
Siang hari, ketika cuaca terik di
luar gedung membakar udara. Aktivitas rumah sakit yang bergerak dengan cepat.
Dokter, perawat dan semua tenaga medis sedang bekerja sesuai dengan tanggung
jawab mereka masing-masing. Menjadi perantara orang sakit memperoleh
kesembuhan.
Di sebuah ruangan paling VVIP di RS
terbesar di ibu kota ini. Tempat yang hanya bisa di masuki dengan izin khusus
presdir Antarna Group secara langsung. Dokter dan perawat khusus di siagakan 24
jam di ruangan itu. Untuk merawat dan menjaga kestabilan seorang pasien.
Laki-laki dengan wajah ramah yang sudah termakan usia. Sedang tertidur di
tempat tidur dengan banyak selang penyambung hidup yang menempel di sekujur
tubuhnya. Jika tidak ada kesemua alat itu, bisa jadi laki-laki itu tidak bisa
menghembuskan nafas lagi. Dia masih hidup karena bantuan alat-alat itu.
Dan siang itu Saga sedang duduk di
samping laki-laki tua itu, mengenakan pakaian khusus, Dia menyentuh
tangan keribut pucat itu. Memijatnya perlahan.
“ Paman, aku datang.” Memijat
lembut tangan tua yang tidak bergerak itu. “ Hari ini paman semakin baikkan?”
memijat lembut. “ Jangan pergi meninggalkanku. Jangan pergi paman.” Seperti
bocah kecil yang sedang merengek pada orangtuanya. “ Kalau paman juga pergi,
lalu aku bagaimana.” Saga menjatuhkan kepalanya di atas tempat tidur. Meletakan
tangan paman di atas kepalanya. Mengerakannya, seperti dulu laki-laki itu
selalu menyentuh kepalanya lembut. “Jangan pergi paman.” Airmata menetes berjatuhan,
membasahi tempat tidur. Saga terisak pelan.
Karena tidak bisa melepaskan
kepergian laki-laki tua itu Saga melakukan segala macam cara yang ia bisa. Mendatangkan
banyak dokter spesialis dari manca
negara. Berteriak marah, memaki bahkan mengancam semua dokter yang merawatnya.
Dia melakukan hal gila untuk menjaga laki-laki yang ia panggil paman itu untuk
tetap hidup. Mungkin dia egois, tapi dia benar-benar tidak mampu menopang
kakinya jika sandaran hidupnya itu juga pergi meninggalkannya. Setelah
kepergian Han, dia benar-benar mengantungkan dirinya pada paman.
“ Kalau sampai terjadi apa-apa pada
paman. Keluar semua dari RS ini. Kalian benar-benar tidak berguna!” Hari ini
pun sebelum masuk ke dalam ruangan ini dia mengamuk di depan para dokter yang
merawat paman.
“ Saga, kami sudah melakukan semua, yang bisa kita lakukan adalah menunggu datangnya keajaiban. Paman sudah berjuang keras selama ini dalam
__ADS_1
hidupnya. Biarkan dia pergi dengan tenang Saga.” Dokter Harun takut-takut
bicara.
“ Tutup mulutmu!” Saga melemparkan
berkas kerja laporan perkembangan kesehatan paman di meja. Mengenai tubuh
dokter yang sedang berdiri di depannya. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan
Harunpun diam membeku. Saat ini Saga sangat sensitif. Dia semakin sering
mengila karena perkembangan kesehatan selalu menunjuk grafik penurunan.
Saga mendesah kesal mengingat
kejadian beberapa waktu lalu, kemudian mengangkat kepalanya lagi. Menghapus
sisa airmata, lalu memijat tangan
keriput. Kemudian dia bicara, mengalirlah cerita. Tentang perusahaan, tentang
ibu dan adik-adiknya. Seperti bocah sepulang sekolah bercerita tentang
sekolahnya pada orangtua mereka. Tidak perduli apakah orangtua mereka
mendengarkan atau tidak, yang pasti dia menceritakan semuanya. Sesekali dia
tertawa sambil bicara, Apa paman ingat ini. Apa paman ingat itu. Ayo kita pergi
ke kotaXX dan makan ikan bakar kesukaan paman. Terakhir kata-kata itu terucap
dengan kegetiran.
“ Jangan pergi meninggalkanku paman.
Bukankah paman berjanji pada ayah menjagaku sampai akhir. Aku takut sendirian.”
benar-benar tidak menampakan dirinya, setelah dia menghilang dan pergi.
Saga sempat memerintahkan orang
untuk mencari tahu bagaimana keberadaan Han, tapi seperti debu, dia terbang
tidak tahu kemana. Hingga tidak ada informasi sama sekali. Dia seperti hilang
di telan bumi, kemanapun dia pergi tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Ketukan pintu menghentikan semua pikiran
Saga. Dia menyeka ujung matanya. Selama ini dia hanya menunjukan wajah
menyedihkannya di depan paman, di hadapan yang lain dia akan terlihat tegar,
gagah dan dingin.
“ Kenapa? Apa kau tidak mendengarku
bicara tadi. Jangan mengganguku saat aku sedang bersama paman!” Saga membuka
pintu ruangan khusus, langsung mendapati pengawal di depannya terdiam dengan
wajah pucat.
