Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
126. Kencan (Part 3)


__ADS_3

Acara selanjutnya dari kencan yang


diatur Daniah adalah menonton film. Tentu saja dia memilih ini, karena


biasanya orang kencan selalu melakukan ini kan. Menonton berdua, ditemani film


yang entah apa, tapi tetap saja keluar dari bioskop dengan perasaan bahagia. Bergandengan


tangan sambil malu-malu. Pura-pura menikmati film, padahal di dalam gedung


bioskop tadi hanya memastikan debaran hati mereka tidak terdengar.


Mereka sudah terlibat pembicaraan


cukup panjang di depan loket karcis. untung saja tidak ada yang mengantri di belakang mereka. Penjaga karcis tampak bingung. Tapi dia menikmati tontonan di depannya. Habis laki-lakinya ganteng banget si, begitu pikirnya menghibur diri. Dia agak berfikir cukup lama, mengingat-ingat di mana pernah melihat wajah Saga. Tapi sepertinya dia tidak berhasil menemukan petunjuk apa-apa.


“Mana ada orang yang menyewa


seluruh bioskop untuk nonton berdua!” Daniah mulai kesal. Mana ada orang gila


yang menghambur-hambur kan uang sampai segitunya. Tidak ada yang akan


melakukannya. Kecuali lagi syuting film.


Atau dilakukan yang mulia Tuan Saga.


“Aku tidak mau ada orang yang


duduk di sampingmu!” Tidak kalah kesal. Daniah mulai merenggut mendengar


perkataan Saga. “Baiklah, aku hanya akan membeli satu baris kursi. Jangan


protes lagi, itu sudah standar terendah toleransiku.” Begitu katanya


bernegosiasi. Jelas-jelas ini bukan negosiasi tapi final keputusannya.


Akhirnya Saga membeli satu baris


kursi. Itu pun dia lakukan dengan sangat terpaksa. Walaupun sebenarnya di jam


segini memang tidak terlalu banyak yang menonton. Setelah selesai urusan


karcis, sepertinya masih harus menunggu beberapa menit lagi pintu dibuka. Membuat


mereka berjalan menuju area penjualan makanan.


“Beli popcorn dan cola sayang.”


“Apa itu?” lagi-lagi bertanya


tidak tahu apa-apa.


Daniah tergelak, dia menunjuk stand


makanan yang ada tidak jauh dari mereka duduk. Terlihat beberapa antrian, ada


laki-laki dan perempuan juga yang terlihat mengantri di sana.


“Camilan untuk kita nonton nanti”


Camilan lagi, bukannya barusan


makan. Memang wajib apa makan popcorn sambil nonton, makan buah aja sana. Saga


mulai kesal dengan kencan ala rakyat biasa ini.


”Sayang saat kamu mengantri nanti,


balikan badanmu, lihat aku dan lambaikan tanganmu ya.”


“Kenapa? Kurang kerjaan.” Meraih dagu


Daniah. “Jangan aneh-aneh ya, mau aku menciummu di sini karena kesal.” Ancamnya.


“Cek, cek.” Daniah berdecak dengan


mulutnya. Menyentuh tangan Saga yang belum diturunkannya. Sejujurnya Daniah


takut kalau laki-laki di depannya benar-benar akan menciumnya.  “Sayang, kamu benar-benar tidak tau apa-apa


tentang kencan ya. Lihat itu!” Daniah menunjuk seorang laki-laki yang sedang dalam


antrian membeli makanan. Dia berbalik dan melambaikan tangan pada seorang


wanita yang sedang berdiri di kejauhan.  Lihat kan, begitu caranya.”Daniah bernafas lega, ketika ada adegan


norak yang baru dia katakan.


Cih


Pergi meninggalkan Daniah.


Mengantri. Di depannya ada dua laki-laki yang juga sedang menunggu giliran.

__ADS_1


Tunggu, tadi bagaimana prosesnya ya.


