Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
96. Kepanikan Saga


__ADS_3

Ruang tunggu privat Bandara.


Guyuran hujan deras tidak berhenti dari siang, beberapa kali kilat besar menyambar. Menyisa gelegar di angkasa. Awan juga masih menggelap di beberapa sudut kota termasuk di atas bandara. Hari ini alam sedang menangis cukup lama. Membuat rencana Saga buyar dalam kemarahannya.


“Kenapa ini?” Saga mencengkram jas Sekretaris Han kesal. “Aku harus kembali sekarang.” Melepaskan dan mendorong tubuh Han. Lalu dia menghempaskan tubuh ke atas sofa dengan sangat kesal.


“Maafkan saya Tuan Muda, cuaca sedang buruk sekali. Landasan pacu terendam air cukup parah. Kita tidak bisa lepas landas, itu akan membahayakan keselamatan Anda. Dan saya tidak akan mengambil resiko jika menyangkut keselamatan Anda.” Han bicara sama tenangnya seperti biasanya. Akhir-akhir ini perbuatan paling gila yang dilakukan tuannya sudah bisa dia tanggapi dengan hanya helaan nafas ringan.


Dia laki-laki yang sedang dimabuk cinta, biarkan dia melakukan apa pun yang dia suka.


“Sialan, kamu tahu kan ini hari penting apa.” Mengeram kesal lagi, sambil memandang jendela. Melihat guyuran hujan yang membanjiri bumi.


“Maaf Tuan Muda.”


Minta maaf saja, asal membuat suasana hatinya lebih baik.


Cuaca yang memburuk membuat semua jadwal penerbangan ditunda keberangkatannya. Pesawat komersil berbadan besar saja dilarang apalagi pesat jet pribadi. Bandara sedang di penuhi penumpang yang kesal karena penerbangan mereka tertunda. Berbeda mereka yang menunggu dalam ruangan yang ramai Saga sendiri berada di ruangan yang sangat nyaman. Tapi tentu itu tidak bisa mengusir gelisah yang dirasakannya. Dua orang pelayan masuk membawakan hidangan mewah, sama sekali tidak diliriknya. Pikirannya hanya satu. Pesta ibunya dan bagaimana Daniah di sana.


“Bagaimana kereta. Kita pulang naik kereta saja.” Agak bersemangat bicara, padahal idenya ide gila yang segera mungkin dibantah Han.


“Kita akan sampai besok kalau naik kereta.”


Saga menendang udara kesal.


“Bagaimana kalau kita naik mobil sekarang!” Bangun dari duduk. “Siapkan mobil sekarang Han.”


Berhentilah berfikir Tuan Muda, sudah duduk saja.


Han tidak menjawab dengan kata-kata, hanya gelengan m kepala yang mewakili suasana hatinya.


“Cih, ternyata ada yang tidak bisa kamu lakukan juga ya. Ternyata kamu memang manusia ya.” Mengomel kesal, meluapkan emosi.


Memang Anda pikir selama ini saya apa! Bicara saja sesuka Anda Tuan Muda.


“Bagaimana keadaan Daniah di sana?”Han terdiam tidak mau semakin memancing kemarahan majikannya. Karena kalau dia menjawab update suasana pesta sekarang, laki-laki di hadapannya ini pasti akan berfikir tentang ide gila lagi. Mungkin kali ini dia ingin minta alat teleportasi. “Kau mau aku menghancurkan tempat ini karena kesal!”


Lihatkan, belum dijawab saja sudah emosi.


“Saat ini Nona Jenika dan Nona Sofia sudah bersama nona Daniah Tuan Muda. Kita tunggu .”


“Aaa, sial. Kenapa harus ada perjalanan keluar kota di hari sepenting ini. Dia pasti menungguku. Seharusnya aku muncul di hadapannya dengan keren, menciumnya dan menunjukan pada semua orang siapa statusnya. Aaaa, memikirkannya saja sudah membuatku sangat kesal.” Saga sudah tidak tahan, dia menjatuhkan tumpukan buku di atas meja di sampingnya dengan marah.


“Maafkan saya Tuan Muda.”


Silahkan lakukan apa pun yang membuat Anda bisa tenang.


Hari ini Saga dan Han harus melakukan perjalanan ke luar kota untuk menghadiri peresmian salah satu pabrik tekstil di kota sebelah. Sebenarnya kalau cuaca sedang normal tidak sampai setengah jam dengan menggunakan pesawat pribadi dia sudah bisa bolak balik. Semuanya sudah sesuai jadwal, dia bisa datang menghadiri ulang tahun ibunya. Sebenarnya ulang tahun ibunya tidak terlalu penting, tapi pada momen itulah dia ingin mengenalkan Daniah pada masyarakat. Status Daniah sebagai wanita yang dia cintai, bukan hanya statusnya sebagai istri Presdir Antarna Group.


