah, jangan pergi ke mana-mana.” Dengan ringannya bicara, padahal kata-katanya jadi hantaman keras untuk Daniah.


Bagaikan jatuh terjerembab ke dalam jebakan yang melilit leher. Tanpa sadar Daniah meremas tangan Saga karena merasakan kesal. Dia melepaskan tangan itu saat Saga mulai mendesah.


“Maaf! tapi Sayang aku kan bekerja.”


“Kau bisa pindahkan tokomu di paviliun depan. Lihat kan rumah di kanan jalan saat kau masuk gerbang utama. Aku akan suruh Pak Mun membereskannya, kau bisa memakainya untuk tokomu nanti.” Lagi-lagi menjawab semudah dia bernafas.


Kenapa hal seperti memindahkan toko bisa dengan mudahnya kau bilang, kalau aku bilang ingin buka toko di mall kamu apa kamu juga akan seringan itu menjawab. “Baiklah biar Han yang membereskannya.” Sepertinya memang akan semudah itu ya. Hiks.


“Baiklah, saya bisa pergi dengan Leela, dia akan jadi supir dan mengantarku ke toko.”


Puaskan! Kau mau mengikat leherku sampai sejauh mana heh.


“Nah begitu donk, kalau kau patuh, kau kan bisa hidup dengan damai.” Kecupan lembut di leher.


Berhenti menciumiku, kau tidak tahu malu ada orang berdiri di sana!


“Tapi dia hanya akan mengantarku ke ruko kan?Setelah itu apa dia bisa pulang.” Memastikan bahwa dia tidak akan di awasi 24 jam.


“Kau bisa menyuruhnya melakukan apa pun. Membantumu di toko juga tidak masalah.”

__ADS_1


Tuh kan, kau menjadikannya satpam 24 jam mengawasiku. Sebenarnya kamu kenapa si Tuan.


“Tapi gajinya.”


Saga menyentuh telinga Daniah sambil memainkan giginya gemas. “Aku ingin menggigitmu kalau kau banyak bicara lagi.”


“Maaf.” Daniah mengangkat tangannya melindungi telinganya.


“Kau dengar ini, lakukan semua yang nona katakan.” Bicara tanpa memalingkan wajah dari Daniah.


“Baik Tuan Muda.”


“Sekarang keluarlah!”


“Baik.”


Daniah mengikuti langkah kaki wanita muda itu sampai dia menghilang dari pintu. Kebebasannya sedang berjalan menjauh sama halnya dengan kepergian Leela.


“Sayang, tapi apa perlu sopir, aku benar-benar bisa pergi tanpa sopir, aku juga kan selalu kembali sebelum waktunya.” Masih berusaha memohon.


“Kau mau mulai lagi! Mau benar-benar kularang keluar rumah.”


“Tapi Jen juga tidak punya sopir dia bisa pergi dan pulang sampai malam sendirian.” Membandingkan fakta. Jen yang usianya lebih muda darinya. Jen yang masih berstatus mahasiswa magang. Jen yang jauh lebih cantik darinya. Jen yang punya seribu satu alasan untuk dilindungi dari pada dirinya.


“Kau membandingkan dirimu dengan Jen.” Mendorong Daniah sampai ambruk di sofa. Saga duduk di pinggir sofa sementara tangan kanannya ada di samping Daniah. “Jen tidak pernah ingin lari dariku. Jen tidak pernah menghilang dan membuatku khawatir!” setengah berteriak.


Khawatir, apa dia benar-benar khawatir padaku.  Atau hanya  karena aku menghilang waktu habis pesta ulang tahun ibu. Ini hukuman untukku. Karena sudah membuatnya susah. Hei, kenapa kau pendendam sekali!


“Sayang, tapi itu kan.”


“Masih mau membatah?”


Daniah menggigit bibirnya agar berhenti bicara.


Dia sudah mengancamku tadi, kalau aku membantahnya lagi dia benar-benar melarangku keluar rumah habislah aku.


Saga mendekatkan wajahnya, Semakin dekat membuat Daniah memejamkan mata.


Muah. Muah.


“Apa kau berdebar-debar sekarang? Kau bilang jantungmu ingin meledak kalau aku melakukan ini kan?” Ciuman tiba-tiba datang, Daniah tersengal lagi. Saga menghentikan ciumannya. Sekarang dia memberikan kecupan lembut tiga kali di bibir Daniah. “Buka matamu bodoh!”


Sialan! Kenapa aku bisa mengigau separah itu si.


“Katakan!” Daniah tahu apa yang ingin di dengar Saga. Dia terlihat mengepalkan tangannya.


“Aku mencintaimu sayang.”


Saga membelai rambut dan menyentuh telinga daniah. Memainkan daun telinga tipis yang mulai memerah itu.


“Ini terakhir kalinya aku menyuruhmu mengatakannya.” Mencium lembut bibit Daniah, lalu dia menjauhkan lagi wajahnya. “Tapi kalau kau mau mengatakannya sendiri nanti, katakanlah, jangan menahannya. Katakan kau mencintaiku dengan kemauanmu sendiri.”


Apa! mengatakan karena kemauanku sendiri, apa dia benar-benar ingin aku mencintainya.


Daniah memejamkan mata saat Saga lagi-lagi mendekatkan wajahnya.


Eh, kenapa? Kenapa dia tidak menciumku.


Daniah membuka mata perlahan, melihat Saga yang sudah berdiri di samping sofa tempatnya berbaring.


“Apa yang kau lakukan di sana?Huh! Kau ketagihan aku cium ya. Bangunlah! Aku lelah mau tidur sekarang.” Berjalan meninggalkan Daniah yang di selimuti malu. Dia menutup pintu pelan, lalu tergelak tanpa suara. “Kenapa dia lucu sekali.” Wajah malu Daniah yang memerah.


Apa! Apa! apa dia sedang menjahiliku lagi. Aaaaaaa................

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2