Aku pesan dulu baru berbalik melambaikan tangan. Atau aku berbalik dulu dan


melambaikan tangan baru pesan. Sial, kenapa aku tidak konsentrasi begini.


Sambil berdebat dengan pikirannya


Saga mulai mengawasi dua laki-laki di hadapannya.


Aaaa, ternyata pesan dulu baru


melambaikan tangan. Tapi kenapa laki-laki di depanku ini tidak melakukannya.


Haha, mungkin dia jomblo dan sedang menonton film sendirian. Kasihan. Tapi dia


pesan dua minuman. Terserahlah. Menghentikan perdebatan dengan dirinya sendiri.


Laki-laki di depannya sudah menyelesaikan


pesanan, langsung berlalu. Tanpa melakukan adegan berbalik dan melambaikan


tangan.


Pesan, berbalik, lambaikan tangan. Pesan,


berbalik, lambaikan tangan. Di ulang beberapa kali di kepalanya seperti merapal


mantra.


“Selamat siang Kak.” Bengong,


menatap Saga, dia bahkan tidak menyelesaikan kalimatnya. Menawarkan mau memesan


apa  pada pelanggannya.


“Nona!” Saga setengah berteriak


sampai wanita di depannya terjaga dari hipnotis wajahnya. “Apa saya sudah bisa


memesan.” Dia mengetuk meja beberapa kali dengan jarinya. Seperti berkata, saya


sudah menunggu Anda bengong dan menatap saya cukup lama tahu.


“Maaf Kak, maafkan saya.” Menunduk


malu. “Silahkan mau pesan apa?”


Saga menunjuk foto makanan yang dia


Tapi dia tidak berani melirik lagi pelanggannya.  Lalu ia menyiapkan apa yang dipesan Saga.


Cukup cekatan rupanya. Setelah kesalahan terbengong di beberapa saat tadi


sepertinya dia cukup tau diri kalau pelanggannya merasa kesal.


“Silahkan Kak. Ada lagi.”


“Tidak.”  Saga mengambil satu cup soda ukuran besar,


dan popcorn juga dalam size besar. Dia meletakkannya di tangan mendekapnya di


dadanya. Berbalik, berjalan ke arah Daniah. Langkah kakinya terhenti. Wajahnya langsung


berubah kesal tanpa sebab.


Sial! Bagaimana aku bisa melewatkan


hal penting tadi. Dia berbalik menatap wanita yang melayaninya. Gara-gara kesal


karena dia bengong aku jadi tidak konsentrasi.


Saga membanting makanan dan


minumannya di atas meja. Di depan Daniah. Gadis itu hanya melihat saja yang di


lakukan Saga.


“Sayang. Mau kemana lagi.” Bertanya


dengan suara keras karena Saga sudah berjalan meninggalkannya. Laki-laki itu


berbalik mendekat.


“Mau pesan lagi.” Suaranya terdengar


kesal sekali.


“Kenapa?” Padahal dia sendiri lupa


dengan adegan yang disarankannya tadi, dan dia sedang sibuk dengan hpnya


membalas chat dengan Tika tentang transferan uang ke supplier.

__ADS_1


“Aku kan belum berbalik dan


melambaikan tangan padamu!” Berteriak sambil menunjukan wajah kesalnya. “Karena pelayan tadi bengong aku jadi kehilangan konsentrasi di sana. Tunggu di


sini.” Saga sudah beranjak meninggalkan Daniah lagi.


Apa! Aku bahkan lupa adegan itu. Tuan


muda kau kan tidak perlu melakukannya lagi.


Tapi sungguh Daniah menikmati


kekonyolan itu. Apalagi saat Saga melambaikan tangannya sambil tersenyum secerah


mentari. Daniah pun membalasnya dengan sama antusias dan cerahnya. Lalu


laki-laki itu tertawa dengan sangat bahagia membawa makanan dan minuman yang ia


pesan. Keberhasilannya menyelesaikan misi luar biasa.