“Han.” Menendang kaki Han di depannya yang sedang melihat hujan di luar jendela.


“Ia Tuan Muda.” Menoleh sigap.


“Sampai kapan kau akan membereskan masalah Ele. Bukankah seharusnya ini sudah diambang batas kesabaranmu.”


Dia tahu kan aku memang sudah sangat kesal pada mantannya yang menyusahkan itu.


“Karena nyonya masih mendukungnya saya pikir akan membereskannya setelah pesta ulang tahun.”


Tidak, saya akan membiarkan dia sekali lagi tampil di publik bersama Anda pada saat peresmian Danau Hijau.


Tapi Han akan menyimpan rencana itu sampai waktunya tiba.


“Bagaimana kalau Daniah menangis di sana.”  Berhenti membahas Ele dan kembali panik mengingat istrinya di pesta ibunya. Saga bangun, mondar-mandir dan menendang sofa.

__ADS_1


“Nona muda tidak akan secengeng itu Tuan.” Han menjawab.


“Cih, kau benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Daniah ya.” Mencibir. “Di awal pernikahan dia sering menangis diam-diam di lemari pakaian tahu. Memang hanya aku yang tahu pasti tentang istriku.”


Kenapa Anda membanggakan itu, itu kan karena Anda dulu sering menyiksa Nona Daniah dengan kata-kata Anda. Apa saya boleh bilang, kalau Anda tidak tahu malu membanggakan hal begituan.


“Menurutmu kapan momen yang pas aku menyatakan perasaanku padanya, ahhh, sial, sial, seharusnya dunia tahu hari ini. Seharusnya Daniah tahu hari ini. Tapi aku malah terkurung di tempat ini?”


“Perasaan apa?” menjawab datar.


“Perasaan apa. Ya perasaan cintalah.” Saga melemparkan bantal ke wajah Han, membuat sekretarisnya tergelak. “Jangan pura-pura bodoh kalau kau tidak menyadari aku menyukainya.”


“Haha, ia maafkan saya Tuan Muda.”


Bagaimana saya tidak menyadari, kalau Anda jadi sebodoh ini karena jatuh cinta.


“Apa Anda mau saya menyiapkan kejutan yang romantis setelah peresmian Danau Hijau. Pesta kecil untuk kalian berdua.” Mengambil bantal yang tergeletak di lantai, dan menempatkannya di tempat semula.


“Sepertinya bagus juga. Tapi yang pertama, bawa aku keluar dari kota ini dulu!” berteriak kesal, sadar kembali sekarang berada di situasi seperti apa. “Mana hpku.”


Han menyerahkan hp dari saku jasnya. Di sambar Saga, dan dia langsung menghubungi Jenika.


“Kak Saga, Kakak di mana?Kakak datang kan?” suara panik di sana.


“Apa yang dilakukan kakak iparmu? Apa dia menangis sekarang.” Suara Saga terdengar sangat khawatir.


“Apa menangis. Tidak, tapi dia benar-benar menunggumu. Kak Saga ada di mana?”


“Sial. Tetap ada di sampingnya sampai acara selesai.” Tidak menjawab pertanyaan Jenika sama sekali.


“Kak Saga akan datang kan?” Panik meminta kepastian, lebih panik lagi ketika Saga memutuskan sambungan tanpa penjelasan berarti apa pun.


Sudah akan membanting hp di tangannya karena kesal, tapi karena benda kecil berbentuk bintang dia malah mencium benda itu.


Han mendekat ke arah jendela mengetikan beberapa pesan di hpnya. Memastikan semua berjalan dengan semestinya.


“Tuan Muda sebaiknya Anda makan malam dulu.” Han mendekat ke arah meja makan.


“Makan! Kamu pikir aku bisa makan sekarang.” Marah.


“Demi Nona Daniah Anda harus makan kan? Nona juga pasti sedang makan malam sekarang. Anggap saja kalian sedang makan bersama di belahan dunia yang berbeda.”


Maaf Nona, saya memakai nama Anda seenaknya.


“Jangan bicara sembarangan.” Tapi dia bangun dan mendekati meja makan, menunjuk beberapa hidangan yang mengundang selera. Lalu duduk dan menikmati makan malamnya. Konsep makan malam bersama di belahan dunia yang berbeda membuatnya tersenyum, mengulangi kata itu di hatinya.


Hujan berhenti pada akhirnya di malam hari. Petugas bandara membersihkan sisa genangan air agar landasan pacu bisa segera di gunakan. Saga sudah berada di dalam pesawatnya menunggu untuk lepas landas.


Pesta sudah berakhir.