“ Maaf tuan muda.”
“ Katakan!”
Pengawal itu semakin bertambah
pucat.
“ Sekeraris Han meminta untuk
__ADS_1
bertemu tuan. Dia sedang menunggu di luar.” Wajah Saga langsung berubah. Dia
mendorong tubuh pengawal yang sedang berdiri di depannya. Mencengkram kerah
jasnya.
“ Kau masih bertanya? Seret dia
keluar dari RS ku!” Suara teriakan Saga pasti terdengar sampai ke luar ruangan.
Kalau Han sedang berdiri di depan pintu dia pasti mendengarnya.
Saga menatap kaca transparan tempat
paman terbaring setelah kepergian pengawalnya. Dia mendesah. Menyentuh kaca transparan itu.
Walaupun Han adalah anak paman,
tapi dia sudah jadi pengkhianat bagi kitakan. Dia pergi meninggalkan kita. Jadi
jangan marah kalau aku tidak mengizikannya menemuimu ya paman.
Dia berjalan menuju sofa,
menjatuhkan tubuh. Menyandarkan kepala. Mengusap penat di kepalanya saat wajah
Han melintas. Kepergiannya yang tiba-tiba, semakin hari dipikirkan Saga semakin
membencinya. Kalau Han benar-benar muncul di hadapannya sekarang, bisa saja dia
tidak akan mampu menahan dirinya. Sekalipun itu di hadapan paman.
Pintu ruangan VVIP terbuka. Saga
mendengarnya, tapi tidak menoleh. Dia masih memejamkan mata sambil menyandarkan
kepala. Berfikir mungkin hanya pengawalnya yang tadi.
“ Dia sudah pergi?” Masih
memejamkan mata. Diam tidak ada sahutan. Membuat Saga menoleh dan menggangkat kepalanya. Kemarahan langsung berkobar di matanya ketika mendapati siapa yang sedang berdiri di depannya. "Beraninya kau muncul di hadapanku." Vas bunga di meja di sambar Saga, Jatuh ke lantai pecah setelah membentur bahu Han yang sama sekali tidak bergerak menghindar.
" Saya senang bisa melihat tuan muda lagi."
" Tutup mulutmu! kau sudah bosan hidup ya?" Menoleh sekilas ke kaca transparan. " Sudah kukatakan jangan pernah kembali sekalipun itu hari pemakaman paman. Dan sekarang, beraninya kau muncul di depanku saat paman bahkan masih hidup." Saga sudah mendekat, mencengkram kerah jas Han. Mendorongnya kuat. Tangannya terkepal bergetar setelah pipi kanan Han terlihat memar. Ada darah menetes di ujung bibirnya.
Sialan! kenapa tanganku yang sakit!
Saga terlihat mengumpat lalu berjalan ke sofa. Menatap Han yang masih berdiri di tempatnya tadi. Tidak ada yang berubah dari laki-laki di hadapannya itu. Wajah dinginnya, tinggi tubuhnya. Dia masih sama. Penghianat yang dirindukan oleh hatinya.
" Penjaga!" Teriakannya membuat pintu terbuka pelan. Dua orang masuk. " Seret dia keluar dari hadapanku!" Kedua pengawal yang baru masuk itu saling pandang tapi belum berani bergerak sedikitpun. Han mengangkat tangannya mengisyaratkan agar kedua pengawal itu keluar. " Mereka bahkan lebih takut padamu". Saga menatap ke dua pengawalnya, dua orang itu memang bawahan langsung Han selama dia di Antarna Group. " Keluar!"
Setelah kedua pengawal itu keluar Han berjalan mendekati sofa. Melihat kaca transparan dimana ayahnya terbaring tidak berdaya. Setelah beberapa detik dia berjalan mendekat. Langsung duduk berlutut seperti yang dia lakukan saat kepergiannya.
Cih. Saga mendengus melihatnya. " Kau pikir aku akan menerima penghianat sepertimu hanya karena kau berlutut memohon." Dingin.
" Terimakasih sudah hidup dengan baik tuan muda." Han menundukan kepalanya. "Terimakasih sudah hidup dengan kuat dan berani selama saya pergi."
" Beraninya kau!"
" Sekarang saya sudah kembali, saya mohon biarkan ayah saya beristirahat."
Apa-apaan ini! mungkin itu yang muncul di kepala Saga. Beraninya dia kembali dan bicara omong kosong tentang membiarkan paman pergi. Saga mengeram kesal.
" Tutup mulutmu Han, memang kau pikir siapa dirimu bicara omong kosong. Kau yang pergi meninggalkanku dan paman!" Dan sekarang kau seenaknya datang berharap semua baik-baik saja. Kemarahan itu kembali berkobar.
Han masih terdiam dengan posisinya. Membiarkan waktu bergulir. Membiarkan kemarahan Saga sedikit menguap. Walaupun dia tahu, kalau dia tidak menjelaskan kesalahpahaman ini akan terus berlanjut.
Ayah kau benar-benar sangat pintar menyimpan rahasia ya? sampai akhir kaupun tidak mengatakan alasan kepergianku. Kau benar-benar jauh lebih sayang pada tuan muda dari pada aku.
Bersambung
__ADS_1