Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Kesal


__ADS_3

“ Apa! jadi kau tahu siapa dia dan


masih duduk di sini kencan bersamanya?” Ntah kenapa terbesit kemarahaan dalam


kata-kata Harun. Terlebih saat melihat senyum Aran yang sepertinya senang


berada di posisinya yang sekarang. Duduk makan malam berdua dengan bom waktu


yang kapan saja bisa meledak itu. Han hanya patuh pada Saga, di luar itu hanya


dianggapnya daun kering tidak berguna. Mau berjatuhan dan berserak di segala penjuru, tetap tidak dianggap berharga olehnya.


Laki-laki ini kenapa si. Aran yang


merasa binggung sendiri.


“ Nona, ambil ini.” Dokter Harun


mengeluarkan dompet, lalu menyerahkan selembar kartu nama miliknya. Aran meraihnya


lalu melihat sepenggal nama yang tertera. Wajahnya terlihat terkejut, saat melihat jabatan laki-laki di depannya ini.


Kepala rumah sakitXX. Dengan logo yang sangat jelas, milik Antarna Group. “


Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu, semacam tes mata atau perlu tes


kejiwaan. Gratis!”


Aku mau memastikan gadis ini tidak


buta dan juga tidak gila. Kejam sekali vonis dokter Harun, selama ini dia


memprediksi hanya gadis tak berdenyut nadinya yang akan berani mendekati Han.


“ Kenapa?”


Akukan tidak sakit mata atau  gila sampai butuh tes kejiwaan segala. Ya, aku


hanya kadang stress sedikit kalau lagi deadline novel dan di kejar jadwal update.


“ Kenapa? Kau masih bisa bertanya


seperti itu, saat aku mengatakan laki-laki yang duduk di depanmu ini monster


menakutkan.” Menuding wajah Han yang sama sekali tidak terusik dengan


kalimat-kalimat memojokan yang diucapkan Harun. Walaupun sedikit terlihat mata


sekertaris Han megeryit menahan jengah. Tapi dia masih membiarkan Harun berbuat


dan bicara sesukanya.


“ Haha, dokter. Sepertinya anda


salah paham.” Memukul bahu Harun, sudah sok akrab, sambil dibumbui tawa. Tidak


memperhatikan, mata sekertaris Han yang menatap tangan itu. Sudah seperti Saga


yang ingin mematahkan tangan laki-laki yang menyentuh Niahnya. “ Bukan Tuan Han


yang memaksa saya untuk pergi kencan. Tapi sebenarnya sayalah yang memaksanya.”


Hampir terjatuh Harun dari


duduknya, saat mendengar kalimat Aran. Otaknya langsung berusaha mencerna


dengan cepat.


Sudah tidak waras apa gadis ini,


memang ada yang bisa memaksa Han selain Saga.


“ Apa! Kamu yang memaksanya?” Mata


tidak percayanya menatap tajam. Menoleh pada Han yang sedang mengalihkan kesal


dengan menghabiskan makanan di piringnya.


Cih, dia tidak perduli begitu.


“ Haha, memang seperti itu. Saya


yang memaksanya.”


Hei, tunggu, siapa wanita ini sebenarnya! Bagaimana dia bisa memaksa Han duduk berkencan. Bukankah ini bisa masuk dalam keajaiban dunia.

__ADS_1


Harun giliran mulai tertarik dan


memperhatikan Aran. Bukan sebagai wanita aneh yang pergi kencan dengan Han.


Tapi sebagai perempuan, apa yang membuatnya spesial dan menarik. Pandangannya membuat


Aran malu, dia tersipu sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


“ Wahhh, karena saking terkejutnya


aku sampai tidak memperhatikanmu. Rambutmu mirip seperti punya kakak ipar ya.


Dan cara tertawamu juga manis.” Tidak perduli kalau kata-katanya sudah seperti


petir menyambar telinga sekertaris Han.


Kakak ipar! Siapa dia?


“ Dokter, apa anda tidak punya pekerjaan?”


Tidak bisa lagi diam, apalagi saat mata Harun mulai menatap Aran dengan


pandangan yang sedikit berbeda dari di awal tadi.


“ Hei, aku sudah bekerja seharian


penuh tahu. Jangan macam-macam.” Harun tahu, posisi Han di Antarna Group jauh


lebih tinggi darinya walaupun dia yang seorang kepala rumah sakit sekalipun. “


Jangan menambah pekerjaanku lagi.” Ancamnya kuatir.


“ Anda saja masih bisa keluyuran di


jam segini,  Sepertinya anda masih


terlalu banyak memiliki jam kosong ya?” Han meraih hp yang ada di dekat piring


makan yang sudah tandas isinya, sepertinya demi mengusir kesal dia benar-benar


menghabiskan makannya. Walaupun tidak tahu apakah dia menikmati atau tidak.