Dia memejamkan mata sepanjang perjalanan, mengusir rasa kesal yang teramat sangat. Hari ini rencana memperkenalkan Daniah pada masyarakat gagal. Dan bisa jadi hari ini dia telah membuat istrinya kecewa karena dia tidak muncul.


Harusnya malam ini jadi hari paling romantis. Sial!


... ***...


Mobil berhenti di pintu masuk, Saga keluar bahkan sebelum Han keluar dari mobil. Pak Mun sudah menunggu di dekat pintu masuk. Dia langsung mendekat saat Saga keluar dari mobil.


“Di mana Daniah?” Pak Mun sudah terlihat gelisah. “Di mana dia Pak?” bertanya dengan suara keras.


“Nona muda belum kembali dari pesta.”


Saga mencengkram kerah pakaian Pak Mun. “Apa yang kalian lakukan hah. Pengawal sebanyak ini, bagaimana kalian bisa kehilangan istriku.” Ingin rasanya dia memukul Pak Mun. Tapi pikirannya masih bisa dipakai sehingga dia melepaskan kerah baju yang dicengkeramnya.

__ADS_1


“Maafkan saya Tuan Muda sudah mengecewakan Anda.” Membungkukkan kepalanya dalam sambil mengikuti langkah Saga masuk ke dalam rumah.


“Jen dan Sofi di mana?”


“Ada di kamar.”


“Panggil mereka.”


Han yang bergerak duluan sebelum Pak Mun, dia berjalan cepat menuju kamar Jenika dan Sofia. Selang tidak lama mereka sudah muncul bersamaan. Jen dan Sofi langsung duduk bersimpuh di hadapan Saga.


Tuan muda sedang sangat luar biasa marah karena Nona Daniah menghilang dan belum kembali. Minta maaf dan jawab pertanyaannya dengan benar kalau kalian tidak mau mendapat masalah lebih besar. Ucapan Sekretaris Han sepanjang menuruni tangga.


“Bodoh! Kenapa kalian meninggalkan kakak ipar kalian sendirian?”


“Maafkan aku Kak. Kakak ipar bilang mau pergi mencari angin sebentar, jadi aku membiarkannya pergi dengan mobilnya sendiri. Maafkan aku, aku sudah menelepon kakak ipar beberapa kali tapi tidak diangkat. Maafkan aku Kak.”


Saga mengeram kesal.


“Masuk ke kamar kalian, jangan tunjukan wajah kalian sebelum kakak ipar kalian kembali.”


“Maafkan kami Kak.”


Han menggelengkan kepalanya cepat, mencegah Jenika bicara lebih banyak. Dia menempelkan jemari telunjuknya di bibir. Diam dan pergi ke kamarmu. Begitu arti isyaratnya. Jen dan Sofi bangun lalu menyeret kaki mereka menaiki tangga.


Aaaa, ternyata ini perasaan tidak nyaman tadi. Bodohnya aku! Kenapa aku membiarkan kakak ipar tadi.


“Han, kau tidak mungkin tidak memasang alat di hp atau mobil Daniah kan?” memegang Bahu Han kuat. “Jangan mengecewakanku sekarang,”


Cih, aku memang harus segila itu untuk meladeni lelaki yang sedang jatuh cinta kan. Tapi kenapa harus secepat ini.


Han mengambil hpnya, sementara Saga belum melepaskan tangannya.


“Lacak posisi Nona Daniah sekarang, hpnya masih aktif sampai sekarang.” Diam sebentar. “Baiklah, bawa ahli kunci dan mobil patroli polisi untuk pengamanan. Sepertinya kita akan membobol gedung milik nona.”


Saga melepaskan tangannya, dia sudah bisa bernafas lega.


“Tunggu apa lagi, ayo pergi sekarang!”


“Apa Anda tidak mau mandi dan ganti baju dulu Tuan Muda, sudah seharian Anda memakai pakaian ini kan.”


“Apa itu masih penting sekarang!” berteriak di telinga Han kesal.


“Tentu saja, Anda kan akan bertemu Nona Daniah.”


Sial, benar juga. Aku tidak mau muncul dengan penampilan kumal dan bau asam begini kan.


“Pak Mun bantu aku bersiap.”


“Baik Tuan Muda.”


Saga bergegas menaiki tangga, yang diikuti Pak Mun di belakangnya.


Nona, Anda benar-benar jadi senjata ampuh menjinakkan tuan muda.


Pesan di terima.


“Mobil Nona Daniah ada di depan ruko, dan lampu lantai dua ruko menyala. Apa Anda mau saya membuka kunci sekarang.”


“Tidak, tunggu Tuan Saga datang.”


Karena drama malam ini masih akan berlanjut. Aku juga ingin mandi air hangat.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2