Lagi-lagi Daniah bertepuk tangan


kecil menunjukan apresiasinya. Dan lagi-lagi Saga membusungkan dada karena


keberhasilannya.


Dua porsi rasanya sangat


berlebihan. lebih-lebih Saga pasti tidak akan ikut memakannya. Akhirnya porsi


satunya lagi di ambil Sekretaris Han yang dengan tidak tahu malunya membuntuti


sampai di depan bioskop. Dia benar-benar berperan dengan sangat baik sebagai


sopir yang tidak punya kerjaan.


Pintu sudah terbuka. Mereka


memasuki bioskop. Sebentar lagi film akan di putar. Saga dan Daniah duduk di


tengah, sementara kursi sebaris dengan mereka kosong. Hanya ada laki-laki yang


begitu menghayati perannya itu. Duduk berselang tiga bangku dari Daniah. Menjadi


pelindung Daniah dari pandangan orang lain dari bagian kanan.


“Sayang mau.” Iseng Daniah


menyodorkan gelas sodanya. Sambil matanya menatap lurus ke layar besar di


depan.


Tidak terduga saga mengigit


sedotan. “ Kau ketagihan berbagi bibir denganku ya?” meminumnya.


Apa! jadi ini niatan terselubungmu


membeli  hanya segelas soda.


***


Saga sudah selesai mandi dan keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Libur seharian sepertinya dia harus membereskan beberapa urusan. Sopir kurang kerjaan sudah kembali normal menjadi Sekretaris Han. duduk di sofa dengan laptopnya. Juga sedang menyelesaikan urusannya yang tertunda.


Sementara Daniah baru keluar dari kamar mandi, dia berendam cukup lama dengan air hangat dan aromaterapi. memijat kakinya perlahan agar rileks.


Kakiku pegal sekali, kaki Tuan Saga bagaimana ya. Aaaaaa, jangan minta pijat padaku nanti. aku akan pura-pura pingsan kalau dia minta pijat. Pokoknya, sumpah, aku mau pura-pura pingsan. Kalau berani. haha.


Daniah mematung di depan lemarinya. Dia membuka satu pintu lemari lagi. Menarik laci. Kemudian memeriksa lemari kaca tempat meletakan perhiasan yang tidak pernah dia pakai kecuali sedang menghadiri pesta. itu pun sangat jarang sekali.


Dia tidak membeli semua kan, semua barang yang ku sentuh tadi.


Daniah memeriksa semua lemarinya sekali lagi, mengingat-ingat semua benda yang tadi dia sentuh dan menarik perhatiannya. Terduduk dia di kursi. Dia melihat semua benda yang dia pegang tadi tanpa terlewatkan satu pun.


Aaaaa, bagaimana aku tidak mencintaimu kalau kamu sebaik dan seperhatian ini padaku tuan muda. Daniah kau harus tetap tau diri.


Daniah kembali mengingatkan dirinya untuk jangan terlalu serakah. Bagaimanapun perasaan Saga sebenarnya masih seperti kaca buram baginya. Sebelum laki-laki itu mengatakan secara langsung padanya.


Epilog :


Sekretaris Han memasuki toko.


"Maaf barang apa saja yang dilihat dan di tunjuk nona muda yang memakai topi tadi."


mereka terlihat bingung saling bertanya. Siapa nona muda yang di maksud.


"Kalau wanita yang bersama laki-laki ini." Han menyodorkan hpnya. Menunjukan wajah Tuan Saga.


"Ooohhh tuan yang tampan tadi." Mereka lalu ingat semua.


Hanya dengan menunjukan foto Tuan Saga tidak ada yang tidak di ingat para karyawan tadi, tentang barang yang disentuh wanita yang bersamanya.


Cih, apa perlu seperti ini. padahal jelas-jelas nona sengaja tadi hanya jalan-jalan masuk ke toko tanpa membeli apa pun untuk membuat Anda kesal saja.

__ADS_1


Tapi akhirnya Han berhasil membeli semuanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2