Demi melihat tangan Han yang sudah bergerak, Harun langsung bangun mengeser


Bisa habis aku, dia benar-benar mulai


kesal.


“ Aku mau bertemu Brian. Kami mau


membahas proyek penting.” Gerakan tangan  Han sudah benar-benar mengancam. “ Eh dimana hpku?” Han menjawab dengan


sorot matanya, menunjuk hp yang tergeletak di lantai.


Aku harus pergi sebelum dia


mengila.


“ Haha, di sana rupanya. Baiklah


aku tidak akan menggangu kencan kalian.” Ada garis bawah tebal saat dia


mengataakan kata kencan.  “ Aku akan


menemui Brian.”


“ Kalau begitu segera pergilah ke


atas tuan atau sebentar lagi anda bisa kembali ke RS untuk bekerja lagi”


“ Haha, Han aku tahu kamu cuma bercanda.”


Sialan! Kau sama sekali tidak


bercandakan? Kalau aku tidak kabur sekarang. Aku pasti tengelam dengan


pekerjaan selama sebulan ini tanpa bisa melihat matahari sore tenggelam.


Harun berjalan memungut hp tak


bersalah yang teronggok dilantai. Diusapnya benda itu ke baju “ Nona, hubungi


aku ya kalau nona butuh sesuatu.” Harun masih sempat mengedipkan mata menunjuk


kartu nama yang ada di atas meja. Sambil mendekatkan hp yang dia pegang di

__ADS_1


telinga. “Aku akan mengatakan apapun tentang laki-laki di depanmu itu.” Tertawa


saat Han berusaha membunuh lewat tatapan matanya.


Kabur!


Sampai dia menaiki tangga, Harun


masih membalikan kepala melihaat gadis yang duduk di depan Han.


Hah! Siapa gadis itu, bagaimana dia


bisa memaksa Han pergi kencan dengannya. Aku penasaran! Dia lumayan manis juga.


Sepeninggal Harun. Masih tersisa


banyak sekali tanda tanya di kepala Aran. Siapa laki-laki itu. Han bicara tanpa


terlihat terlalu hormat tapi tidak melewati batas. Dia masih memakai panggilan


atau sapaan sopan.


Tapi kenapa tuan Han terlihat


sangat kesal si. Aaaaaa, bagaimana aku bisa memulai bicara tentang kesalahanku


di masa lalu. Aku sudah kehilangan moment tadi saat laki-laki itu datang.


Aran menatap Han, dan berbarengan


mereka bertemu pandang. Gadis itu gelagapan dan meraih gelasnya. Mengusir tegang dan gejolak di dadanya.


“ Apa dokter Harun ini teman anda


tuan?” Aran mengambil kartu nama di atas meja dan membacanya. Nama dan


pekerjaan dokter Harun yang membuatnya menelan ludah takjub.


Posisinya tinggi sekali, apa dia teman


tuan Saga.


Han mengulurkan tangannya, tanpa menjawab dengan kata-kata pertanyaan Aran. “


berikan!” Tangannya mengantung di udara.


“ Apa ?” Binggung.


“ Kartu nama itu.” Han mengoyangkan tangannya.


“ Eh, kenapa? ini kartu nama  dokter.”


“ Berikan padaku sekarang!” Aran langsung


menyerahkan kartu nama di tangannya saat suara sekertaris Han merendah, artinya


dia kesal. Matanya masih mengikuti kartu nama itu, Han meremasnya dengan tangan kirinya.  Terdengar giginya mengeram. “ Jangan pernah


menghubunginya!”


“ Eh kenapa?” Tidak jadi bertanya


saat melihat situasi. Han hanya menjawab lewat sorot matanya. “ Baik.”


Cih!


Han meremas kartu nama itu. Lalu


menyobeknya menjadi serpihan dan di hempaskannya  ke lantai. Kertas-kertas kecil itu berserak.


“ Apa dokter Harun.”


“ Jangan menyebutkan namanya!”


Haaa, baik. Menyeramkan sekali. Aran langsung menutup mulutnya dengan tangan. Rapat terkunci. Hanya pikirannya yang bicara.


Kenapa si, mereka tidak terlihat


bermusuhan tadi. Walaupun adu mulut. Tapi mereka tidak terlihat bertengkar sungguhan. Bahkan dokter tadi masih membalas kata-katanya dengan tertawa. Tapi kenapa dia terlihat sekesal itu.


Aran kehilangan moment, sampai Han membayar tagihan dia belum bicara apapun. Bahkan dia hanya mengikuti langkah kaki Han dalam diam menuju tempat parkir, tidak berani bertanya sedikitmu.


Kenapa dia kelihatan kesal sekali begitu!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2